MIU Login

Humaniora Matangkan I-YES 2026, Buka Ruang Dialog Lintas Budaya

HUMANIORA – (21/9/2026) Perjumpaan lintas budaya bukan hanya tentang mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk saling mendengar, memahami perspektif lain, membangun jejaring, sekaligus belajar melihat persoalan global dari sudut pandang yang lebih luas. Semangat inilah yang sedang dipersiapkan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui International Youth Enhancing Study (I-YES) 2026.

Read too:

Mengusung tema “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future,” I-YES 2026 diarahkan menjadi ruang pembelajaran internasional yang mempertemukan bahasa, budaya, keberagaman perspektif, dan gagasan mengenai masa depan berkelanjutan. Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Humaniora memperluas pengalaman internasional mahasiswa dan membangun ekosistem akademik yang semakin terbuka terhadap keberagaman.

Foto : Ketua International Youth Enhancing Study (I-YES) 2026 Anwar Masadi, M.A

Untuk memastikan gagasan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam rangkaian program yang bermakna, Faculty of Humanities mematangkan persiapan melalui rapat koordinasi panitia, Jumat (18/9/2026), di Ruang Meeting Lantai 2 Fakultas Humaniora.

Koordinasi dihadiri Ketua I-YES 2026 Anwar Masadi, M.A., bersama panitia pelaksana. Pertemuan tersebut tidak hanya membahas kesiapan penyelenggaraan, tetapi juga menyatukan arah kerja panitia agar setiap bagian program memiliki orientasi yang sama: menghadirkan pengalaman akademik dan lintas budaya yang bermakna bagi peserta.

Label “internasional” tidak serta-merta membuat sebuah kegiatan memberikan pengalaman global yang bermakna.

Foto : Tim Fakultas Humaniora menggelar rapat koordinasi untuk mematangkan persiapan HUMANIORA I-YES 2026.

Bagi Humaniora, nilai sebuah program internasional justru terletak pada kualitas perjumpaan yang dibangun di dalamnya. Peserta perlu memiliki ruang untuk berkomunikasi, bertukar pengalaman, mendengarkan perspektif berbeda, dan membangun pemahaman terhadap keragaman budaya.

Karena itu, tema “Voices Across Culture” menjadi bagian penting dalam desain I-YES 2026.

Tema tersebut membawa gagasan bahwa setiap peserta datang dengan suara, pengalaman, dan latar budaya yang berbeda. Ketika keragaman itu dipertemukan dalam ruang dialog, muncul kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus membangun pemahaman bersama mengenai tantangan yang dihadapi generasi muda dan masa depan yang berkelanjutan.

Anwar Masadi menegaskan bahwa orientasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam persiapan program.

“I-YES 2026 kami siapkan bukan hanya sebagai rangkaian kegiatan internasional, tetapi sebagai ruang bagi generasi muda untuk saling mendengar, bertukar perspektif, dan membangun dialog lintas budaya. Melalui tema Voices Across Culture, kami ingin menghadirkan perjumpaan yang dapat membuka wawasan sekaligus mendorong gagasan tentang masa depan yang lebih berkelanjutan.”

Pernyataan tersebut menempatkan I-YES bukan sekadar sebagai agenda yang mempertemukan peserta, melainkan sebagai ruang belajar melalui perjumpaan.

Orientasi I-YES 2026 memiliki hubungan yang dekat dengan karakter keilmuan Fakultas Humaniora.

Bahasa, budaya, masyarakat, komunikasi, dan keberagaman perspektif merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran Humaniora. Dalam program lintas budaya, berbagai kajian tersebut memperoleh ruang aktualisasinya secara lebih nyata.

Mahasiswa tidak hanya mempelajari bagaimana budaya dan bahasa bekerja melalui teori. Mereka dapat berhadapan langsung dengan orang yang membawa pengalaman, kebiasaan, bahasa, dan perspektif berbeda.

Di sinilah perjumpaan lintas budaya dapat berubah menjadi proses pembelajaran.

Peserta belajar menyampaikan gagasan kepada orang lain. Pada saat yang sama, mereka juga belajar mendengarkan, memahami perbedaan, menyesuaikan cara berkomunikasi, dan melihat sebuah persoalan dari sudut pandang yang mungkin belum pernah mereka temui sebelumnya.

Dokumen persiapan I-YES menempatkan interaksi semacam ini sebagai kesempatan bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus memahami keragaman cara pandang terhadap berbagai persoalan global.

Dengan demikian, internasionalisasi tidak berhenti pada mobilitas atau kehadiran peserta dari latar belakang berbeda. Internasionalisasi memperoleh maknanya ketika perjumpaan tersebut menghasilkan proses belajar.

Bagi mahasiswa Humaniora, pengalaman semacam ini memiliki nilai strategis.

Dunia yang akan mereka hadapi setelah menyelesaikan pendidikan semakin menuntut kemampuan bekerja dan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar berbeda.

Kemampuan akademik tetap menjadi fondasi, tetapi tidak selalu cukup.

Mahasiswa juga membutuhkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi, membangun jejaring, serta memahami keberagaman budaya.

I-YES 2026 memberikan ruang bagi kompetensi tersebut untuk berkembang melalui pengalaman nyata. Sumber kegiatan juga menempatkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, adaptasi, dan pembangunan jejaring internasional sebagai bagian dari pengalaman yang dapat dikembangkan mahasiswa melalui perjumpaan lintas budaya.

Pengalaman tersebut penting karena kompetensi global tidak selalu dapat dibentuk hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.

Seseorang dapat memahami konsep komunikasi lintas budaya melalui buku. Namun, ketika ia harus berbicara, bekerja sama, dan membangun hubungan dengan orang yang memiliki cara pandang berbeda, pengetahuan tersebut memperoleh konteks yang lebih nyata.

Mahasiswa belajar bahwa perbedaan tidak harus menjadi jarak. Perbedaan justru dapat menjadi sumber pengetahuan ketika setiap orang bersedia mendengar dan berdialog.

Karena orientasinya bukan sekadar menyelenggarakan acara, persiapan I-YES 2026 juga tidak hanya diarahkan pada aspek teknis.

Koordinasi panitia menjadi ruang untuk menyatukan pemahaman mengenai berbagai kebutuhan program dan memastikan setiap unsur penyelenggaraan berjalan menuju tujuan yang sama.

Keselarasan antarpanitia menjadi penting agar program dapat disiapkan secara sistematis.

Lebih jauh, setiap rangkaian kegiatan perlu dipikirkan dari perspektif peserta: pengalaman apa yang akan mereka peroleh setelah mengikuti I-YES?

Pertanyaan tersebut menjadi penting dalam penyelenggaraan program internasional.

Sebuah kegiatan dapat berjalan sesuai jadwal, tetapi pengalaman belajar tidak otomatis terbentuk. Dibutuhkan desain kegiatan yang memberikan ruang bagi peserta untuk berinteraksi, terlibat, dan memperoleh sesuatu yang dapat dibawa pulang setelah program berakhir.

Karena itu, persiapan I-YES diarahkan tidak hanya pada kesiapan penyelenggaraan, tetapi juga untuk memastikan rangkaian program memiliki relevansi sebagai pengalaman belajar bagi peserta.

Tema “Voices Across Culture” membawa pesan sederhana tetapi penting: dialog dimulai dari kesediaan untuk mendengar.

Dalam lingkungan yang semakin terhubung, generasi muda akan semakin sering berhadapan dengan perbedaan bahasa, budaya, kebiasaan, pandangan, dan pengalaman.

Kemampuan memahami perbedaan tersebut menjadi semakin penting.

Humaniora memiliki posisi yang relevan dalam proses ini karena bahasa dan budaya berada di jantung kajian humaniora. Bahasa memungkinkan manusia menyampaikan pikiran, sedangkan budaya membantu manusia memahami konteks yang membentuk cara berpikir dan bertindak.

Ketika keduanya dipertemukan dalam dialog, peserta tidak hanya belajar tentang orang lain. Mereka juga dapat melihat kembali cara pandang dirinya sendiri.

Proses semacam inilah yang membuat perjumpaan lintas budaya memiliki nilai pendidikan.

Bagi Faculty of Humanities, I-YES 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman internasional mahasiswa.

Internasionalisasi perguruan tinggi tidak harus selalu dimaknai sebagai aktivitas yang berlangsung jauh dari kampus. Atmosfer internasional juga dapat dibangun dengan menghadirkan ruang perjumpaan global ke dalam proses pendidikan mahasiswa.

Melalui program seperti I-YES, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dengan keberagaman dalam lingkungan akademik mereka sendiri.

Pada saat yang sama, Faculty of Humanities dapat memperkuat posisinya sebagai ruang akademik yang terbuka terhadap pertukaran pengetahuan, budaya, dan perspektif.

Orientasi tersebut sejalan dengan tujuan I-YES 2026 untuk mempertemukan beragam suara dan pengalaman dalam dialog mengenai masa depan.

Rapat koordinasi pada 18 September menjadi satu tahap dari proses menuju pelaksanaan I-YES 2026.

Namun, keberhasilan program nantinya tidak hanya ditentukan oleh seberapa lancar seluruh agenda terlaksana.

Nilai yang lebih penting terletak pada apa yang terjadi ketika peserta bertemu: percakapan yang mereka bangun, perspektif baru yang mereka peroleh, relasi yang terbentuk, serta pengalaman yang tetap mereka ingat setelah kegiatan berakhir.

Itulah mengapa persiapan menjadi penting.

Humaniora tidak hanya sedang menyiapkan sebuah kegiatan internasional. Fakultas sedang membangun ruang agar bahasa menjadi jembatan, perbedaan menjadi sumber belajar, dan perjumpaan lintas budaya berkembang menjadi pengalaman akademik yang bermakna.

Melalui “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future,” I-YES 2026 membawa semangat bahwa masa depan yang semakin terhubung membutuhkan generasi muda yang bukan hanya mampu berbicara, tetapi juga bersedia mendengar, memahami perbedaan, berkolaborasi, dan membangun gagasan bersama melampaui batas budaya. [unr-sof/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait