
Setiap tahun, ribuan lulusan SMA di Indonesia dihadapkan pada pertanyaan yang sama: jurusan apa yang akan dipilih untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi? Sebagian besar mulai mempertimbangkan prospek kerja, minat pribadi, hingga perkembangan dunia di masa depan. Di tengah banyaknya pilihan program studi yang tersedia, Sastra Arab sering kali menjadi
Ketika mendengar kata laboratorium, sebagian besar orang langsung membayangkan ruangan penuh tabung reaksi, mikroskop, atau berbagai peralatan sains. Gambaran tersebut memang tidak salah, tetapi laboratorium tidak selalu identik dengan ilmu-ilmu eksakta. Baca juga: Di Fakultas Humaniora, laboratorium memiliki wajah yang berbeda. Ia bukan sekadar ruang yang dipenuhi perangkat belajar, melainkan
Memilih program studi adalah salah satu keputusan penting yang akan menentukan arah perjalanan seseorang di masa depan. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan perubahan dunia kerja yang berlangsung begitu cepat, banyak calon mahasiswa mulai bertanya: apakah ilmu bahasa dan humaniora masih relevan? Jawabannya bukan hanya relevan,
Tidak banyak teknologi yang mampu mengubah kehidupan manusia secepat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah masuk ke hampir setiap aspek kehidupan. Kita menggunakannya untuk mencari informasi, menerjemahkan bahasa, membuat presentasi, menulis laporan, mengedit gambar, bahkan membantu mengambil keputusan dalam dunia bisnis. Baca juga: Perubahan
Memasuki dunia perkuliahan adalah salah satu fase penting dalam kehidupan seseorang. Bagi banyak mahasiswa baru, hari pertama di kampus dipenuhi rasa penasaran, semangat, sekaligus kecemasan. Mereka mulai mengenal lingkungan baru, bertemu dosen dan teman-teman dari berbagai daerah, serta membayangkan seperti apa perjalanan akademik yang akan mereka tempuh selama empat tahun
Ketika seseorang memutuskan menjadi mahasiswa, yang berubah bukan hanya statusnya, tetapi juga cara pandangnya terhadap dunia. Dunia kampus menawarkan pengalaman yang jauh lebih luas daripada sekadar menghadiri kuliah, mengerjakan tugas, atau mengikuti ujian. Ia menjadi ruang untuk bertumbuh, belajar hidup bersama orang lain, menemukan minat, membangun karakter, dan mempersiapkan masa
Ada perjalanan yang tidak hanya membawa seseorang berpindah tempat, tetapi juga mengubah cara ia memandang dirinya sendiri. Bagi saya, pengalaman mengikuti program International Student Mobility and Sharing (I-SMASH) di Thailand merupakan salah satu perjalanan semacam itu. Program ini bukan sekadar agenda mobilitas mahasiswa atau praktik lapangan di luar negeri, melainkan
Sepanjang sejarah, setiap lompatan besar dalam perkembangan peradaban selalu diawali oleh lahirnya teknologi baru. Penemuan mesin cetak mempercepat penyebaran ilmu pengetahuan. Revolusi industri mengubah cara manusia bekerja. Internet menghubungkan miliaran orang tanpa mengenal batas geografis. Kini, dunia kembali memasuki babak baru melalui kehadiran Artificial Intelligence (AI), teknologi yang mampu memproses
Beberapa tahun terakhir, satu pertanyaan semakin sering muncul di ruang-ruang diskusi pendidikan maupun media sosial: Apakah lulusan humaniora masih dibutuhkan di masa depan? Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini mampu menerjemahkan dokumen dalam hitungan detik, menulis artikel, menganalisis data, bahkan
HUMANIORA – (6/7/2026)Transformasi pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh perubahan kurikulum atau penyusunan dokumen capaian pembelajaran. Di balik keberhasilan implementasi Outcome-Based Education (OBE), terdapat dimensi yang sering luput mendapat perhatian, yakni keyakinan (beliefs) dosen terhadap proses belajar, hakikat pengetahuan, dan karakteristik mahasiswa. Dimensi psikologis inilah yang menjadi fokus