MIU Login

Chumphon Is Calling: Menemukan Keluarga, Keberanian, dan Ruang Belajar Baru di Thailand

Ada perjalanan yang hanya membawa seseorang berpindah tempat. Namun, ada pula perjalanan yang diam-diam mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia, pendidikan, dan dirinya sendiri. Bagi saya, pengalaman mengikuti program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) Humaniora di Chumphon, Thailand, termasuk dalam kategori kedua. Ia bukan sekadar perjalanan ke luar negeri atau agenda Praktik Kerja Lapangan (PKL), melainkan pengalaman yang mempertemukan saya dengan ketakutan, keberanian, persaudaraan, dan makna belajar dalam ruang yang sama sekali baru.

Read too:

Perjalanan ini menjadi momen yang sangat istimewa karena untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di luar negeri, sekaligus pertama kalinya menaiki pesawat. Duduk di dekat jendela dan menatap lautan awan dari ketinggian menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Dari sana saya melihat bumi dalam perspektif yang berbeda: luas, indah, dan sekaligus mengingatkan betapa kecilnya diri ini di hadapan kebesaran Sang Pencipta. Di dalam pesawat, saya tidak berhenti bersyukur. Langkah pertama itu terasa seperti pembuka dari jejak baru dalam hidup saya—jejak yang saya percaya akan membawa saya pada pengalaman-pengalaman yang lebih luas di masa depan.

Namun, seperti banyak pengalaman besar lainnya, perjalanan ini juga diawali dengan rasa takut. Saya masih mengingat jelas kecemasan yang menyertai perjalanan menuju Pattanasat Witthaya Tha Sae Chumphon. Ada kekhawatiran tentang perbedaan bahasa, ketakutan apakah kami akan diterima dengan baik, serta rasa canggung karena saya dan dua teman datang ke tempat yang benar-benar asing. Semua bayangan itu sempat membuat langkah terasa berat. Ketegangan bahkan semakin terasa ketika kami dipersilakan masuk ke ruang rapat yang sudah dipenuhi para guru sekolah. Udara yang panas, suasana yang formal, dan perasaan belum mengenal siapa pun membuat saya semakin gugup.

Namun, ketegangan itu perlahan runtuh berkat satu kalimat sederhana dari pihak sekolah. Bapak manajer menyambut kami dengan hangat dan mengatakan, “Siapa yang datang ke sini, maka kami anggap keluarga.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya sangat besar. Di tengah rasa asing yang masih menyelimuti, ucapan tersebut menghadirkan kehangatan yang menenangkan. Saya mulai merasa bahwa perjalanan ini tidak akan dijalani sebagai orang luar, melainkan sebagai bagian dari keluarga yang diterima dengan tulus.

Kesan kekeluargaan itu terus saya rasakan sejak hari-hari pertama di sekolah. Kebetulan saat kami tiba di Chumphon, sekolah masih dalam masa libur nasional, sehingga aktivitas belajar baru dimulai beberapa hari kemudian. Pada hari pertama masuk sekolah, saya berkenalan dengan para guru dan siswa Pattanasat Witthaya Tha Sae Chumphon. Hari itu menjadi momen awal untuk mengamati suasana, mengenali lingkungan, dan memahami ritme sekolah. Bersama teman-teman, saya menyampaikan rencana program yang akan kami jalankan. Pada tahap awal, saya lebih banyak melakukan observasi, memperhatikan metode pembelajaran yang diterapkan, dan mempelajari karakter para siswa.

Barulah pada hari-hari berikutnya, saya dan teman-teman mulai berani masuk ke kelas dan mengajar secara langsung.

Perlahan, dengan kemampuan yang kami miliki, kami mencoba menyesuaikan diri dengan kebutuhan siswa. Sambutan mereka begitu hangat. Para siswa terlihat sangat antusias dengan kehadiran kami. Tidak sedikit yang memberikan hadiah kecil sebagai bentuk kasih sayang. Antusiasme itu menjadi energi tersendiri bagi saya. Di tengah rasa gugup dan keterbatasan yang masih saya rasakan, semangat para siswa seolah mendorong saya untuk terus memberikan yang terbaik.

