
Oleh: M. Faisol Ramadhan mengubah denyut kehidupan. Kota yang biasanya bising pada siang hari mendadak melambat, seakan ikut menahan diri bersama mereka yang berpuasa. Warung makan menutup tirai, lalu lintas terasa berbeda, dan percakapan di ruang-ruang publik menjadi lebih tertata. Sebaliknya, ketika matahari terbenam, kehidupan justru menemukan iramanya yang lain.
Oleh: Agwin Degaf* Ramadan selalu dimaknai sebagai bulan pengendalian diri. Selama berpuasa, umat Islam tidak hanya diminta menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu dalam arti yang lebih luas, termasuk menjaga ucapan. Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Ketika seseorang berpuasa, ia
Oleh: M. Anwar Masadi* Bagi Umat Islam puasa memiliki nilai yang khusus. Puasa tidak hanya berhubungan dengan persoalan jasady (tubuh) dengan mampunya sesseorang menahan lapar saja, tetapi juga persoalan ruhy atau pengelolaan diri (menahan jiwa). Ketika kecil kita sudah diajarkan bagaimana Ramadhan itu begitu spesial, sehingga persiapannya juga begitu spesial.
Oleh: Wildana Wargadinata* Secara bahasa Al-Mīzān berasal dari kata wazn, memiliki arti menimbang, mengukur, menentukan kadar sesuatu. Secara konseptual wazn adalah proses pengukuran atau tindakan menilai berat, nilai, atau kualitas sesuatu. Sedangkan secara filosofis wazn adalah aktifitas evaluatif, ia melambangkan fungsi akal dan keadilan, menimbang sebelum memutuskan. Dalam perspektif yang
Oleh: Muhammad Hasyim* Di dalam rangkaian ayat-ayat puasa, tepatnya di dalam surah Al-Baqarah ayat 186, Allah berfirman: وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan
Oleh: Muhammad Mubasysyir Munir* Setiap Ramadhan, kita menyaksikan perubahan yang terasa serempak di ruang-ruang kehidupan. Masjid lebih ramai, jadwal makan bergeser, lantunan ayat suci terdengar di berbagai sudut, dan ucapan “selamat berbuka” membanjiri percakapan, baik secara langsung maupun di media sosial. Ada ritme yang berubah dan suasana yang berbeda dari
Oleh: Istiadah* Puasa sering kali dipahami sebatas kewajiban ritual tahunan. Kita menahannya dari lapar dan haus, menunggu azan magrib, lalu merasa tugas telah selesai. Padahal, jika kita melihatnya dari perspektif sains otak, puasa adalah momen emas untuk melakukan rewiring—menyetel ulang “perkabelan” di dalam diri kita. Ia bukan hanya latihan spiritual,
Oleh: Halimi Zuhdy* Bagi mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, khususnya mahasiswa sastra dan bahasa Arab, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan ruang teks yang hidup, ia sebuah “diwan” tahunan yang bisa dibaca dari berbagai sudut, ada tubuh, bahasa, dan masyarakat. Siangnya adalah narasi disiplin dan penahanan diri, malamnya metafora cahaya,
Oleh: Nur Hasaniyah* Hari kelima Ramadhan telah menyapa kita dengan kehangatan rohani yang semakin dalam. Setelah rahmat dan maghfirah yang mengalir di hari-hari sebelumnya, kini saatnya membangkitkan semangat قيام الليل (qiyām al-lail) – bangun malam untuk beribadah. Puasa siang hari melatih ketabahan fisik, sementara malam Ramadhan menjadi panggung bagi jiwa
Oleh: Khafid Roziki* Ramadan sering dipahami sebagai bulan ibadah yang sarat nilai spiritual. Namun jika ditelaah lebih dalam, Ramadan juga merupakan ruang latihan pengendalian diri yang sangat sistematis. Puasa tidak hanya berbicara tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang bagaimana manusia mengelola dorongan fisik, emosi, dan hasrat sosialnya secara lebih