MIU Login

Peserta I-YES 2026 Bahas Budaya, Bahasa, dan AI dalam Parallel Session

HUMANIORA – (28/9/2026) Rangkaian International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berlanjut melalui International Student Forum: Parallel Session, yang mempertemukan peserta internasional dalam ruang diskusi akademik dengan beragam perspektif budaya, kebahasaan, dan pendidikan.

Read too:

Kegiatan parallel session diselenggarakan di tujuh ruang kelas secara bersamaan. Masing-masing ruang menghadirkan 1 moderator serta presenter yang berasal dari peserta internasional I-YES 2026. Format seminar paralel tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan gagasan sekaligus berdialog secara langsung dengan peserta lainnya.

Salah satu sesi berlangsung di Ruang ARI.Y.203 Faculty of Humanities. Ruang tersebut dipadati 29 peserta dengan sekitar tujuh hingga delapan presenter, termasuk tiga peserta internasional yang berasal dari Nigeria, Madagaskar, dan Timor-Leste. Beragam topik yang disampaikan memperlihatkan bagaimana pengalaman personal, latar budaya, bahasa, hingga perkembangan teknologi dapat menjadi bahan refleksi dalam forum lintas negara.

Presenter asal Nigeria, M. Mansoud Adam, mengangkat perbandingan budaya antara Nigeria dan Indonesia. Ia memperkenalkan gagasan “Cultural Difference as A Source of knowledge”, yang menempatkan perbedaan budaya bukan sebagai jurang pemisah, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang autentik.

Menurut Mansoud, memahami budaya membutuhkan kesediaan untuk melihat bagaimana nilai-nilai lokal membentuk cara seseorang menentukan prioritas dalam kehidupan. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan mendengarkan dalam membangun komunikasi lintas budaya.

“Pemahaman akan tumbuh ketika belajar bagaimana nilai-nilai lokal membentuk prioritas hidup seseorang. Yang terpenting, kita harus menjadi pendengar yang baik sebelum mengajukan gagasan,” ungkap Mansoud.

Perspektif kebahasaan kemudian disampaikan oleh Risma, presenter asal Timor-Leste. Mengusung tema bahasa sebagai “A Bridge Across Cultures”, ia menyoroti peran bahasa dalam membangun hubungan antarmasyarakat dan memperkuat pemahaman lintas budaya.

Foto: Suasana kelas di International Student Forum: Paralel Session dalam rangkaian kegiatan HUMANIORA I-YES 2026

Dalam pemaparannya, Risma menjelaskan lanskap kebahasaan Timor-Leste yang memiliki dua bahasa resmi, yakni Tetum dan Portugis. Di sisi lain, bahasa Indonesia masih dipahami dengan baik oleh masyarakat Timor-Leste. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kedekatan historis dan kultural yang tetap terjalin antara Timor-Leste dan Indonesia.

Sementara itu, Natasha dari Madagaskar membawa pembahasan pada isu kontemporer mengenai persinggungan kecerdasan buatan (AI) dan dunia pendidikan. Ia mengelaborasi penerapan Taksonomi Bloom, mulai dari tingkatan remember, understand, apply, analyze, evaluate, hingga create.

Pembahasan tersebut menghadirkan perspektif berbeda dalam seminar. Jika Mansoud mengajak peserta melihat keberagaman budaya sebagai sumber pengetahuan dan Risma menempatkan bahasa sebagai jembatan antarkultur, Natasha membawa peserta pada diskusi mengenai perkembangan teknologi dan bagaimana AI dapat dilihat dalam konteks proses pembelajaran.

Keberagaman topik tersebut memperlihatkan karakter parallel seminar sebagai ruang pertukaran gagasan yang tidak terbatas pada satu disiplin atau perspektif. Peserta dapat mendengarkan pengalaman dari negara lain sekaligus menghubungkannya dengan konteks sosial, budaya, pendidikan, dan kehidupan yang mereka kenal.

Foto: Peserta internasional bersama mahasiswa Fakultas Humaniora berfoto bersama seusai mengikuti sesi paralel HUMANIORA I-YES 2026

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab interaktif. Peserta diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan kepada para presenter, sehingga komunikasi berlangsung dua arah dan membuka ruang untuk memperdalam gagasan yang telah disampaikan.

Interaksi tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman lintas budaya yang menjadi salah satu kekuatan I-YES 2026. Peserta tidak hanya berperan sebagai pendengar, tetapi juga terlibat dalam proses bertukar pandangan, mengajukan pertanyaan, serta merespons gagasan yang muncul selama seminar.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan bingkisan kepada peserta yang mengajukan pertanyaan. Sesi kemudian ditutup dengan foto bersama antara presenter, moderator, dan seluruh peserta.

Parallel Seminar Session menjadi salah satu bentuk pembelajaran dalam I-YES 2026 yang mempertemukan pengetahuan dan pengalaman dari berbagai latar. Melalui forum tersebut, perbedaan budaya, bahasa, serta perspektif terhadap perkembangan pendidikan tidak ditempatkan sebagai batas, tetapi sebagai ruang untuk saling belajar. Sejalan dengan tema I-YES 2026, “Voices Across Cultures: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future,” kegiatan ini memperlihatkan bagaimana suara dari berbagai budaya dapat bertemu dalam dialog akademik. Dari ruang kelas Faculty of Humanities, para peserta belajar bahwa membangun pemahaman lintas budaya dimulai dari kesediaan untuk mendengar, berdiskusi, dan menghargai perspektif yang berbeda. [bila-unr/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait