HUMANIORA – (10/6/2026) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat kualitas riset dan jejaring akademik global melalui penyelenggaraan International Academic Sharing for Quality Research Enhancement (IASQRE) 2026. Forum akademik internasional yang digelar pada Rabu (10/6/2026) di Kampus III UIN Malang, Batu, tersebut menjadi ruang strategis bagi para dosen untuk berdialog mengenai masa depan kajian bahasa dan sastra di tengah perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Read too:
- Prof. Rahmah di IASQRE 2026: Humaniora Menjadi Penjaga Makna di Tengah Ledakan AI
- Humaniora Sosialisasikan I-SMASH 2026, Buka Jalan Mahasiswa Menembus Pengalaman Global
Mengusung tema Reimagining Linguistics and Literary Studies in the Age of Artificial Intelligence, kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Rahmah binti Ahmad H. Osman dari The Omani Research and Studies Centre, International Islamic University Malaysia (IIUM), sebagai narasumber utama. Kehadiran akademisi internasional tersebut sekaligus memperkuat upaya Fakultas Humaniora dalam membangun kolaborasi keilmuan lintas negara dan memperluas perspektif penelitian dosen di tingkat global.

Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Prof. Rahmah beserta rombongan mahasiswa doktoral dari Malaysia yang turut mengikuti forum akademik tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan yang sedang dihadapi dunia pendidikan tinggi saat ini.
“Perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk cara kita belajar, meneliti, dan menghasilkan pengetahuan. Karena itu, para akademisi perlu terus memperbarui perspektif dan pendekatan keilmuan agar tetap mampu memberikan kontribusi yang relevan bagi perkembangan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa fakultas perlu aktif merespons perubahan tersebut melalui penguatan budaya riset, kolaborasi internasional, dan pengembangan kajian-kajian baru yang mampu menjembatani perkembangan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi ilmu humaniora.
Dalam paparannya, Prof. Rahmah mengajak para akademisi untuk melihat kecerdasan buatan bukan semata sebagai perkembangan teknologi, melainkan fenomena peradaban yang membawa implikasi luas terhadap cara manusia memahami bahasa, sastra, dan identitas budaya. Menurutnya, selama ribuan tahun bahasa telah menjadi instrumen utama manusia dalam membangun peradaban, mewariskan nilai, dan membentuk identitas kolektif. Namun kini, ketika mesin mampu menghasilkan teks, puisi, cerita, bahkan argumentasi yang menyerupai karya manusia, pertanyaan mengenai makna, kreativitas, dan hakikat bahasa menjadi semakin penting untuk dikaji.
Lebih lanjut, Prof. Rahmah menegaskan bahwa dunia saat ini sesungguhnya tidak sedang mengalami krisis informasi. Sebaliknya, manusia hidup di tengah limpahan data dan pengetahuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan memberikan makna terhadap informasi yang tersedia.
“Di era AI, tantangan terbesar bukan lagi memperoleh informasi, tetapi bagaimana manusia tetap mampu menghadirkan makna, kebijaksanaan, dan perspektif kemanusiaan dalam memanfaatkan informasi tersebut,” jelasnya.

Menurutnya, disiplin linguistik dan sastra memiliki posisi strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Kehadiran AI membuka peluang lahirnya objek kajian baru, metode penelitian yang lebih inovatif, serta ruang kolaborasi multidisipliner yang semakin luas. Oleh karena itu, para peneliti perlu melakukan reimajinasi terhadap paradigma, metode, dan fokus penelitian agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Kegiatan yang diikuti seluruh dosen Fakultas Humaniora tersebut berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan berbagi pengalaman penelitian. Para peserta mendiskusikan berbagai kemungkinan pengembangan riset yang mengintegrasikan pendekatan humaniora dengan teknologi digital, termasuk pemanfaatan AI dalam kajian linguistik, sastra, penerjemahan, dan analisis budaya.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Humaniora, Dr. Halimi, M.Pd., M.A., menegaskan bahwa IASQRE merupakan bagian dari strategi internasionalisasi akademik yang terus dikembangkan fakultas. Melalui forum semacam ini, dosen tidak hanya memperoleh wawasan baru mengenai isu-isu keilmuan mutakhir, tetapi juga memiliki kesempatan membangun jejaring penelitian dan publikasi bersama akademisi internasional.
“IASQRE menjadi ruang penting untuk mempertemukan para akademisi dalam berbagi perspektif, memperluas jejaring riset, serta membuka peluang kolaborasi publikasi internasional. Kegiatan seperti ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas penelitian dan daya saing akademik dosen di tingkat global,” ungkapnya.
Melalui penyelenggaraan IASQRE 2026, Fakultas Humaniora kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun atmosfer akademik yang terbuka, kolaboratif, dan berorientasi internasional. Forum ini diharapkan mampu mendorong lahirnya gagasan-gagasan inovatif, memperkuat jejaring akademik lintas negara, serta menghasilkan penelitian yang mampu menjawab berbagai tantangan kemanusiaan di era kecerdasan buatan. [al/Infopub]





