HUMANIORA – (14/9/2026) Ada banyak cara menghadirkan nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan kampus. Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memilih memadukan refleksi, sholawat, semangat berbagi, dan kebersamaan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Jumat (11/9/2026).
Read too:
Di Aula Faculty of Humanities Gedung Y Ar-Rahim, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa berkumpul dalam suasana yang berganti antara khusyuk dan penuh keceriaan. Mereka bersholawat bersama, mengikuti pembacaan Mahallul Qiyam, berbagi jajanan, hingga larut dalam kemeriahan pembagian ratusan doorprize.

Namun, di balik kemeriahan tersebut terdapat pesan yang lebih substantif. Mengusung tema “Refleksi Profetik untuk Meneguhkan dan Menguatkan Budaya Integritas Civitas Akademika”, peringatan Maulid diarahkan menjadi ruang untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan akademik.
Integritas, tanggung jawab, kepedulian, dan kebersamaan menjadi nilai yang ingin dirawat bersama. Sebab, kualitas sebuah lingkungan akademik tidak hanya ditentukan oleh prestasi dan keunggulan keilmuan, tetapi juga oleh karakter orang-orang yang tumbuh dan bekerja di dalamnya.

Nuansa religius telah terasa sejak awal kegiatan. Lantunan hadrah dan pembacaan Maulid membuka rangkaian acara, kemudian dilanjutkan dengan sholawat bersama serta pembacaan puisi dan sholawat.
Suasana tersebut membawa sivitas akademika keluar sejenak dari rutinitas perkuliahan, pelayanan, pekerjaan, dan berbagai agenda kelembagaan.


Dalam satu ruang yang sama, mahasiswa bertemu dengan dosen dan tenaga kependidikan bukan hanya dalam hubungan akademik maupun administratif. Mereka hadir sebagai bagian dari keluarga besar Humaniora yang bersama-sama memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Momen tersebut menjadi penting karena sebuah fakultas pada hakikatnya tidak hanya dibangun melalui sistem, program, dan fasilitas. Di dalamnya terdapat manusia dan relasi yang perlu terus dirawat.
Karena itu, Maulid juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai unsur sivitas akademika dan memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan fakultas.

Di tengah suasana tersebut, tema refleksi profetik memberikan arah yang lebih mendalam bagi kegiatan.
Maulid tidak berhenti sebagai agenda seremonial keagamaan. Keteladanan Rasulullah menjadi titik berangkat untuk merefleksikan bagaimana nilai-nilai profetik dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari sivitas akademika.
Bagi mahasiswa, integritas dapat tumbuh melalui kejujuran dalam menjalani proses akademik, tanggung jawab terhadap pilihan dan tugas, serta kesungguhan mengembangkan diri.
Bagi dosen, nilai tersebut dapat hadir dalam menjalankan amanah pendidikan dan pembinaan mahasiswa. Sementara bagi tenaga kependidikan, integritas menjadi bagian penting dari profesionalitas dan kualitas pelayanan.
Dengan demikian, keteladanan Rasulullah memperoleh konteks yang nyata di lingkungan perguruan tinggi.
Nilai profetik tidak hanya dibicarakan dalam ruang keagamaan, tetapi dapat hidup dalam cara seseorang belajar, bekerja, melayani, berinteraksi, dan memperlakukan orang lain.
Inilah pesan yang ingin diteguhkan melalui peringatan Maulid Humaniora integritas perlu tumbuh menjadi budaya bersama, bukan sekadar nilai yang tertulis.
Salah satu momen yang memperkuat suasana religius adalah pembacaan Mahallul Qiyam.
Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa bersama-sama mengikuti lantunan sholawat sebagai ungkapan kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam momen tersebut, batas-batas aktivitas formal kampus seakan melebur dalam kebersamaan yang sederhana.
Kekhusyukan itu menjadi salah satu wajah Maulid Humaniora.
Namun, kegiatan tidak hanya menghadirkan suasana reflektif. Selepas rangkaian yang khidmat, atmosfer perlahan berubah menjadi lebih cair dan penuh kegembiraan.
Keceriaan terasa ketika sesi pembagian doorprize dimulai.
Faculty of Humanities menyiapkan lebih dari 350 doorprize untuk peserta yang terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Ketika nama penerima hadiah diumumkan, tepuk tangan, sorak, dan senyum peserta membuat suasana aula semakin hidup.
Ada yang menunggu namanya disebut. Ada yang ikut bertepuk tangan ketika rekannya mendapatkan hadiah. Ada pula kegembiraan sederhana ketika hadiah berpindah tangan kepada penerimanya.
Justru momen-momen kecil seperti itulah yang membuat peringatan Maulid terasa dekat dengan sivitas akademika.
Doorprize bukan ditempatkan sebagai inti kegiatan, melainkan menjadi salah satu cara sederhana untuk menciptakan interaksi dan kegembiraan bersama.
Kemeriahan semakin lengkap dengan hadirnya dua gunungan jajanan dan berbagai camilan yang disediakan bagi peserta.
Gunungan jajanan tersebut tidak hanya menjadi elemen yang menarik perhatian di tengah aula. Kehadirannya sekaligus menghadirkan nuansa berbagi. Setelah rangkaian refleksi dan sholawat, sivitas akademika dapat menikmati sajian sambil berinteraksi dalam suasana yang lebih santai dan akrab.
Di balik dua gunungan jajanan dan ratusan hadiah terdapat pesan yang sederhana kebahagiaan terasa lebih bermakna ketika dibagikan.
Semangat berbagi memiliki hubungan yang dekat dengan nilai profetik yang ingin dihidupkan melalui Maulid. Kepedulian terhadap orang lain, membangun hubungan yang baik, dan menghadirkan kebahagiaan merupakan bagian dari nilai sosial yang dapat terus ditumbuhkan dalam kehidupan kampus.
Karena itu, kebersamaan dalam peringatan Maulid tidak harus selalu hadir melalui sesuatu yang formal.
Ia dapat tumbuh melalui duduk bersama, bersholawat bersama, saling menyapa, menikmati jajanan, tertawa ketika nama teman mendapatkan hadiah, hingga berbagi kegembiraan dalam ruang yang sama.
Interaksi semacam ini penting bagi kehidupan sebuah institusi. Lingkungan akademik yang sehat tidak hanya membutuhkan sistem yang baik, tetapi juga hubungan antarmanusia yang hangat.
Pada akhirnya, kemeriahan Maulid Nabi di Faculty of Humanities tidak berhenti ketika rangkaian acara selesai.
Nilai terpenting justru terletak pada apa yang dibawa kembali oleh sivitas akademika ke ruang kelas, ruang kerja, pelayanan, organisasi mahasiswa, dan kehidupan sehari-hari.
Keteladanan Rasulullah diharapkan menemukan bentuknya dalam kejujuran, amanah, tanggung jawab, kepedulian, serta cara memperlakukan sesama.
Dalam konteks itulah budaya integritas memperoleh makna yang lebih luas.
Integritas bukan hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan. Ia juga menyangkut konsistensi antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dilakukan.
Begitu pula kebersamaan. Ia tidak berhenti pada berkumpulnya banyak orang dalam satu kegiatan, tetapi tumbuh ketika setiap unsur fakultas memiliki kepedulian terhadap lingkungan akademiknya.
Perpaduan antara lantunan sholawat, refleksi keteladanan, Mahallul Qiyam, dua gunungan jajanan, dan ratusan doorprize akhirnya menghadirkan wajah Maulid yang khas di Humaniora khusyuk dalam bersholawat, hangat dalam kebersamaan, dan meriah dalam berbagi kebahagiaan.
Melalui momentum tersebut, Faculty of Humanities meneguhkan bahwa membangun lingkungan akademik yang unggul tidak cukup hanya melalui ilmu pengetahuan dan prestasi. Integritas, tanggung jawab, kepedulian, dan kebersamaan juga perlu terus dirawat sebagai karakter yang hidup di tengah sivitas akademika. Dari Maulid Nabi Muhammad SAW, semangat itu kembali dihidupkan meneladani Rasulullah melalui nilai, merawat Humaniora melalui kebersamaan. [unr-sof/Infopub]





