HUMANIORA – (11/9/2026) Di tengah perkembangan teknologi dan artificial intelligence (AI) yang semakin cepat, kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan. Namun, perubahan cara belajar, bekerja, dan menggunakan teknologi tidak boleh membuat sivitas akademika kehilangan fondasi nilai. Kompetensi harus terus berkembang, sementara integritas dan akhlak harus tetap menjadi pijakan.
Read too:
Pesan inilah yang menjadi salah satu refleksi penting Dekan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., dalam mauidhoh hasanah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Jumat (11/9/2026).

Maulid kali ini tidak semata ditempatkan sebagai momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Melalui tema “Refleksi Profetik untuk Meneguhkan dan Menguatkan Budaya Integritas Civitas Akademika”, Faculty of Humanities mengajak sivitas akademika membawa nilai-nilai keteladanan Nabi lebih dekat dengan realitas kehidupan kampus dan tantangan zaman.
Bagi Prof. Faisol, kecintaan kepada Rasulullah harus memiliki dampak pada kualitas manusia yang meneladaninya. Cinta tidak berhenti pada ungkapan, tetapi perlu bergerak menjadi akhlak, tindakan, kemauan memperbaiki diri, serta kesiapan menghadapi perubahan.

“Kecintaan kepada Rasulullah jangan berhenti pada ungkapan. Kecintaan itu harus melahirkan keteladanan dan perubahan dalam kehidupan kita. Maulid menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri, sejauh mana nilai-nilai yang dibawa Rasulullah telah hadir dalam kehidupan kita,” tutur Prof. Faisol.
Prof. Faisol mengawali refleksinya dengan membawa jamaah melihat kembali perjalanan historis peringatan Maulid Nabi.
Ia antara lain mengisahkan Raja al-Mudzaffar yang mengadakan perayaan Maulid dengan menghadirkan para ulama dan tamu dalam sebuah jamuan besar. Perayaan tersebut juga disertai dengan sedekah dan kepedulian kepada masyarakat.
Kisah tersebut menjadi pengantar untuk memahami bahwa ekspresi cinta kepada Rasulullah memiliki dimensi sosial. Kecintaan tidak hanya hadir dalam perayaan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kebaikan yang manfaatnya dirasakan orang lain.
Refleksi serupa muncul ketika Prof. Faisol mengangkat kisah Abu Lahab. Dalam sejumlah riwayat yang populer dalam pembahasan Maulid, Abu Lahab dikisahkan menunjukkan kegembiraan atas kelahiran keponakannya, Muhammad bin Abdullah, dengan memerdekakan Tsuwaibah.
Kisah tersebut menjadi bahan renungan mengenai ekspresi kegembiraan atas kelahiran Rasulullah. Jika kegembiraan itu memiliki tempat dalam berbagai riwayat, umat Islam semestinya mampu membawa kecintaan kepada Nabi menuju bentuk yang lebih substantif akhlak dan amal kebaikan.
Prof. Faisol juga mengingatkan pentingnya sholawat sebagai ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sholawat bukan hanya amalan yang mendekatkan hati kepada Nabi, tetapi sekaligus menjadi pengingat agar umat tetap memiliki hubungan spiritual dengan sosok yang menjadi teladan utama dalam kehidupan.
Dari refleksi mengenai kecintaan kepada Rasulullah, Prof. Faisol kemudian membawa pesan Maulid pada persoalan yang sangat dekat dengan dunia akademik perubahan zaman menuntut manusia untuk terus meningkatkan kualitas dirinya.
Menurutnya, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang beriman kepada Allah SWT. Rasulullah juga membangun manusia yang memiliki pengetahuan, kemampuan, dan kesiapan untuk menjalani kehidupan.
Dalam konteks perguruan tinggi, pesan tersebut memperoleh relevansi tersendiri. Meneladani Rasulullah juga berarti memiliki kemauan untuk belajar, memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang terus berubah.
“Rasulullah tidak hanya mengajarkan kita bagaimana menjadi orang yang beriman, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang mampu menjalani dan membangun kehidupan. Karena itu, kita harus terus meningkatkan kualitas diri dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan tantangan zaman,” jelasnya.
Pesan tersebut menjadi penting bagi sivitas akademika Humaniora. Dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa berada dalam lingkungan yang terus berubah. Transformasi teknologi mengubah proses belajar, pola kerja, komunikasi, bahkan cara manusia memproduksi dan memperoleh pengetahuan.
Karena itu, kualitas akademik tidak cukup dibangun hanya dengan mempertahankan kemampuan yang telah dimiliki. Sivitas akademika juga perlu memiliki kesediaan untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensi baru.
Perubahan itu kini semakin nyata dengan hadirnya artificial intelligence (AI).
Prof. Faisol melihat AI bukan lagi sesuatu yang berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Teknologi tersebut telah memasuki dunia pendidikan, pekerjaan, komunikasi, hingga produksi pengetahuan. Karena itu, pilihan yang dihadapi sivitas akademika bukan lagi menerima atau menolak keberadaan AI, melainkan bagaimana mempersiapkan diri agar mampu hidup dan bekerja secara tepat di tengah perubahan tersebut.
“Sekarang AI sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita akan berhadapan dengan AI, tetapi apakah kita sudah memiliki kompetensi untuk hidup dan bekerja di tengah perubahan tersebut. Kita membutuhkan kompetensi kontemporer yang sesuai dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Pandangan tersebut menempatkan kemampuan adaptasi sebagai bagian penting dari pengembangan sivitas akademika.
Bagi mahasiswa, kompetensi akademik perlu terus diperkaya dengan kemampuan yang relevan dengan dunia yang akan mereka hadapi. Bagi dosen, perubahan menjadi tantangan untuk terus mengembangkan proses pembelajaran dan keilmuan. Sementara bagi tenaga kependidikan, teknologi membuka ruang transformasi pelayanan yang semakin efektif dan responsif.
Dengan demikian, perkembangan teknologi tidak semestinya dihadapi dengan ketakutan ataupun penolakan. Yang dibutuhkan adalah kesiapan manusia untuk memahami, menggunakan, dan menempatkannya secara tepat.
Di sinilah pesan Maulid yang disampaikan Prof. Faisol menemukan titik terpentingnya.
Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi tidak berarti meninggalkan nilai yang menjadi fondasi kehidupan. Sebaliknya, semakin besar kemampuan teknologi, semakin penting pula integritas, etika, tanggung jawab, dan kemanusiaan dimiliki oleh orang yang menggunakannya.
Teknologi, dalam pandangan tersebut, tetap merupakan instrumen. Nilai dari sebuah teknologi sangat ditentukan oleh manusia yang memanfaatkannya. Karena itu, pengembangan kompetensi harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter.
“Kita boleh berubah dalam cara dan teknologi yang kita gunakan, tetapi nilai-nilai dasar tidak boleh hilang. Kompetensi harus berkembang, sementara integritas dan akhlak tetap menjadi fondasi,” tegas Prof. Faisol.
Pesan ini sekaligus mempertemukan dua hal yang kerap dianggap berjalan sendiri-sendiri kemajuan dan nilai.
Sivitas akademika Humaniora perlu terbuka terhadap perkembangan pengetahuan dan teknologi, tetapi keterbukaan tersebut harus tetap dituntun oleh integritas. Kemampuan menggunakan AI, misalnya, perlu berjalan bersama tanggung jawab akademik. Kemajuan teknologi perlu diimbangi kesadaran etis. Kompetensi profesional perlu ditopang karakter.
Tema “Refleksi Profetik untuk Meneguhkan dan Menguatkan Budaya Integritas Civitas Akademika” dengan demikian tidak berhenti sebagai tema seremonial.
Ia menemukan konteksnya dalam kehidupan sehari-hari di perguruan tinggi.
Nilai profetik dapat hadir melalui kejujuran mahasiswa dalam menjalani proses akademik, tanggung jawab dosen dalam pendidikan dan pengembangan ilmu, profesionalitas tenaga kependidikan dalam pelayanan, serta etika seluruh sivitas akademika ketika berhadapan dengan teknologi dan perubahan.
Integritas kemudian bukan sekadar sesuatu yang dibicarakan, melainkan budaya yang perlu dibangun bersama.
Di sinilah Maulid Nabi memiliki makna institusional bagi Faculty of Humanities. Peringatan kelahiran Rasulullah menjadi ruang untuk menghubungkan kembali spiritualitas dengan kehidupan akademik; antara kecintaan kepada Nabi dan kualitas diri; antara kemampuan mengikuti perubahan dan keteguhan menjaga nilai.
Sivitas akademika tidak harus memilih antara menjadi manusia yang berpegang pada nilai dan menjadi manusia yang mampu mengikuti perkembangan zaman. Keduanya justru perlu berjalan bersama.
Melalui momentum Maulid, Faculty of Humanities mengajak sivitas akademikanya untuk meneruskan semangat Rasulullah dalam membangun manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, sekaligus mampu menjawab tantangan zamannya.
Pada akhirnya, refleksi tersebut membawa satu pesan yang sederhana tetapi relevan bagi kehidupan akademik hari ini mencintai Rasulullah berarti terus belajar menjadi manusia yang lebih baik—tanpa kehilangan nilai, tetapi juga tanpa takut menghadapi perubahan. [unr-sof/Infopub]





