HUMANIORA – (28/9/2026) Pertemuan lintas negara dalam International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 dibuka dengan cara yang khas Humaniora: mempertemukan peserta melalui bahasa universal bernama seni dan budaya. Kolaborasi mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadirkan ragam gerak dan musik Nusantara dalam pembukaan I-YES 2026, Senin (28/9/2026), sekaligus mengajak peserta internasional terlibat langsung dalam pengalaman budaya Indonesia.
Read too:
Berlangsung di Auditorium Lantai 3 Faculty of Humanities, penampilan apik Komunitas Tari Srikandi memberi warna tersendiri dalam rangkaian pembukaan. Alih-alih menempatkan seni sebatas sebagai hiburan, pertunjukan dirancang menjadi ruang interaksi yang membantu peserta dari berbagai latar budaya saling mengenal sejak hari pertama.

Semangat tersebut terasa melalui penampilan “Indonesia Menari”. Ragam gerak tari dari berbagai daerah dirangkai untuk memperkenalkan kekayaan ekspresi budaya Indonesia kepada peserta internasional.
Menariknya, peserta tidak hanya menyaksikan dari tempat duduk. Mereka diajak ikut bergerak dan menari bersama mahasiswa. Interaksi sederhana tersebut membuat batas antara penampil dan penonton perlahan mencair.
Suasana auditorium yang semula formal pun berubah menjadi lebih hangat. Peserta mulai mengikuti gerakan, berinteraksi satu sama lain, dan menikmati pengalaman pertama mereka mengenal seni tari Indonesia secara langsung.

Kebersamaan semakin terasa ketika iringan “Gemu Fa Mi Re” dimainkan. Musik dengan ritme yang dinamis membawa peserta kembali bergerak bersama. Tidak diperlukan banyak percakapan untuk menciptakan interaksi; gerak, ekspresi, dan musik menjadi medium komunikasi yang dapat diterima oleh peserta dengan latar bahasa berbeda.
Momen tersebut memiliki relevansi tersendiri dalam program internasional seperti I-YES. Pertemuan lintas budaya tidak selalu harus dimulai melalui forum akademik yang formal. Pengalaman bersama dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kedekatan sebelum peserta memasuki rangkaian diskusi, pembelajaran, dan eksplorasi budaya selama program berlangsung.
Kolaborasi mahasiswa kemudian berlanjut melalui penampilan “Voices of Humanities” dari Sanggar Tari Srikandi. Pertunjukan tersebut memadukan ragam tari daerah dengan sentuhan gerak kontemporer.
Perpaduan itu menghadirkan wajah kebudayaan yang tidak berhenti pada tradisi, tetapi terus bergerak dan menemukan bentuk ekspresi baru. Berbagai karakter gerak dipertemukan dalam satu panggung, membawa pesan tentang keberagaman sebagai bagian dari identitas Indonesia.
Bagi peserta internasional, penampilan tersebut menjadi salah satu pintu awal untuk mengenal Indonesia melalui ekspresi artistik. Budaya tidak hanya diperkenalkan melalui penjelasan tentang asal-usul atau karakter sebuah tradisi, tetapi dialami melalui gerak, musik, interaksi, dan suasana yang dibangun bersama.
Keterlibatan mahasiswa Humaniora dalam pembukaan I-YES 2026 sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki posisi penting dalam membangun atmosfer internasional di lingkungan fakultas.
Mereka tidak hanya menjadi panitia atau pendamping peserta, tetapi tampil sebagai aktor yang memperkenalkan kebudayaan Indonesia sekaligus membuka ruang komunikasi dengan mahasiswa dari negara lain.
Dalam konteks tersebut, pertunjukan seni dapat dibaca sebagai bentuk sederhana dari diplomasi budaya. Mahasiswa memperkenalkan Indonesia bukan melalui uraian panjang, tetapi melalui pengalaman yang memungkinkan peserta internasional melihat, merasakan, dan bahkan ikut menjadi bagian dari ekspresi budaya yang ditampilkan.
Hal ini selaras dengan tema Humaniora I-YES 2026, “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future.” Dialog lintas budaya yang menjadi semangat program telah dimulai bahkan sebelum peserta memasuki berbagai sesi akademik.
Melalui Indonesia Menari, Gemu Fa Mi Re, dan Voices of Humanities, perbedaan bahasa tidak menjadi penghalang untuk membangun kedekatan. Justru melalui pengalaman bersama, peserta memiliki titik awal untuk saling mengenal sebelum berdialog lebih jauh mengenai bahasa, pendidikan, masyarakat, dan kebudayaan.
Pembukaan I-YES 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi seremoni penyambutan. Di tangan mahasiswa Humaniora, panggung pembukaan berubah menjadi ruang perjumpaan budaya.
Dari gerakan tari yang diikuti bersama hingga tepuk tangan yang memenuhi auditorium, mahasiswa dan peserta internasional memulai perjalanan I-YES dengan pengalaman yang sama: mengenal satu sama lain melalui kebudayaan.
Momentum tersebut menjadi pengantar bagi rangkaian I-YES 2026 yang akan berlangsung hingga 2 Oktober 2026, ketika peserta akan terus berinteraksi melalui berbagai agenda akademik, pendidikan, dan eksplorasi budaya.
Dari panggung Humaniora, dialog antarbudaya itu pun dimulai—bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui gerak, musik, dan pengalaman yang dibangun bersama. [sof/Infopub]





