MIU Login

Dari Humaniora ke Kementerian Pariwisata, Muhamad Alfikri Lolos MagangHub Kemnaker

HUMANIORA – (24/9/2026) Kegagalan pada kesempatan pertama tidak menghentikan langkah Muhamad Alfikri, alumni English Literature Study Program Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang angkatan 2021. Setelah tidak berhasil dalam seleksi awal, alumnus asal Jakarta Selatan itu mencoba kembali pada batch berikutnya. Upayanya berbuah hasil: ia lolos Program MagangHub Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) dan mendapat penempatan sebagai penerjemah bahasa Inggris di Deputi Bidang Pemasaran Mancanegara, Kementerian Pariwisata.

Read too:

Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana kompetensi yang dibangun selama kuliah memperoleh ruang aktualisasi ketika lulusan memasuki lingkungan profesional. Bagi Alfikri, kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu modal penting ketika menghadapi proses seleksi yang kompetitif.

Foto : Muhamad Alfikri, Alumni mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, berhasil lolos program MagangHub Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dengan penempatan di Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

MagangHub merupakan program Kemnaker RI yang mempertemukan lulusan baru dengan perusahaan maupun lembaga mitra. Alfikri mengikuti prosesnya dengan melakukan pendaftaran melalui platform resmi Kemnaker dan memenuhi ketentuan program, termasuk status fresh graduate maksimal satu tahun, Warga Negara Indonesia, kesesuaian data kependudukan, serta belum pernah mengikuti program pemagangan nasional sebelumnya.

Perjalanannya tidak langsung berhasil. Pada batch pertama, Alfikri mendaftar mendekati batas waktu dan tidak lolos pada dua lembaga yang dipilihnya. Alih-alih berhenti, kegagalan tersebut justru menjadi evaluasi untuk mempersiapkan kesempatan berikutnya.

“Pada batch pertama saya gagal karena mendaftar terlalu mepet, ditolak oleh dua lembaga sekaligus. Namun saya tidak menyerah, justru saya malah semakin yakin bahwa di batch kedua saya harus lolos,” ungkapnya.

Kepercayaan dirinya juga ditopang rekam akademik selama kuliah. Alfikri tercatat sebagai mahasiswa terbaik kedua pada Yudisium Fakultas Humaniora dari Program Studi Sastra Inggris. Salah satu momen yang paling membekas bagi Alfikri terjadi pada tahap wawancara.

Menurut penuturannya, terdapat 55 peserta dalam sesi Zoom yang diikutinya. Ia mengaku sempat gugup ketika mendapat giliran memperkenalkan diri. Situasi berubah ketika pewawancara memintanya berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Kemampuan yang selama bertahun-tahun diasah di Sastra Inggris membuat kepercayaan dirinya meningkat.

“Begitu diminta menggunakan bahasa Inggris, rasa percaya diri saya langsung melonjak. Jawaban saya mengalir lancar,” tuturnya.

Wawancara kemudian berkembang menjadi diskusi mengenai pengalaman akademik dan profesionalnya. Pewawancara tertarik pada pengalaman Alfikri mengikuti Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Kementerian Luar Negeri, bahkan mendiskusikan lebih jauh modal kompetensi yang dimilikinya sebagai mahasiswa Sastra Inggris UIN Malang.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan bahasa tidak berdiri sendiri. Penguasaan komunikasi menjadi semakin bermakna ketika didukung pengalaman, wawasan lintas budaya, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian menyampaikan gagasan.

Tidak lama setelah wawancara, status pada dashboard MagangHub berubah menjadi “Ditentukan”. Bagi Alfikri, notifikasi sederhana tersebut menandai babak baru perjalanan profesionalnya sebagai penerjemah bahasa Inggris di lingkungan Kementerian Pariwisata. Alfikri melihat pengalaman belajarnya di Faculty of Humanities memiliki keterkaitan dengan bidang yang kini dijalaninya.

Sejumlah mata kuliah yang menurutnya memberikan bekal penting adalah ilmu-ilmu linguistik, Critical Reading, Public Speaking, Interculturality Studies, serta mata kuliah profesi diplomasi. Kombinasi tersebut menunjukkan relevansi pendidikan Sastra Inggris yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan bahasa dan sastra. Kemampuan membaca kritis membantu lulusan mengolah informasi, public speaking memperkuat komunikasi profesional, sementara studi interkultural memberi perspektif untuk berinteraksi dalam lingkungan yang melibatkan perbedaan budaya.

Bekal semacam itu semakin relevan dalam tugas penerjemahan di bidang pemasaran mancanegara, yang menuntut bukan hanya kemampuan memindahkan bahasa, tetapi juga kepekaan terhadap konteks komunikasi dan audiens. Perjalanan Alfikri sekaligus menjadi gambaran bagaimana pembelajaran, pengalaman MBKM, dan prestasi akademik dapat saling melengkapi dalam membangun kesiapan lulusan memasuki dunia profesional.

Di balik perjalanan tersebut, Alfikri juga mengingat peran lingkungan akademik Humaniora. Ia secara khusus menyebut Ribut Wahyudi, Ph.D., yang pernah menjadi dosen walinya, serta Dr. Mohamad Zakaria Al-Anshori sebagai dua sosok dosen yang memberikan kesan kuat selama masa studinya.

“Saya merasa sangat bersyukur dan bangga telah menjadi alumni UIN Malang, karena terdapat banyak dosen yang menarik dan berwawasan luas,” ungkapnya.

Kisah Alfikri menunjukkan bahwa keberhasilan lulusan memasuki dunia profesional bukan proses yang berlangsung secara instan. Ada proses belajar, pengalaman lapangan, keberanian menghadapi seleksi, bahkan kegagalan yang harus dilewati. Dari kegagalan pada batch pertama hingga akhirnya memperoleh kesempatan di Kementerian Pariwisata, perjalanan Alfikri menjadi satu potret bagaimana kompetensi yang tumbuh di ruang akademik Humaniora menemukan relevansinya ketika dibawa ke ruang profesional. [unr-sof/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait