MIU Login

Tutup I-YES 2026, Dekan Humaniora Dorong Kolaborasi Global Berkelanjutan

HUMANIORA – (2/10/2026) Kemajuan perguruan tinggi di tengah dunia yang semakin terhubung tidak dapat dibangun melalui kerja sendiri-sendiri. Kolaborasi menjadi kebutuhan strategis untuk mempertemukan gagasan, memperluas pengetahuan, memperkaya perspektif, dan membuka ruang inovasi yang memungkinkan institusi berkembang melampaui batas geografis dan budaya.

Baca juga:

Bagi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan dalam agenda internasionalisasi. Kolaborasi global tidak hanya dimaknai sebagai membangun hubungan dengan institusi atau menghadirkan mahasiswa dari berbagai negara, tetapi sebagai upaya menciptakan ruang perjumpaan yang memungkinkan lahirnya pengetahuan, jejaring, dan gagasan baru untuk kemajuan bersama.

Foto : Peserta internasional menyimak rangkaian Closing Ceremony I-YES 2026 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan Dekan Fakultas Humaniora, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., dalam penutupan International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026, Jumat (2/10/2026), di Auditorium Lantai 3 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Menurut Prof. Faisol, perjumpaan mahasiswa dari berbagai negara dalam I-YES 2026 tidak semestinya berhenti sebagai pengalaman sesaat. Pertemuan lintas budaya dan akademik tersebut perlu dikembangkan menjadi jejaring yang lebih luas dan berkelanjutan.

Kolaborasi global, dalam konteks tersebut, menjadi salah satu jalan bagi Humaniora untuk memperkuat kemajuan akademik, memperluas pertukaran budaya, sekaligus membuka peluang kerja sama yang dapat memberikan dampak lebih luas bagi sivitas akademika dan masyarakat.

Foto : Peserta internasional, panitia, pimpinan, serta sivitas akademika Fakultas Humaniora mengabadikan momen bersama dalam Closing Ceremony I-YES 2026

I-YES 2026 karena itu tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengalaman antarmahasiswa dari berbagai negara. Program tersebut menjadi bagian dari strategi Humaniora untuk memperkuat ekosistem internasional melalui perjumpaan, dialog, dan pengalaman bersama.

Kemajuan akademik membutuhkan keterbukaan terhadap pengetahuan dan pengalaman dari berbagai lingkungan. Melalui kolaborasi, perguruan tinggi memiliki kesempatan untuk saling belajar, menguji gagasan, mengembangkan inovasi, dan membangun kerja bersama yang tidak mungkin dilakukan secara optimal jika bergerak sendiri.

Dalam konteks Humaniora, kolaborasi global memiliki dimensi yang lebih luas. Bahasa, sastra, budaya, dan kehidupan manusia selalu bergerak dalam ruang yang lintas batas. Karena itu, mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari berbagai latar menjadi bagian penting dalam memperluas perspektif keilmuan sekaligus memperkuat relevansi pendidikan humaniora di tingkat global.

I-YES 2026 menghadirkan ruang tersebut melalui berbagai aktivitas akademik dan budaya. Peserta tidak hanya mengikuti forum internasional, tetapi juga terlibat dalam kunjungan sekolah, intercultural talk, kelas budaya, permainan tradisional, hingga eksplorasi berbagai destinasi di Malang Raya.

Setiap aktivitas menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan memahami. Dari proses tersebut, kolaborasi tidak lagi hadir sebagai konsep abstrak, tetapi tumbuh melalui pengalaman dan hubungan antarmanusia.

Prof. Faisol menekankan pentingnya menumbuhkan semangat berprestasi dan bereputasi internasional di kalangan mahasiswa. Pengalaman berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara diharapkan dapat mendorong sivitas akademika untuk semakin terbuka terhadap dunia dan berani mengambil bagian dalam jejaring global.

Bagi Humaniora, jejaring tersebut merupakan modal penting untuk pengembangan institusi. Hubungan yang dibangun melalui I-YES dapat menjadi pintu bagi berbagai kemungkinan kolaborasi pada masa mendatang, baik dalam bidang akademik, penelitian, publikasi, mobilitas mahasiswa, maupun pengembangan program internasional.

Dengan demikian, keberhasilan I-YES tidak hanya dilihat dari terlaksananya seluruh rangkaian kegiatan. Nilai strategisnya terletak pada sejauh mana perjumpaan yang telah dibangun mampu berkembang menjadi hubungan yang berkelanjutan.

Kolaborasi global juga tidak berarti melepaskan identitas. Justru melalui perjumpaan dengan masyarakat dan budaya lain, mahasiswa memiliki kesempatan untuk semakin memahami identitas dan kekayaan budayanya sendiri.

Sepanjang I-YES 2026, peserta diperkenalkan dengan berbagai aspek budaya Indonesia melalui gamelan, tari, batik, makanan tradisional, permainan tradisional, kunjungan sekolah, serta interaksi langsung dengan masyarakat.

Pengalaman tersebut menempatkan mahasiswa bukan hanya sebagai peserta program internasional, tetapi juga sebagai bagian dari proses memperkenalkan Indonesia kepada dunia.

Semangat inilah yang membuat internasionalisasi Humaniora memiliki dua arah: membuka diri untuk belajar dari dunia sekaligus membawa kekayaan Indonesia ke ruang global.

Penutupan I-YES 2026 pada akhirnya bukan sekadar penanda berakhirnya sebuah program. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa setiap perjumpaan dapat menjadi awal dari hubungan baru, setiap hubungan dapat berkembang menjadi kolaborasi, dan setiap kolaborasi dapat membuka jalan menuju kemajuan.

Bagi Fakultas Humaniora, memperkuat kolaborasi global berarti memperkuat kapasitas untuk belajar, berinovasi, dan memberikan kontribusi dalam lingkungan pendidikan tinggi yang semakin terhubung.

Karena itu, semangat I-YES 2026 diharapkan tidak berhenti di akhir program. Persahabatan yang terbentuk, perspektif yang bertemu, serta jejaring yang terbangun perlu terus dirawat menjadi energi baru bagi Humaniora untuk memperluas kerja sama dan memperkuat kehadirannya di panggung global. [sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait