HUMANIORA – (11/8/2026) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus memperkuat kualitas pembelajaran Bahasa Arab dengan memastikan kompetensi yang dibangun sejak awal perkuliahan memiliki keterkaitan langsung dengan profil lulusan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui koordinasi bersama dosen Pusat Bahasa untuk menyelaraskan Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab (PKPBA) dengan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) Faculty of Humanities, Selasa (11/8/2026), di Ruang Pertemuan Lantai 2 Fakultas Humaniora.
Read too:
Koordinasi tersebut mempertemukan unsur pimpinan fakultas, pengelola program studi, dan dosen Pusat Bahasa dalam satu forum akademik. Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan Fakultas Humaniora Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag.; Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Halimi, M.Pd.; Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Dr. Abdul Basid, S.S., M.Pd.; Sekretaris Program Studi BSA Dr. Moh. Zawawi, M.Pd.; Ketua Program Studi Sastra Inggris Dr. Agwin Degaf, M.A.; Sekretaris Program Studi Sastra Inggris Habiba Al Umami, M.Hum.; serta para dosen Pusat Bahasa yang mengampu pembelajaran PKPBA.

Pertemuan diarahkan untuk memastikan terdapat kesinambungan yang kuat antara profil lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), mata kuliah, deskripsi mata kuliah, materi, metode pembelajaran, dan sistem penilaian. Dengan keselarasan tersebut, pembelajaran Bahasa Arab melalui PKPBA diharapkan tidak berjalan sebagai program yang terpisah, melainkan menjadi bagian integral dari proses pembentukan kompetensi mahasiswa Faculty of Humanities.
Dalam arahannya, Dekan Faculty of Humanities Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag. menekankan pentingnya profesionalisme, komitmen, dan kualitas dosen dalam menjalankan pembelajaran PKPBA. Menurutnya, keberhasilan program pembelajaran bahasa sangat ditentukan oleh kualitas proses yang berlangsung di kelas serta kesungguhan seluruh pihak dalam mengantarkan mahasiswa mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.
Penguatan kualitas pembelajaran tersebut menjadi penting karena Bahasa Arab memiliki posisi strategis dalam lingkungan akademik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bagi mahasiswa Faculty of Humanities, kemampuan bahasa bukan hanya kompetensi pendukung, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses terhadap sumber keilmuan, mengembangkan komunikasi akademik, serta memperkuat kapasitas mahasiswa dalam menghadapi lingkungan pendidikan yang semakin terbuka dan global.

Koordinasi yang dipimpin Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Dr. Abdul Basid, S.S., M.Pd., kemudian berfokus pada sinkronisasi antara kurikulum OBE Faculty of Humanities dengan kurikulum pembelajaran PKPBA. Pembahasan dilakukan dengan menelusuri hubungan antarkomponen kurikulum agar kompetensi yang dikembangkan melalui pembelajaran Bahasa Arab memiliki kontribusi yang jelas terhadap profil lulusan.
Dalam pendekatan OBE, proses pendidikan dimulai dengan melihat capaian akhir yang diharapkan dimiliki mahasiswa. Profil lulusan menjadi rujukan utama yang kemudian diterjemahkan melalui CPL, mata kuliah, materi pembelajaran, metode, hingga asesmen. Karena itu, setiap aktivitas pembelajaran idealnya dapat ditelusuri kontribusinya terhadap kompetensi yang hendak dibangun.
Perspektif tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam pembahasan PKPBA. Kemampuan Bahasa Arab yang dikembangkan sejak awal masa studi perlu memiliki keterhubungan dengan kebutuhan akademik mahasiswa pada tahap-tahap berikutnya. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengikuti rangkaian materi pembelajaran bahasa, tetapi secara bertahap memperoleh kompetensi yang relevan dengan perjalanan akademik dan profil lulusan program studinya.
Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Halimi, M.Pd., menegaskan bahwa PKPBA memiliki posisi penting dalam pengembangan kompetensi mahasiswa Faculty of Humanities. Menurutnya, kehadiran unsur pimpinan fakultas, pengelola kedua program studi, dan dosen Pusat Bahasa dalam forum tersebut menunjukkan adanya komitmen bersama untuk memastikan pembelajaran Bahasa Arab berjalan secara berkualitas dan memberikan dampak nyata terhadap kompetensi mahasiswa.
Komitmen tersebut sekaligus menempatkan koordinasi akademik sebagai instrumen penguatan mutu. Ketika program studi dan dosen Pusat Bahasa memiliki pemahaman yang sama mengenai profil lulusan dan kompetensi mahasiswa yang hendak dihasilkan, pembelajaran dapat dirancang secara lebih terarah, relevan, dan terukur.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah keselarasan antara CPL dengan materi pembelajaran. Materi yang diberikan kepada mahasiswa perlu memiliki tujuan yang jelas dan terhubung dengan kemampuan yang hendak dicapai. Keselarasan ini penting agar pembelajaran tidak berhenti pada penyelesaian sejumlah pokok bahasan, tetapi benar-benar menghasilkan perkembangan kompetensi yang dapat diamati dan diukur.
Hal yang sama berlaku pada metode pembelajaran. Pengembangan kemampuan bahasa membutuhkan ruang bagi mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar. Karena itu, metode yang interaktif, komunikatif, kontekstual, dan berpusat pada mahasiswa menjadi penting untuk memberikan kesempatan kepada mereka menggunakan Bahasa Arab secara nyata, bukan hanya memahami konsep secara teoretis.
Di tengah perkembangan teknologi pendidikan dan perubahan karakter pembelajar, inovasi metode pembelajaran juga menjadi bagian yang perlu terus dikembangkan. Dosen dituntut mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa sekaligus tetap berorientasi pada capaian yang telah dirumuskan.
Aspek penilaian juga memperoleh perhatian dalam proses sinkronisasi. Dalam kerangka OBE, asesmen tidak semata-mata berfungsi menghasilkan nilai akhir, tetapi harus mampu memberikan gambaran mengenai ketercapaian kompetensi mahasiswa. Karena itu, instrumen penilaian perlu memiliki hubungan yang jelas dengan materi, aktivitas pembelajaran, dan capaian yang hendak diukur.
Dengan pola tersebut, terdapat mata rantai akademik yang dapat ditelusuri secara sistematis: profil lulusan–CPL–mata kuliah–deskripsi mata kuliah–materi–metode pembelajaran–asesmen. Keterhubungan antarkomponen inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam sinkronisasi kurikulum OBE Faculty of Humanities dengan pelaksanaan PKPBA.
Koordinasi tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan dua perspektif yang saling melengkapi. Program studi memiliki gambaran mengenai profil lulusan dan kompetensi akademik yang hendak dibangun, sementara dosen Pusat Bahasa memiliki pengalaman langsung dalam mendampingi mahasiswa mengembangkan kemampuan Bahasa Arab di kelas. Pertemuan kedua perspektif tersebut menjadi penting agar desain kurikulum dapat diterjemahkan secara konsisten dalam praktik pembelajaran.
Bagi Faculty of Humanities, pendekatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kurikulum yang hidup dalam proses pendidikan. Kurikulum tidak cukup berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi harus hadir dalam setiap pengalaman belajar mahasiswa: apa yang dipelajari, bagaimana proses pembelajaran berlangsung, kompetensi apa yang dikembangkan, dan bagaimana ketercapaiannya dinilai.
Pada saat yang sama, penguatan pembelajaran Bahasa Arab juga menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas mahasiswa untuk menghadapi lingkungan akademik yang semakin luas. Kompetensi bahasa memberikan akses terhadap sumber-sumber pengetahuan, membuka peluang komunikasi lintas budaya, serta mendukung partisipasi mahasiswa dalam berbagai aktivitas akademik.
Karena itu, sinergi antara Faculty of Humanities dan Pusat Bahasa memiliki makna lebih dari sekadar koordinasi teknis menjelang perkuliahan. Forum tersebut menjadi bagian dari upaya bersama memastikan setiap unsur pembelajaran bergerak menuju tujuan yang sama, yakni menghasilkan mahasiswa dengan kompetensi akademik dan kebahasaan yang sesuai dengan profil lulusan.
Melalui sinkronisasi kurikulum OBE dan PKPBA, penguatan profesionalisme dosen, serta penyelarasan materi, metode, dan asesmen, Faculty of Humanities terus membangun budaya mutu pembelajaran yang terintegrasi. Langkah tersebut diharapkan menjadikan PKPBA semakin relevan dengan kebutuhan mahasiswa sekaligus memperkuat Bahasa Arab sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun kompetensi dan kualitas lulusan Faculty of Humanities. [sof/Infopub]





