MIU Login

Asrama Berhantu, Pendidikan Berjiwa: Kisah 9 Pejuang di Negeri Gajah Putih

Oleh: Abdinda Firdausi Nuzula

สวัสดีครับ (Sa-wat-dee). Halo. Ini kisahku, kisah pengalaman PKL atau I-Smash (International Student Mobility and Sharing) 2025 di Thailand, yang menjadi salah satu petualangan tak terlupakan. Thailand, dengan kekayaan budaya dan keramahan penduduknya, menjadi latar belakang sempurna bagi kisahku. Namun, bukan tempat wisata atau kuliner lezat yang paling membekas di benakku, melainkan sembilan gadis remaja yang membuka mataku tentang arti sebuah perjuangan dan pengorbanan.

Read too:

Kami, satu kelompok yang berjumlah tiga orang—aku sendiri, Najma, dan Nadia—ditugaskan di sebuah lembaga bernama Pattanasart Witthaya Tha Sae School, yang berada di Provinsi Chumphon, Thailand. Sekolah ini kecil, tetapi cukup luas dan dikelilingi rumput yang dipotong sangat rapi. Lingkungan sekolah terasa begitu hangat, seolah semua orang adalah keluarga. Tugasku adalah membantu staf pengajar dalam berbagai kegiatan, mulai dari mengajar Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Melayu, Qiro’ati Al-Qur’an, dan lainnya, hingga mendampingi kegiatan ekstrakurikuler serta melaksanakan program-program yang telah kami rencanakan.

Di sana, kami tinggal di sebuah asrama yang bangunannya paling ujung sekolah dan di belakangnya penuh dengan pohon sawit. Ada empat asrama untuk perempuan, di mana masing-masing terdapat dua kamar dan satu kamar mandi di dalamnya. Kamar itu terlihat sangat bersih dan baru dicat berwarna hijau muda.

Di hari pertama kami datang, pada hari Ahad, 27 Juli 2025, kami disambut oleh banyak guru yang sangat antusias. Sekolah terlihat sepi karena masih libur, tidak ada satu pun siswa. Setelah acara penyerahan dan jamuan makan, dosen pembimbing kami, Ustadzah Peny dan Pak Ridho, berpamitan untuk mengantarkan teman kami ke sekolah selanjutnya. Seketika itu, kami merasa gugup dan canggung, tetapi di luar ekspektasi kami, ternyata para guru di sana sangat ramah dan menganggap kami seperti keluarga sendiri.

Selama dua hari, karena masih libur, kami tinggal bertiga di asrama ditemani guru pamong yang rumah dinasnya juga berada di sekolah itu, tetapi bangunannya agak jauh dari asrama kami. Saat memasuki malam kedua, aku bermimpi aneh di kamar itu, tetapi aku tidak menceritakannya kepada siapa pun.

Hari berikutnya, setelah kegiatan sekolah dimulai, kami baru tahu ternyata ada siswa dan siswi yang juga tinggal di asrama bersama kami. Mereka berjumlah 15 orang: 9 perempuan, yaitu Hawa, Sania, Jasmin, Yamiya, Sobeeroh, Sanusia, I noon, Rasamee, dan Arobiyah; kemudian 6 laki-laki, yaitu Rofik, Bukoree, Abbas, Fu’as, dan Faaid. Hari-hari berlalu, kami semakin dekat dengan mereka, terutama pada 9 gadis yang asramanya memang berada di sebelah asrama kami. Mereka tinggal di asrama karena rumah mereka jauh dan setiap sore Jumat mereka akan pulang ke rumah karena sekolah libur pada hari Sabtu dan Ahad.

Kedekatan semakin terjalin ketika kami mengadakan program Tahfiz dan Tartil Al-Qur’an setiap malam setelah salat Magrib. Mereka selalu mengajak kami berbincang, meskipun terkendala bahasa. Mereka sangat minim dalam berbahasa Inggris, Arab, bahkan Melayu. Meskipun begitu, hal itu tidak menjadi penghalang bagi kami untuk berbincang dengan mereka karena kami menggunakan Google Translate.

Seperti biasa, setelah kegiatan TTahfiz dan Tartil Al-Qur’an dan salat Isya berjemaah, kami berkumpul. Kadang kami bercerita hingga larut malam, membeli jajanan di toko sekolah, dan banyak hal lain yang kami lakukan untuk mengisi kekosongan.

Sania, yang paling ekstrovert di antara mereka, memulai perbincangan pada saat itu, ไม่กลัวเหรอคะ? (Mai glua reo ka?)”

“Hah?” Aku menyodorkan Google Translate kepadanya.

Dan muncul kalimat, “Apakah kamu tidak takut?” katanya sambil tersenyum misterius. “Awalnya kami takut, tapi sekarang sudah biasa.”

Aku terkejut. “Ada apa? Cerita seram?”

Mereka mengangguk serempak. “ใช่ (châi). Iya, sering ada suara aneh di malam hari. Terkadang ada bayangan yang lewat di lorong. Bahkan, Sobeeroh pernah melihat sosok aneh di depan kamarnya.”

Saya menelan ludah. “Kalian tidak takut?”

“Awalnya takut sekali,” jawab Sania. “Tapi kami selalu membaca doa bersama sebelum tidur. Lagipula, kami di sini untuk belajar. Rasa takut itu tidak sebanding dengan cita-cita kami.”

Kata-kata Sania membuatku terdiam. Di usia yang masih sangat muda, mereka sudah memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Mereka rela tinggal di tempat yang menyeramkan, jauh dari keluarga, hanya demi mendapatkan pendidikan Islam yang layak. Mereka tahu betul betapa berharganya kesempatan ini, karena menurut mereka di Provinsi Chumphon, Thailand, hanya ada dua sekolah Islam—salah satunya adalah Pattanasart Witthaya Tha Sae ini dan yang lainnya merupakan sekolah Tahfiz. Jadi, karena rumah mereka jauh, mereka tinggal di asrama.

Setiap malam, saat kami kembali ke asrama, pikiranku dipenuhi oleh sembilan gadis itu. Mereka bukan hanya sekadar siswi, melainkan pejuang. Mereka mengajariku arti ketulusan, pengorbanan, dan keteguhan iman. Mereka tidak mengeluh tentang keterbatasan fasilitas, tidak takut pada cerita-cerita seram, dan tidak merasa kesepian meskipun jauh dari rumah. Mereka saling menguatkan dan menjadi keluarga satu sama lain.

Suatu malam, kami bertiga sedang mengerjakan sebuah proyek untuk sekolah, yaitu media pembelajaran berupa kamus empat bahasa (Arab, Inggris, Indonesia, dan Thailand). Kami mengerjakannya bersama-sama dalam satu malam, dan besoknya kami minta bantuan Pak Dekan, Ustaz Faisol, dan guru Thailand, Khru Nissa, untuk men-tashih. Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari tiga hari, kamus itu selesai. Benar saja, tengah malam aku terbangun karena suara langkah kaki di luar kamar. Jantungku berdebar kencang. Aku menoleh ke arah jendela, dan samar-samar, ada suara ketukan pintu dari luar. Aku menutup mata rapat-rapat, membaca doa dalam hati, dan mencoba menenangkan diri.

Setelah kejadian itu, kami bertiga hampir setiap malam mendengar suara-suara aneh. Salah satu teman kami, Nadia, sangat penakut, sehingga jika sudah malam hari, ke mana pun ia harus ditemani dan ditunggu. Untuk mencoba menenangkannya, aku selalu berkata, “Buat apa takut? Toh, hantu di Thailand kita tidak ada yang tahu dan tidak sama seperti di Indonesia yang ada pocong, kuntilanak, dan lainnya,” sambil menahan tawa.

Keesokan harinya, temanku menceritakan pengalamanku yang sering mendengar suara-suara dan melihat sosok aneh pada mereka. Mereka semakin terkejut dan tertawa.

“Iya, sudah kami bilang. Makhluk-makhluk itu juga butuh teman,” canda Sania.

“Kami juga pernah melihat sosok yang berbayang di sekolah, dan dua tahun lalu kakak saya kesurupan saat tinggal di asrama,” lanjut Jasmin.

Pengalaman itu mengubah pandanganku. Dulu, aku sering menganggap remeh hal-hal kecil. Tapi, melihat sembilan gadis yang berjuang di negara minoritas muslim ini, aku merasa malu. Mereka telah mengajariku bahwa setiap kesulitan adalah ujian, dan setiap pengorbanan adalah jalan menuju kebaikan. Seperti firman Allah SWT dalam Surat Al-Ankabut ayat 69:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَإِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

Wal-ladzīna jāhadū fīnā lanahdiyannahum subulanā, wa innallāha lama’al-muḥsinīn(a).

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Meskipun ayat ini sering dikaitkan dengan jihad dalam peperangan, banyak ulama tafsir yang juga menafsirkan jihad di dalamnya termasuk perjuangan dalam menuntut ilmu. Seorang yang berjuang keras di tengah kesulitan untuk mencari ilmu demi Allah, mereka termasuk dalam golongan ini. Ayat ini adalah janji langsung dari Allah bahwa Dia akan menunjukkan jalan keluar dan pertolongan kepada mereka yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya.

Sebelum aku kembali ke Indonesia, aku menghabiskan malam terakhirku di asrama bersama mereka. Kami makan malam bersama, membaca Al-Quran, menonton film, bernyanyi bersama, dan saling mendoakan. Saat aku pamit, air mataku menetes. Pelukan mereka terasa begitu tulus. Kisah ini menyoroti bagaimana menuntut ilmu, terutama ilmu agama, adalah bentuk perjuangan yang setara dengan jihad. Sembilan gadis remaja itu rela meninggalkan kenyamanan rumah, menghadapi ketakutan di asrama berhantu, dan beradaptasi di lingkungan minoritas demi mengejar pendidikan Islam. Pengorbanan mereka membuktikan bahwa nilai sebuah ilmu jauh lebih berharga daripada rasa takut dan kesulitan.

Pengalaman PKL di Thailand ini memberiku banyak pelajaran. Banyak sekali pengalaman yang luar biasa di sana, tetapi yang paling berkesan dan inginku bagikan kisahnya adalah kisah sembilan gadis pejuang ini. Mereka adalah pahlawan-pahlawan kecil yang berjuang demi pendidikan dan keyakinan mereka. Kisah mereka akan selalu menjadi pengingat bagiku, bahwa di balik setiap kesulitan, ada kekuatan yang luar biasa. Dan di balik setiap pengorbanan, ada keberkahan yang tak terduga.

*Penulis adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan merupakan peserta I-Smash 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait