HUMANIORA – (18/9/2026) Prestasi mahasiswa Faculty of Humanities kembali hadir dari arena nonakademik. Zid-li Auliyana Luthfillah, mahasiswa semester VII Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), berhasil meraih Juara I Seni Beregu Dewasa Jurus 1–6 tingkat nasional dalam ajang Batu Student Champion 2026, yang berlangsung pada 21–23 Agustus 2026.
Read too:
Dalam kompetisi pencak silat tersebut, Zid-li tidak tampil sendiri. Mahasiswa asal Malang itu berkolaborasi bersama Hasna Sakhiya dari Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dan Amelda Zakiyya dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI).

Kolaborasi ketiganya membuahkan hasil membanggakan. Mereka berhasil menampilkan kemampuan terbaik hingga mengamankan posisi pertama pada kategori Seni Beregu Dewasa Jurus 1–6.
Bagi Zid-li, capaian tersebut bukan sekadar tentang medali dan podium. Di balik keberhasilan tim, terdapat proses persiapan, kerja sama, dan kemampuan menghadapi situasi yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
“Saya senang mengikuti lomba ini karena mendapat juara 1. Salah satu teman saya sempat mengalami kendala ketika berangkat, tetapi alhamdulillah semua berjalan lancar,” ungkap Zid-li.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa sebuah prestasi tidak hanya dibangun ketika peserta berada di arena pertandingan. Ada kesiapan mental dan kekompakan yang harus dijaga, terlebih dalam kategori beregu yang menuntut setiap anggota mampu bergerak sebagai satu kesatuan.
Berbeda dengan penampilan individual, seni beregu dalam pencak silat membutuhkan koordinasi antarpesilat. Setiap anggota tim perlu menjaga keselarasan penampilan agar rangkaian jurus dapat disajikan dengan baik.
Karena itu, keberhasilan Zid-li bersama Hasna dan Amelda juga menjadi capaian kolektif. Mereka datang dari program studi berbeda, tetapi dipertemukan oleh pencak silat dan tujuan yang sama untuk memberikan penampilan terbaik.
Keberagaman latar belakang akademik tersebut justru memperlihatkan bahwa ruang pengembangan mahasiswa di perguruan tinggi dapat melampaui batas program studi. Kolaborasi dapat tumbuh melalui minat, bakat, dan aktivitas kemahasiswaan, termasuk olahraga prestasi.
Bagi Zid-li yang sehari-hari menempuh pendidikan di Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Faculty of Humanities, pencak silat menjadi ruang lain untuk mengembangkan dirinya. Di ruang akademik ia bertumbuh melalui pembelajaran dan keilmuan, sementara di arena pencak silat ia belajar mengenai kedisiplinan, konsistensi, keberanian, dan kerja sama.
Batu Student Champion 2026 diselenggarakan oleh IPSI Kabupaten Malang (Ikatan Pencak Silat Indonesia Kabupaten Malang) sebagai wadah prestasi dan pemasalan pencak silat guna mencetak generasi pesilat yang berkarakter, berprestasi, serta siap mengharumkan nama daerah maupun Indonesia.
Tujuan tersebut membuat kompetisi tidak berhenti pada pencarian pemenang. Arena pertandingan juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk menguji hasil latihan, membangun mental kompetitif yang sehat, serta menumbuhkan karakter melalui olahraga pencak silat.
Dalam konteks pendidikan mahasiswa, pengalaman mengikuti kompetisi semacam ini memiliki nilai yang penting. Mahasiswa belajar berhadapan dengan target, tekanan pertandingan, dinamika tim, dan situasi tidak terduga.
Apa yang dialami Zid-li dan tim sebelum pertandingan menjadi contoh sederhana. Kendala yang dialami salah satu anggota ketika hendak berangkat tidak menghentikan langkah mereka. Tim tetap mampu melewati situasi tersebut dan menuntaskan pertandingan dengan hasil terbaik.
Pada akhirnya, keberhasilan meraih juara pertama menjadi buah dari proses yang mereka jalani bersama.
Prestasi Zid-li turut memperlihatkan luasnya ruang aktualisasi mahasiswa Humaniora. Proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan, tugas, penelitian, dan kegiatan akademik, tetapi juga melalui pengalaman yang membentuk kemampuan personal dan sosial mahasiswa.
Pencak silat, misalnya, memiliki karakter yang kuat dalam membangun kedisiplinan. Latihan yang dilakukan secara berulang membutuhkan konsistensi, sementara pertandingan menuntut keberanian dan kesiapan mental.
Terlebih dalam kategori beregu, kemampuan individual perlu ditempatkan dalam kepentingan tim. Setiap anggota tidak hanya memikirkan penampilannya sendiri, tetapi juga bagaimana gerak dan ritmenya dapat selaras dengan anggota lainnya.
Kemampuan bekerja dalam tim tersebut menjadi pengalaman yang relevan bagi kehidupan mahasiswa. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka akan memasuki lingkungan sosial dan profesional yang juga membutuhkan kemampuan beradaptasi, bekerja sama, serta menyelesaikan persoalan bersama orang lain.
Karena itu, prestasi mahasiswa di bidang olahraga tidak berdiri terpisah dari proses pendidikan. Keduanya dapat berjalan beriringan dalam membentuk mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik sekaligus karakter dan daya juang.
Capaian di Batu Student Champion 2026 menambah pengalaman penting dalam perjalanan Zid-li sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab.
Juara I yang diraihnya bersama Hasna dan Amelda menjadi bukti bahwa mahasiswa dapat terus mengembangkan potensi di luar bidang akademik tanpa meninggalkan identitasnya sebagai pembelajar.
Bagi Faculty of Humanities, prestasi mahasiswa dalam berbagai bidang juga menunjukkan bahwa kampus merupakan rumah tumbuh mahasiswa. Setiap mahasiswa membawa potensi yang berbeda—mulai dari akademik, bahasa, seni, organisasi, hingga olahraga—yang dapat dikembangkan menjadi prestasi.
Dari arena pencak silat, Zid-li menunjukkan bahwa mahasiswa Arabic Language and Literature juga dapat berdiri di podium prestasi olahraga. Bersama dua rekannya, ia membawa pulang Juara I Seni Beregu Dewasa Jurus 1–6 tingkat nasional Batu Student Champion 2026.
Lebih dari sebuah gelar, pencapaian tersebut membawa cerita tentang kekompakan, ketekunan, dan kemampuan melewati kendala bersama. Sebuah pengalaman yang menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk terus tumbuh, baik di dalam maupun di luar ruang akademik. [sof/Infopub]





