HUMANIORA – (31/8/2026) Reputasi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai institusi yang melahirkan lulusan berdaya saing global kembali diperkuat melalui kiprah para alumninya di berbagai sektor strategis internasional. Salah satu prestasi membanggakan tersebut ditorehkan oleh Muh Imam Multazami, S.Hum., Lc., alumni angkatan 2016 yang saat ini berkiprah sebagai Sekretaris Pribadi Duta Besar Oman.
Read too:
Karier yang dijalani Imam menunjukkan bahwa pendidikan humaniora memiliki relevansi yang kuat dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi tantangan global. Tidak hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan akademik, Faculty of Humanities juga membangun keterampilan komunikasi, pemahaman budaya, dan kemampuan adaptasi yang menjadi kompetensi penting dalam lingkungan kerja internasional.
Menurut Imam, salah satu pengalaman paling berkesan selama menempuh pendidikan di Faculty of Humanities adalah kualitas pembelajaran yang diberikan para dosen. Ia menilai para dosen Humaniora memiliki kemampuan menghadirkan suasana belajar yang kreatif, inovatif, dan inspiratif sehingga mahasiswa dapat memahami materi secara lebih mendalam sekaligus termotivasi untuk terus berkembang.
“Saya sangat bersyukur belajar di Faculty of Humanities karena para dosennya begitu kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi. Metode pembelajaran yang mereka gunakan membuat ilmu lebih mudah dipahami sekaligus menginspirasi,” ungkap Imam.
Baginya, proses pembelajaran yang berlangsung di Humaniora tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi akademik semata. Mahasiswa juga diajak untuk berpikir lebih luas, terbuka terhadap berbagai perspektif, serta mampu menghubungkan teori dengan realitas sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat. Pendekatan pembelajaran tersebut secara tidak langsung membentuk pola pikir yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja modern.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika Imam memasuki lingkungan kerja internasional yang menuntut kemampuan berkomunikasi secara efektif, memahami perbedaan budaya, serta mampu bekerja dalam situasi yang dinamis. Sebagai Sekretaris Pribadi Duta Besar Oman, ia berinteraksi dengan berbagai pihak dari latar belakang budaya yang beragam dan harus memastikan komunikasi berjalan secara profesional, tepat, dan elegan.
Dalam dunia diplomasi, kemampuan memahami konteks budaya sering kali menjadi faktor penentu keberhasilan komunikasi. Karena itu, menurut Imam, fondasi keilmuan yang diperoleh selama kuliah di Faculty of Humanities memberikan kontribusi besar terhadap kemampuannya menjalankan tugas di lingkungan diplomatik.
“Humaniora membekali saya bukan hanya dengan ilmu bahasa dan budaya, tetapi juga dengan cara berpikir yang kreatif dan terbuka. Itulah yang membuat saya mampu beradaptasi di dunia kerja internasional,” tambahnya.
Selain kemampuan bahasa, pendidikan Humaniora juga membentuk kepekaan terhadap perbedaan budaya dan cara pandang. Mahasiswa dibiasakan untuk memahami keberagaman, menghargai perspektif yang berbeda, serta mengembangkan kemampuan komunikasi yang efektif dalam berbagai konteks. Kompetensi inilah yang kini menjadi salah satu kekuatan utama Imam dalam menjalankan perannya di lingkungan diplomatik.
Keberhasilan Imam menunjukkan bahwa lulusan Humaniora memiliki peluang yang sangat luas untuk berkarier di tingkat internasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan profesional yang mampu menjembatani komunikasi lintas budaya, lulusan humaniora justru memiliki keunggulan kompetitif karena dibekali pemahaman mendalam mengenai bahasa, budaya, dan dinamika sosial global.
Bagi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, capaian alumni yang berhasil menembus dunia diplomasi internasional merupakan bentuk rekognisi atas kualitas pendidikan yang terus dikembangkan. Melalui kurikulum yang adaptif, pembelajaran yang inovatif, serta lingkungan akademik yang mendorong keterbukaan berpikir, fakultas terus berkomitmen menghasilkan lulusan yang siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
Kisah Muh Imam Multazami menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi diri dan berani meraih peluang di panggung internasional. Perjalanan kariernya membuktikan bahwa pendidikan Humaniora tidak hanya membuka wawasan akademik, tetapi juga membangun kompetensi global yang memungkinkan lulusan berkontribusi dalam berbagai bidang strategis dunia.
Melalui kiprah para alumninya di berbagai negara dan institusi internasional, Faculty of Humanities semakin memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan ilmu bahasa, sastra, dan budaya yang mampu melahirkan generasi profesional, adaptif, dan berdaya saing global. Dari ruang-ruang kelas Humaniora lahir lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mampu menjadi jembatan komunikasi dan kerja sama di tengah dunia yang semakin terhubung. [Sof/Infopub]





