HUMANIORA – (25/9/2026) Kemampuan berbahasa Arab mahasiswa tidak hanya tumbuh di ruang perkuliahan, tetapi juga menemukan ruang aktualisasi dalam forum kompetitif yang menuntut ketajaman berpikir dan keberanian berargumentasi. Dua mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Siti Najahatul Imtihan dan Nasruddin Rafa’i, membuktikannya dengan meraih Juara II atau Medali Perak Debat Bahasa Arab pada ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Ilmiah (PORSI) JAWARA II.
Read too:
Kompetisi yang berlangsung pada 9–13 September 2026 di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI bersama Forum Wakil Rektor III PTKIN se-Jawa dan Madura. PORSI JAWARA II menjadi ruang pertemuan sekaligus kompetisi mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam bidang olahraga, seni, dan ilmiah.

Dalam cabang Debat Bahasa Arab, Siti dan Nasruddin berkolaborasi dengan Rizal Rafid Arriqoh, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab semester 7. Ketiganya membawa nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadapi tim dari berbagai PTKIN di Jawa dan Madura.
Siti merupakan mahasiswa BSA semester 7, sedangkan Nasruddin saat ini menempuh semester 5. Keduanya berasal dari Lombok. Bagi mereka, kompetisi ini bukan sekadar mengejar posisi juara, tetapi juga kesempatan menguji kemampuan berbahasa Arab dalam situasi yang membutuhkan respons cepat, argumentasi yang terstruktur, dan kerja sama antartim. Debat memiliki karakter yang berbeda dengan kompetisi kebahasaan pada umumnya. Kemampuan menggunakan bahasa dengan baik menjadi modal awal, tetapi tidak cukup untuk membawa peserta melewati setiap pertandingan.

Peserta dituntut memahami persoalan, menentukan posisi, menyusun argumentasi, merespons pandangan lawan, sekaligus menyampaikan gagasan secara meyakinkan. Seluruh proses tersebut berlangsung dalam bahasa Arab.Karena itu, capaian medali perak menjadi salah satu gambaran bagaimana kompetensi kebahasaan mahasiswa dapat berkembang bersama kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan keberanian menyampaikan gagasan.
Bagi mahasiswa Arabic Language and Literature, pengalaman tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan proses akademik yang mereka jalani. Bahasa Arab tidak berhenti sebagai objek yang dipelajari melalui struktur, kosakata, maupun teks. Bahasa menjadi instrumen untuk mengolah pemikiran dan mengomunikasikan gagasan dalam forum akademik.
Persaingan di PORSI JAWARA II juga memberi pengalaman tersendiri. Ajang tersebut mempertemukan mahasiswa dari berbagai PTKIN di Jawa dan Madura, mulai dari Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Pertemuan dengan peserta dari lingkungan akademik yang berbeda membuat kompetisi memiliki nilai lebih luas. Mahasiswa tidak hanya mengukur kemampuannya melalui pertandingan, tetapi juga memperoleh kesempatan melihat cara peserta lain membangun argumentasi, berkomunikasi, dan bekerja sebagai tim.
Bagi Siti, kesempatan mewakili UIN Malang meninggalkan pengalaman yang berkesan. Ia bersyukur karena kompetisi memberinya ruang untuk terus belajar sekaligus menambah pengalaman di luar perkuliahan.
“Masya Allah, rasanya senang banget bisa mewakili UIN Malang dalam event PORSI JAWARA II ini. Bersyukur karena diberikan kesempatan untuk belajar dan terus menambah pengalaman. Terima kasih untuk segala dukungan dan doa dari pihak kampus, fakultas, prodi, dan tentunya dari keluarga serta teman-teman,” ungkapnya.
Rasa syukur tersebut menggambarkan sisi lain dari sebuah prestasi. Di balik medali terdapat proses persiapan, keberanian menghadapi lawan, kemampuan mengendalikan tekanan, serta dukungan dari lingkungan akademik maupun keluarga. Bagi Faculty of Humanities, capaian mahasiswa dalam kompetisi semacam ini memiliki arti penting karena menunjukkan bahwa pembelajaran akademik dapat menemukan relevansinya dalam berbagai ruang aktualisasi.
Prestasi Siti dan Nasruddin juga memperkuat rekam jejak mahasiswa Arabic Language and Literature dalam bidang kebahasaan. Kemampuan bahasa Arab yang mereka miliki berkembang menjadi perangkat untuk berdiskusi, mempertahankan argumentasi, merespons perbedaan pandangan, dan berkompetisi secara akademik. Medali perak yang dibawa pulang dari Pekalongan tentu menjadi capaian membanggakan. Namun, nilai dari PORSI JAWARA II tidak berhenti pada posisi kedua.
Pengalaman menghadapi peserta dari berbagai perguruan tinggi, bekerja bersama tim, mengelola tekanan pertandingan, hingga mempertahankan argumentasi dalam bahasa Arab menjadi bekal yang dapat dibawa mahasiswa kembali ke ruang akademik. Kompetisi juga memperluas jejaring mereka dengan mahasiswa PTKIN dari berbagai daerah. Interaksi tersebut membuka ruang pertukaran pengalaman sekaligus memperkenalkan mahasiswa pada lingkungan akademik yang lebih luas daripada kampusnya sendiri.
Bagi Siti Najahatul Imtihan dan Nasruddin Rafa’i, Juara II Debat Bahasa Arab PORSI JAWARA II menjadi salah satu penanda perjalanan akademik mereka di Humaniora. Bagi program studi, capaian tersebut menunjukkan bahwa penguasaan Bahasa Arab dapat berkembang melampaui kemampuan linguistik menjadi kompetensi untuk berpikir, berdialog, dan menyampaikan gagasan secara kritis.
Dari ruang kelas hingga panggung kompetisi, bahasa menemukan fungsi yang sesungguhnya: bukan hanya untuk dipelajari, tetapi untuk digunakan dalam membaca persoalan, membangun argumentasi, dan berinteraksi dengan dunia yang lebih luas. [unr-sof/Infopub]





