
HUMANIORA – (6/1/2025) Perkembangan kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI) telah menjadi salah satu penanda paling kuat dari perubahan zaman. Mesin kini tidak hanya membantu manusia menghitung dan menyimpan data, tetapi juga mampu menulis teks, menerjemahkan bahasa, menganalisis wacana, bahkan menciptakan karya seni. Di tengah euforia efisiensi dan kecepatan ini,
HUMANIORA – (5/1/2026) Bagi mahasiswa, kata “liburan” sering kali memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia adalah muara dari kelelahan setelah bergelut dengan tumpukan teks, analisis wacana, dan diskusi filosofis yang menguras energi. Di sisi lain, liburan adalah ruang laboratorium bebas di mana teori-teori tentang manusia, bahasa, dan budaya yang
HUMANIORA (17/3/2025) – Bahasa merupakan alat utama dalam berkomunikasi. Tanpa bahasa, komunikasi tidak akan berjalan dengan sempurna. Lebih dari sekadar alat tukar informasi, bahasa juga memiliki peran penting dalam dunia sastra. Melalui bahasa, sastra hadir sebagai wadah untuk menangkap, mengungkapkan, dan menyebarkan gagasan, ide, serta pemikiran. Namun, di tengah tingginya
HUMANIORA (6/3/2025) – Ketika berbicara tentang puasa, sebagian besar umat Islam mungkin hanya mengenal istilah Shiyam sebagai rujukan. Namun, dalam kajian bahasa Arab, ternyata ada dua istilah yang memiliki perbedaan makna mendalam: Shouman dan Shiyaman. Topik ini menjadi sorotan utama dalam podcast bersama Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd.I., seorang ahli bahasa
HUMANIORA (6/3/2025) – Di bulan Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah mereka. Salah satu amalan yang tak terpisahkan adalah berpuasa, yang harus diawali dengan niat. Namun, ada perbedaan dalam melafalkan niat puasa, terutama pada kata Ramadhan. Perbedaan ini menjadi topik menarik dalam sebuah podcast yang menghadirkan Dr. Halimi Zuhdy,
Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M.Si., CIQnR Di suatu forum ujian, terjadi tanya jawab antara dosen dan mahasiswa yang diuji. Dosen menanyakan metode penelitian apa yang digunakan untuk menyelesaikan tugas akhir. Mahasiswa menjawab “metode penelitian kualitatif.” Selanjutnya dosen mengajukan beberapa pertanyaan teknis, seperti berapa lama penelitian dilakukan, apa saja
Apa Itu Kuasi Kualitatif?[1] Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M.Si., CIQnR.[2] Dalam metode penelitian dikenal sebuah desain penelitian yang disebut “kuasi kualitatif.” Tidak jarang konsep ini membingungkan, terutama bagi peneliti pemula. Ada yang menganggap “kuasi kualitatif” sama dengan kualitatif atau disebut deskriptif kualitatif, sebuah konsep yang dianggap salah kaprah. Para
Tulisan ke-12 Mudjia Rahardjo Jika sudah berhasil menemukan masalah yang akan diteliti dan menyusun rumusan masalah dalam kalimat pertanyaan yang spesifik, selanjutnya peneliti menjelaskan masalah tersebut melalui teori yang tersusun dalam satu kerangka teoretik. Kerangka teoretik sering disebut theoretical perspective, theoretical review, atau theoretical rationale (Silalahi, 2017:156). Menurut Moh. Nasir
(Tulisan ke-11) Mudjia Rahardjo Seperti halnya penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif juga memiliki beragam jenis (types). Ada juga yang menyebutnya metode (methods) dan pendekatan (approaches), sehingga sering menimbulkan kebingungan. Untuk mengatasi kebingungan, solusinya adalah pilih saja satu istilah, gunakan secara konsisten dan tidak perlu mempermasalahkan keragaman istilah tersebut. Pahami esensi makna
Tulisan ke-10 Mudjia Rahardjo Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif berangkat dari akar pemikiran filosofis yang berbeda, sehingga wajar jika keduanya menggunakan metode, prosedur dan teknik pengumpulan data berbeda. Untuk memudahkan pemahaman, perbedaan tersebut diuraikan dalam tabel berikut: No Metode Kuantitatif Metode Kualitatif 1 Berangkat dari paradigma positivistik yang memandang bahwa