
Oleh: A. Fahmi Fahrurrozi* Marhaban tiba Marhaban Tiba. Tiba-tiba Ramadan. Tiba-tiba Ramadan… Tentunya kita tidak asing dengan penggalan lirik yang keliru diucapkan oleh salah satu artis di tanah air. Sekilas memang seperti guyonan.tapi lihatlah justru dari situ banyak konten yang muncul. Yang semakin kreatif dan lucu. Banyak lagu-lagu spesial edisi
Oleh: Makhiulil Kirom* Bulan suci Ramadhan senantiasa disambut dengan sukacita oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Ia dikenal sebagai bulan kemuliaan, keberkahan, rahmat, dan ampunan dari Allah Swt. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa pada bulan inilah diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia (QS. al-Baqarah: 185), dan pada bulan ini pula diwajibkan
Oleh: Achmad Diny Hidayatullah* Kita hidup di zaman yang gemar mengukur segala sesuatu dengan angka. Jurusan dinilai dari prospek kerja. Penelitian diukur dari hilirisasi. Bahkan minat dan bakat pun ditanya: “Bisa jadi cuan nggak? Ilmu-ilmu humaniora—sastra, bahasa, filsafat, sejarah, antropologi—sering ditempatkan di sudut ruangan dengan pertanyaan klasik: “Lulusannya jadi apa?”
Oleh: Ahmad Ghozi* Di tanah Jawa, agama tidak hadir di ruang kosong. Ia tumbuh di atas lapisan kepercayaan dan kebudayaan yang lebih dahulu mengakar. Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara telah mengenal ritus, simbol, dan tata nilai yang membentuk cara mereka memahami kehidupan. Karena itu, ketika Islam hadir sebagai agama
Oleh: Arief Rahman Hakim* Puasa itu unik. Sangat unik. Kalau salat, orang bisa lihat kita berdiri dan rukuk. Zakat, orang bisa tahu kita memberi. Haji, apalagi—foto-fotonya bisa tersebar ke mana-mana. Tapi puasa? Siapa yang benar-benar tahu kita puasa atau tidak? Hanya dua: kita dan Allah SWT. Di zaman serba digital
Oleh: Nur Hasaniyah* Hari keempat Ramadhan telah tiba. Setelah hembusan rahmat yang menyapa di hari pertama, kini jiwa kita memasuki fase yang lebih dalam: maghfirah, pengampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang melimpah ruah. Puasa bukan lagi sekadar penahanan nafsu, melainkan undangan terbuka untuk membersihkan hati dari noda masa lalu. Dalam
Oleh: Nur Hasaniyah* Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momen sakral bagi umat Islam, di mana puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana introspeksi diri dan penguatan spiritual. Dalam perspektif humaniora, khususnya bahasa dan sastra Arab, Ramadhan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sumber inspirasi yang kaya
Oleh: Ustaz Tamim Mulloh, S.S., M.Pd. Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir sama: masjid penuh, tilawah meningkat, linimasa media sosial dipenuhi ayat dan hadis. Namun ada satu pertanyaan yang menurut saya jarang kita jawab dengan jujur: apakah Ramadhan benar-benar mengubah kita? Baca juga: Bagi saya, Ramadhan bukan sekadar
Oleh: Ustaz H. M. Faisol Fatawi Seperti pada umumnya, Ramadhan menjadi bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam. Kehadirannya sungguh sangat didambakan. Bukan saja karena Ramadhan menjadi momentum dari salah satu bulan yang dimuliakan dalam agama Islam, tetapi secara kultural telah melahirkan praktik budaya penyambutan yang beragam di tengah masyarakat.
HUMANIORA – (6/1/2025) Perkembangan kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) telah menjadi salah satu penanda paling kuat dari perubahan zaman. Mesin kini tidak hanya membantu manusia menghitung dan menyimpan data, tetapi juga mampu menulis teks, menerjemahkan bahasa, menganalisis wacana, bahkan menciptakan karya seni. Di tengah euforia efisiensi dan kecepatan ini,