HUMANIORA – (12/8/2026) Menjelang dimulainya perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memperkuat komitmen dosen terhadap peningkatan mutu akademik, profesionalisme, dan kualitas pendampingan mahasiswa. Semangat tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Awal Perkuliahan yang digelar di Meeting Room Lantai 1 Fakultas Humaniora Kampus 3, Rabu (12/8/2026).
Read too:
- Tingkatkan Mutu Akademik, Humaniora Libatkan Mahasiswa dalam Evaluasi Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Dihadiri jajaran pimpinan universitas, dekanat, ketua program studi, serta seluruh dosen Faculty of Humanities, forum tersebut tidak sekadar membahas kesiapan teknis perkuliahan. Momentum awal semester diarahkan menjadi ruang muhasabah akademik untuk mengevaluasi capaian sekaligus menyatukan langkah dalam membangun proses pendidikan yang semakin berkualitas dan produktif.

Dean Faculty of Humanities, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., menegaskan bahwa pergantian semester perlu dimaknai sebagai kesempatan untuk melihat kembali perjalanan akademik yang telah dilalui. Berbagai capaian pada semester sebelumnya perlu dipertahankan, sementara kekurangan dan tantangan menjadi pijakan untuk melakukan perbaikan.
“Kegiatan ini bukan hanya rutinitas, tetapi momen untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi apa yang sudah kita capai pada semester lalu, dan merumuskan strategi yang lebih baik untuk semester ini,” ujar Prof. Faisol.
Menurutnya, peningkatan mutu akademik tidak hanya bergantung pada kurikulum, fasilitas, maupun sistem pendukung pembelajaran. Kualitas pendidikan juga ditentukan oleh kesadaran dan komitmen setiap dosen dalam menjalankan perannya sebagai pendidik sekaligus bagian dari institusi.
Karena itu, Prof. Faisol mengajak seluruh dosen untuk kembali menempatkan visi dan misi Faculty of Humanities sebagai arah bersama. Aktivitas pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan keilmuan diharapkan memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan fakultas.

“Kita ini bagian dari visi besar Humaniora. Maka mari kita sadari keberadaan kita, untuk memberi yang terbaik dan mengemban amanah sebaik mungkin,” tegasnya.
Komitmen tersebut menjadi semakin penting seiring aktivitas akademik Faculty of Humanities di Kampus 3. Lingkungan dan fasilitas yang semakin representatif diharapkan tidak hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga menjadi energi baru bagi peningkatan produktivitas akademik dosen dan mahasiswa.
“Suasana di Kampus 3 sangat representatif. Kita harus produktif. Fakultas ini tempat kita bekerja dan kita mengabdi,” pesannya.
Bagi Faculty of Humanities, fasilitas pendidikan memperoleh makna ketika mampu mendorong lahirnya pembelajaran berkualitas, penelitian, publikasi ilmiah, inovasi akademik, serta berbagai karya yang memberikan manfaat lebih luas. Karena itu, peningkatan sarana perlu berjalan beriringan dengan penguatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam konteks pembelajaran, Prof. Faisol juga mengajak dosen untuk melihat berbagai persoalan yang muncul di ruang kelas sebagai bagian dari proses pengembangan ilmu. Keragaman karakter, kemampuan, latar belakang, dan kebutuhan mahasiswa dapat menjadi sumber refleksi untuk menemukan pendekatan pendidikan yang semakin relevan.
“Science muncul karena ada problem. Problem ini adalah cara Allah memberikan pelajaran dan hikmah kepada kita,” tuturnya.
Perspektif tersebut menempatkan tantangan pembelajaran bukan semata sebagai hambatan, tetapi sebagai ruang untuk melahirkan refleksi, inovasi, dan pengembangan keilmuan. Pengalaman dosen ketika menghadapi dinamika mahasiswa dapat menjadi titik awal untuk memperbaiki metode pembelajaran, melakukan kajian, serta menghasilkan gagasan akademik yang menjawab kebutuhan pendidikan.
Pada saat yang sama, profesionalisme dosen perlu berjalan bersama integritas dan kesadaran terhadap tanggung jawab sebagai pendidik. Prof. Faisol mengingatkan bahwa tugas dosen memiliki dimensi yang lebih luas karena tidak hanya berkaitan dengan penyampaian pengetahuan, tetapi juga pembentukan manusia.
“Kita semua telah disumpah untuk mengabdi. Inilah spirit perubahan, spirit menuju lebih baik,” tegasnya.
Ia mengajak para dosen untuk memandang Faculty of Humanities bukan semata sebagai tempat bekerja, tetapi sebagai ruang pengabdian. Kesempatan mendidik mahasiswa, melakukan penelitian, menghasilkan karya, dan mengembangkan ilmu merupakan amanah yang perlu dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Kita telah dipilih Allah untuk berada di sini. Fakultas adalah lahan bagi kita untuk mengabdi dan beribadah mendapatkan rida Allah,” ungkapnya.
Dalam arahannya, Prof. Faisol turut mengangkat pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai keseimbangan aktivitas lahiriah dan batiniah. Menurutnya, kualitas seorang pendidik tidak cukup dibangun melalui profesionalitas yang terlihat, tetapi juga membutuhkan ketulusan, integritas, kesabaran, dan tanggung jawab dalam menjalankan proses pendidikan.
Nilai tersebut menjadi semakin penting ketika dosen berhadapan langsung dengan mahasiswa yang memiliki karakter dan persoalan beragam. Pendidikan membutuhkan kompetensi akademik, sekaligus kemampuan memahami manusia yang sedang tumbuh dan berkembang.
Karena itu, empati menjadi salah satu perhatian penting dalam penguatan mutu pembelajaran Faculty of Humanities. Dosen diharapkan hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang memahami perkembangan mahasiswa dan mendampingi mereka menjadi insan berpengetahuan sekaligus berkarakter.
“Mari kita meningkatkan empati dan simpati kepada mahasiswa kita, untuk menjadikan mahasiswa kita terdidik, beradab, dan berilmu,” pesan Prof. Faisol.
Orientasi tersebut mempertegas karakter pendidikan Humaniora yang menempatkan pengetahuan dan pembentukan manusia sebagai satu kesatuan. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur melalui capaian akademik, tetapi juga melalui tumbuhnya kedewasaan, etika, kemampuan berpikir kritis, serta tanggung jawab mahasiswa di tengah masyarakat.
Selain kualitas pembelajaran, Faculty of Humanities terus mendorong peningkatan produktivitas akademik dosen. Aktivitas pengajaran diharapkan berjalan bersama penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, inovasi pembelajaran, dan berbagai karya akademik lainnya.
“Fakultas pada dasarnya mendorong semua dosen untuk berkarya. Mari kita menguatkan komitmen kita untuk turut memajukan fakultas kita tercinta,” ujarnya.
Produktivitas tersebut menjadi bagian penting dalam membangun reputasi akademik Faculty of Humanities. Setiap inovasi pembelajaran, penelitian, publikasi, dan kontribusi dosen tidak hanya menjadi capaian individual, tetapi turut memperkuat kualitas institusi serta memperluas manfaat keilmuan bagi masyarakat. Memasuki Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027, Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadikan muhasabah, profesionalisme, produktivitas, integritas, dan empati sebagai fondasi penguatan mutu pendidikan. Dengan dukungan lingkungan akademik yang semakin representatif dan komitmen sumber daya manusia yang terus diperkuat, fakultas meneguhkan langkah untuk menghadirkan pembelajaran berkualitas sekaligus melahirkan mahasiswa yang terdidik, beradab, berilmu, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat. [sof/Infopub]





