MIU Login

Kerusakan Alam dalam Sastra Ungkap Krisis Lingkungan dan Kesadaran Ekologis

HUMANIORA – (12/6/2026) Kerusakan alam kian menjadi isu global yang mendesak, tidak hanya dalam ranah sains dan kebijakan, tetapi juga dalam dunia sastra. Melalui pendekatan ekokritik, karya sastra dinilai mampu menjadi medium reflektif untuk membangun kesadaran ekologis manusia. Perspektif ini mengemuka dalam artikel berjudul “Natural Destruction Narrative: Greg Garrard’s Ecocritical Perspective” yang ditulis oleh Nisa Anisatin Qoimah, M. Faisol, dan Laily Fitriani, serta dipublikasikan dalam Jurnal Jazirah Vol. 6 No. 1 (Agustus 2025).

Read too:

Artikel ini menyoroti bagaimana eksploitasi sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab telah membawa dampak serius bagi keberlangsungan hidup di bumi. Penelitian tersebut menegaskan bahwa manusia sering kali menjadi aktor utama dalam kerusakan lingkungan, baik melalui praktik industri maupun perilaku sehari-hari yang abai terhadap keseimbangan ekosistem.

Dengan menggunakan pendekatan ekokritik dari Greg Garrard, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep-konsep utama dalam ekokritisisme sekaligus menelusuri narasi kehancuran alam dalam novel Nazif al-Hajr karya Ibrahim al-Kuni. Novel tersebut mengambil latar kehidupan masyarakat gurun yang sarat dengan relasi manusia dan alam dalam kondisi ekstrem.

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui pembacaan mendalam dan pencatatan. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman, sehingga memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola-pola naratif serta makna ekologis yang terkandung dalam teks sastra secara sistematis dan komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam konsep utama dalam ekokritisisme Garrard, yaitu pencemaran (pollution), kealamian (wildness), kiamat (apocalypse), tempat tinggal (dwellings), hewan (animals), dan bumi (the earth). Keenam konsep ini menjadi kerangka penting dalam memahami bagaimana sastra merepresentasikan relasi kompleks antara manusia dan lingkungan.

Secara lebih spesifik, narasi kehancuran alam dalam novel tersebut dianalisis melalui konsep apocalypse. Penelitian menemukan bahwa kerusakan alam tidak hanya disebabkan oleh faktor alam seperti kekeringan dan banjir, tetapi juga oleh faktor manusia. Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya, seperti pengeboran minyak, pengurasan sumber daya bawah tanah, hingga perburuan hewan secara brutal, menjadi pemicu utama kehancuran ekologis yang digambarkan dalam cerita.

Penelitian menegaskan bahwa sastra memiliki peran strategis sebagai media kritik dan kesadaran ekologis. Karya sastra tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi manusia untuk meninjau kembali relasinya dengan alam. Dengan demikian, pendekatan ekokritik membuka peluang besar bagi integrasi nilai-nilai keberlanjutan dalam kajian humaniora, sekaligus memperkuat kontribusi akademisi dalam menjawab krisis lingkungan global. [aii/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait