
Tidak banyak teknologi yang mampu mengubah kehidupan manusia secepat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah masuk ke hampir setiap aspek kehidupan. Kita menggunakannya untuk mencari informasi, menerjemahkan bahasa, membuat presentasi, menulis laporan, mengedit gambar, bahkan membantu mengambil keputusan dalam dunia bisnis. Baca juga: Perubahan
Memasuki dunia perkuliahan adalah salah satu fase penting dalam kehidupan seseorang. Bagi banyak mahasiswa baru, hari pertama di kampus dipenuhi rasa penasaran, semangat, sekaligus kecemasan. Mereka mulai mengenal lingkungan baru, bertemu dosen dan teman-teman dari berbagai daerah, serta membayangkan seperti apa perjalanan akademik yang akan mereka tempuh selama empat tahun
Ketika seseorang memutuskan menjadi mahasiswa, yang berubah bukan hanya statusnya, tetapi juga cara pandangnya terhadap dunia. Dunia kampus menawarkan pengalaman yang jauh lebih luas daripada sekadar menghadiri kuliah, mengerjakan tugas, atau mengikuti ujian. Ia menjadi ruang untuk bertumbuh, belajar hidup bersama orang lain, menemukan minat, membangun karakter, dan mempersiapkan masa
Ada perjalanan yang tidak hanya membawa seseorang berpindah tempat, tetapi juga mengubah cara ia memandang dirinya sendiri. Bagi saya, pengalaman mengikuti program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) di Thailand merupakan salah satu perjalanan semacam itu. Program ini bukan sekadar agenda mobilitas mahasiswa atau praktik lapangan di luar negeri, melainkan
Sepanjang sejarah, setiap lompatan besar dalam perkembangan peradaban selalu diawali oleh lahirnya teknologi baru. Penemuan mesin cetak mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan. Revolusi industri mengubah cara manusia bekerja. Internet menghubungkan miliaran orang tanpa mengenal batas geografis. Kini, dunia kembali memasuki babak baru melalui kehadiran Artificial Intelligence (AI), teknologi yang mampu memproses
Beberapa tahun terakhir, satu pertanyaan semakin sering muncul di ruang-ruang diskusi pendidikan maupun media sosial: Apakah lulusan humaniora masih dibutuhkan di masa depan? Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini mampu menerjemahkan dokumen dalam hitungan detik, menulis artikel, menganalisis data, bahkan
HUMANIORA – (6/7/2026)Transformasi pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh perubahan kurikulum atau penyusunan dokumen capaian pembelajaran. Di balik keberhasilan implementasi Outcome-Based Education (OBE), terdapat dimensi yang sering luput mendapat perhatian, yakni keyakinan (beliefs) dosen terhadap proses belajar, hakikat pengetahuan, dan karakteristik mahasiswa. Dimensi psikologis inilah yang menjadi fokus
Bagi sebagian orang, mendengar istilah Fakultas Humaniora mungkin langsung mengingatkan pada pelajaran bahasa, sastra, atau sejarah. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa kuliah di bidang humaniora hanya berkutat pada membaca novel, menghafal tata bahasa, atau mempelajari karya-karya klasik. Baca juga: Di tengah dunia yang semakin didominasi teknologi, kecerdasan buatan, dan
Oleh: Dr. Nur Hasaniyah, S.Ag., M.A. Setiap 23 Juli, Hari Anak Nasional (HAN) diperingati sebagai pengingat bahwa tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab bersama. Namun ada satu dimensi yang sering luput dari perbincangan publik: bahasa. Padahal bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah wadah tempat adab, cara berpikir, dan nilai
Oleh: Lativa Husna Setiap perjalanan selalu menyimpan cerita. Namun, ada perjalanan tertentu yang bukan hanya menghadirkan pengalaman baru, melainkan juga mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Bagi saya, pengalaman mengikuti program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) Humaniora di Thailand adalah salah satunya. Program ini bukan sekadar kegiatan Praktik Kerja