Dalam proses mengajar itulah saya mulai melihat banyak hal menarik tentang sistem pembelajaran di sekolah tersebut. Salah satu hal yang saya sadari adalah belum adanya metode menghafal kosakata melalui musik. Bersama teman-teman, saya mencoba mengenalkan lagu sebagai media belajar bahasa. Setiap pertemuan, kami menggunakan lagu untuk membantu siswa mengingat kosakata baru. Respons mereka sangat positif. Para siswa tidak hanya antusias saat pelajaran berlangsung, tetapi juga terus menyanyikan lagu-lagu itu di berbagai kesempatan. Bagi saya, itu adalah salah satu kebahagiaan kecil yang sangat berharga: melihat sesuatu yang kami ajarkan benar-benar melekat dalam ingatan mereka dan menjadi bagian dari proses belajar mereka.

Pengalaman yang tak kalah berkesan juga hadir di luar ruang kelas. Suatu siang, ketika saya dan teman-teman sedang makan di kantin sekolah, seorang ibu datang mengayuh sepeda dengan cepat sambil membawa buah-buahan segar. Ia menghampiri kami dan menyerahkan buah tersebut dengan ramah. Belakangan saya mengetahui bahwa beliau adalah salah satu wali murid, Bu Nadia, yang memiliki tiga anak di sekolah itu. Beliau mengaku sangat senang dengan kehadiran mahasiswa dari Indonesia, bahkan mengundang kami untuk datang ke rumahnya. Saya terharu menerima kebaikan yang datang dari seseorang yang sebelumnya bahkan belum pernah saya kenal. Peristiwa itu mengajarkan saya bahwa ketulusan sering kali hadir tanpa syarat, tanpa perlu hubungan lama, dan tanpa menunggu alasan besar.

Sekolah ini juga meninggalkan kesan mendalam melalui budaya disiplin yang dibangun di dalamnya. Setiap pagi, para siswa mengikuti apel mulai pukul 07.30. Sebelum apel dimulai, mereka berbaris untuk absen. Suatu hari saya bertanya kepada salah satu guru, apakah ada hukuman bagi siswa yang datang terlambat. Guru itu menjawab dengan tenang, “Tidak pernah ada yang terlambat.” Jawaban itu membuat saya tersenyum kagum. Lebih dari itu, saya juga mengetahui bahwa sekolah ini tidak memiliki petugas kebersihan. Kebersihan lingkungan dijaga bersama oleh para siswa melalui piket rutin setiap pagi.

Mereka menyapu halaman sekolah dengan penuh tanggung jawab tanpa harus menunggu perintah guru. Dari situ saya belajar bahwa pendidikan karakter tidak selalu diajarkan lewat ceramah, tetapi melalui kebiasaan sehari-hari yang ditanamkan secara konsisten.

Selama berada di Chumphon, saya dan teman-teman tinggal di asrama sekolah. Jumlah siswa yang tinggal di asrama tidak banyak, hanya beberapa siswa laki-laki dan perempuan yang berasal dari daerah jauh. Mereka hidup di tengah kebun sawit, jauh dari keluarga, bahkan tanpa membawa telepon genggam. Ketika saya berbincang dengan mereka, saya mengetahui bahwa sekolah Islam di Chumphon sangat terbatas jumlahnya. Karena itu, mereka rela meninggalkan rumah dan tinggal di asrama demi mendapatkan lingkungan belajar yang sesuai dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Kisah mereka membuat saya kembali belajar tentang makna perjuangan dalam menuntut ilmu. Di usia yang masih muda, mereka sudah memahami bahwa pendidikan kadang menuntut pengorbanan yang tidak kecil.

Menariknya, proses adaptasi di sekolah ini justru berjalan lebih mudah daripada yang saya bayangkan. Semua pihak terbuka dan saling antusias. Para siswa tertarik dengan cara kami mengajar, para guru menyambut baik program-program yang kami tawarkan, dan kami sendiri merasa senang melihat semangat belajar siswa yang begitu tinggi. Meski berada di daerah pedalaman, fasilitas sekolah cukup memadai. Setiap kelas dilengkapi monitor sebagai penunjang pembelajaran. Melihat potensi tersebut, saya dan teman-teman memanfaatkannya untuk membuat suasana belajar lebih hidup dan interaktif.

Setiap malam, kami berdiskusi dan menyusun ide-ide kreatif untuk pembelajaran esok hari. Salah satu ide yang kemudian kami jalankan adalah mengenalkan budaya Indonesia kepada para siswa. Pada hari Kamis, ketika kami mendapat kesempatan mengajar penuh di kelas Melayu, kami menyiapkan materi tentang pakaian adat, alat musik, rumah adat, dan kesenian Indonesia. Kami juga menambahkan aksara Thailand pada setiap judul materi agar siswa lebih mudah memahami isi presentasi. Ternyata respons mereka jauh melampaui dugaan kami. Saat video Tari Piring diputar, beberapa siswa bahkan maju ke depan dan mencoba menirukan gerakannya. Kelas yang semula kami siapkan sebagai sesi pengenalan budaya berubah menjadi ruang perjumpaan yang hangat antara rasa ingin tahu, tawa, dan semangat belajar.

Dari situ muncul gagasan lain yang kemudian menjadi salah satu program paling berkesan, yaitu Shobahul Mufrodat.

Program ini dilaksanakan setiap pagi setelah apel. Kami membacakan tiga kosakata dalam empat bahasa—Arab, Inggris,

Thailand, dan Indonesia—lalu para guru dan siswa menirukannya bersama-sama. Program sederhana ini ternyata memberikan dampak yang cukup cepat. Beberapa kali saya mendengar siswa menyapa saya dengan bahasa Indonesia, meskipun kadang waktunya tidak tepat. Mereka mengucapkan “Selamat pagi” bahkan saat hari sudah siang. Bagi saya, itu bukan kekeliruan, melainkan bukti bahwa kosakata yang kami perkenalkan benar-benar tinggal di ingatan mereka.

Melihat respons yang begitu positif, saya dan teman-teman kemudian tergerak untuk menyusun sebuah kamus mini empat bahasa: Arab, Indonesia, Inggris, dan Thailand. Kami membagi tugas, mengumpulkan kosakata yang relevan, lalu meminta bantuan guru setempat untuk mengoreksi bagian bahasa Thailand dan Inggris. Kamus kecil itu kami siapkan sebagai hadiah untuk sekolah pada hari perpisahan. Di balik bentuknya yang sederhana, kamus tersebut bagi kami adalah simbol dari perjalanan belajar bersama—bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan untuk saling mengenal dan saling memahami.

Sejak awal, kami memang merencanakan sebuah acara penutupan sederhana pada hari terakhir program. Dalam rapat bersama guru di minggu pertama, kami menyampaikan keinginan untuk mengadakan acara perpisahan kecil dengan penampilan siswa, seperti puisi, nasyid, dan story telling. Jujur, saat itu saya sempat khawatir usulan kami dianggap merepotkan. Namun, respons para guru justru di luar dugaan. Keesokan harinya mereka memanggil kami dengan penuh semangat, menyiapkan daftar siswa yang akan tampil, bahkan menyediakan ruang khusus ber-AC untuk latihan setiap hari.

Dukungan mereka membuat saya merasa dihargai, dipercaya, dan diterima sebagai bagian dari proses pendidikan di sekolah itu.

Dalam acara tersebut, saya bertanggung jawab melatih kelompok nasyid yang terdiri atas sepuluh siswa sekolah dasar. Pada awalnya saya cukup kesulitan karena mereka belum memahami bahasa Inggris, sementara bahasa Thailand saya juga sangat terbatas. Namun, justru dari proses latihan itulah saya belajar banyak hal. Kami memilih lagu-lagu berbahasa Arab, memadukannya dengan lagu anak-anak Thailand dan lagu Indonesia, lalu menambahkan gerakan agar lebih ekspresif. Saya bukan hanya mengajar, tetapi juga belajar—belajar memahami ritme komunikasi mereka, belajar menyesuaikan pendekatan, dan belajar bahwa keterbatasan bahasa tidak selalu menghalangi lahirnya kedekatan.

Menjelang puncak acara Language for Communication Project, kejutan demi kejutan kembali hadir. Sehari sebelum acara, saya melihat para siswa tidak berada di kelas seperti biasanya. Setelah mencari tahu, saya mendapati para guru sedang berkumpul di depan kantor sambil mengerjakan mading perpisahan yang akan diisi kesan dan pesan siswa untuk kami.

Semua guru bergotong royong mengerjakannya dengan penuh semangat. Bahkan ketika salah satu teman saya hendak membantu, mereka menolak dengan halus dan meminta kami cukup melihat saja. Saya benar-benar tersentuh oleh kekompakan mereka.

Kejutan lain menunggu ketika kami mengecek lokasi acara. Sejak awal, kami hanya membayangkan acara perpisahan sederhana di lapangan sekolah. Namun, ketika hari itu tiba, sebuah aula telah disiapkan lengkap dengan panggung, sound system, banner, dan dekorasi. Saya dan teman-teman terdiam cukup lama, tidak menyangka bahwa proyek kecil yang kami rancang dengan sederhana justru disambut dengan antusiasme sebesar itu. Pada momen itu saya merasa bahwa hubungan yang terjalin selama beberapa minggu benar-benar tulus dan saling menguatkan.

Hari penutupan akhirnya datang dengan suasana yang sangat emosional. Sambutan demi sambutan disampaikan oleh pihak sekolah, mulai dari direktur, manajer, hingga guru pamong kami. Meski tidak seluruh isi sambutan saya pahami secara bahasa, saya dapat menangkap makna yang jauh lebih penting dari ekspresi mereka: ada kebanggaan, rasa terima kasih, sekaligus kesedihan karena perpisahan telah tiba. Para siswa berbaris, menyalami kami satu per satu, sambil memberikan hadiah kecil yang mereka siapkan. Tangis, tawa, dan rasa syukur bercampur menjadi satu. Mading perpisahan yang berisi tulisan tangan para siswa membuat suasana semakin haru. Pada hari itu pula kami menyerahkan kamus mini empat bahasa sebagai hadiah dari perjalanan kami di Pattanasat Witthaya Tha Sae Chumphon. Pihak sekolah menerimanya dengan penuh suka cita dan menyebutnya sebagai hadiah yang sangat berarti.

Ada satu detail kecil lain yang turut menyempurnakan perjalanan ini: koleksi perangko. Sejak awal saya membawa album perangko dalam perjalanan ke Thailand. Bahkan di sela-sela kegiatan, saya menyempatkan diri datang ke kantor pos untuk membeli beberapa perangko khas Thailand. Bagi sebagian orang, perangko mungkin hanya benda kecil. Namun bagi saya, perangko adalah cara menyimpan jejak perjalanan dalam bentuk yang paling sederhana. Ia menjadi penanda bahwa perjalanan ini bukan sekadar kunjungan singkat, melainkan pengalaman yang benar-benar saya bawa pulang sebagai bagian dari hidup saya.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa pengalaman terbaik tidak selalu lahir dari kemewahan atau kemudahan. Sering kali, pengalaman paling berharga justru tumbuh dari rasa takut yang berhasil dihadapi, dari tantangan yang pelan-pelan ditaklukkan, dan dari kesempatan untuk belajar di tengah lingkungan yang berbeda. Chumphon mengajarkan saya bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tetapi juga tentang keteladanan, kebersamaan, disiplin, dan ketulusan. Ia juga mengajarkan saya bahwa menjadi bagian dari program internasional seperti I-SMASH berarti membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan baru: kemungkinan untuk bertumbuh, untuk belajar dari budaya lain, dan untuk menemukan keluarga di tempat yang sebelumnya terasa asing.

Kini, ketika semua telah usai, yang tersisa bukan hanya foto, hadiah, atau kamus mini empat bahasa, melainkan jejak emosional yang sulit dihapus dari ingatan. Dari senja yang saya lihat dari jendela pesawat pertama, sapaan para siswa setiap pagi, nyanyian kosakata di kelas, hingga pelukan perpisahan di hari terakhir semuanya menjadi pengingat bahwa perjalanan ini telah meninggalkan bekas yang mendalam. Dan dari Chumphon, saya pulang bukan hanya dengan pengalaman, tetapi juga dengan keyakinan bahwa langkah kecil yang berani bisa membawa seseorang pada perubahan besar dalam hidupnya. Khop khun ka. [Infopub Humaniora]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait