HUMANIORA – (2/10/2026)Setiap perjumpaan membawa cerita, dan setiap peserta menghadirkan cara berbeda untuk memberi warna di dalamnya. Demikian pula dalam International Youth Enhancing Study (I-YES) 2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Enam peserta yang menerima penghargaan pada penghujung program menjadi representasi dari beragam bentuk partisipasi, kreativitas, dan semangat kolaborasi yang tumbuh selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Baca juga:
Penghargaan tersebut diberikan dalam acara penutupan I-YES 2026 di Auditorium Lantai 3 Fakultas Humaniora, Jumat (2/10/2026). Keenam peserta tampil menonjol dalam kategori yang berbeda, mulai dari peserta terbaik dan peserta terfavorit hingga kemampuan dalam permainan gamelan, menari, membatik, serta aktivitas outbound.

Lebih dari sekadar penghargaan personal, capaian tersebut memperlihatkan bagaimana I-YES menghadirkan ruang bagi peserta dari berbagai latar negara dan budaya untuk saling mengenal melalui pengalaman bersama. Perbedaan bahasa, budaya, dan kebiasaan justru menemukan titik temu melalui seni, permainan, pembelajaran, dan interaksi selama program.
Enam penghargaan diberikan kepada peserta yang menunjukkan karakter dan kontribusi berbeda selama mengikuti I-YES 2026. Farah Naz dari Pakistan meraih penghargaan sebagai Peserta Terbaik sekaligus Terbaik Kategori Aktivitas Outbound. Penghargaan tersebut menempatkannya sebagai salah satu peserta yang menonjol dalam keseluruhan rangkaian sekaligus aktif dalam kegiatan yang mengedepankan kerja sama dan kebersamaan.

Sementara itu, Muhammed Camara dari Gambia mendapat penghargaan sebagai Peserta Terfavorit. Kategori ini memperlihatkan kuatnya apresiasi antarpeserta yang tumbuh melalui interaksi selama program.
Dari ranah seni budaya, Prisca Livania Do Rego Tilman dari Timor Leste meraih penghargaan Terbaik Kategori Permainan Gamelan. Pengalaman memainkan salah satu instrumen budaya Nusantara menjadi bagian dari proses peserta mengenal Indonesia secara lebih dekat.
Baby Farhana Tunggay dari Filipina dinobatkan sebagai Terbaik Kategori Menari, sementara M. Afrin Hidayatullah dari Indonesia meraih penghargaan Terbaik Kategori Membatik. Kedua kategori tersebut menunjukkan bagaimana seni menjadi salah satu medium penting dalam mempertemukan peserta lintas budaya.
Keberagaman kategori penghargaan tersebut memperlihatkan bahwa I-YES memberikan ruang yang luas bagi peserta untuk berekspresi. Setiap aktivitas tidak hanya menjadi bagian dari agenda program, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenal budaya, membangun komunikasi, dan menemukan pengalaman bersama.
Pemberian penghargaan menjadi bentuk apresiasi Fakultas Humaniora terhadap peserta yang telah berkontribusi aktif dalam menghidupkan rangkaian I-YES 2026. Kehadiran mereka dari berbagai negara memperkaya suasana program sekaligus menghadirkan perspektif yang beragam dalam ruang perjumpaan global.
Enam peserta tersebut pada akhirnya membawa cerita yang berbeda dari I-YES. Ada yang dikenang melalui kemampuan menari, memainkan gamelan, membatik, mengikuti aktivitas outbound, membangun kedekatan dengan peserta lain, hingga menunjukkan partisipasi terbaik sepanjang program.
Ragam pencapaian itu menegaskan bahwa perjumpaan global tidak selalu dibangun melalui forum akademik formal. Ia juga dapat tumbuh melalui pengalaman sederhana ketika peserta belajar memainkan alat musik, mengenal seni tradisional, bekerja dalam sebuah permainan, atau berbagi pengalaman dengan teman dari negara lain.
Dalam konteks tersebut, I-YES menjadi ruang pembelajaran lintas budaya yang mempertemukan keberagaman dalam pengalaman bersama. Penghargaan kepada enam peserta menjadi salah satu penanda bahwa setiap kontribusi memiliki arti dalam membangun suasana program yang terbuka, kolaboratif, dan penuh apresiasi terhadap perbedaan.
Pada akhirnya, penghargaan bukan menjadi titik akhir dari perjalanan I-YES 2026. Enam peserta tersebut membawa pulang lebih dari sekadar sertifikat atau apresiasi. Mereka membawa pengalaman tentang Indonesia, persahabatan dengan peserta dari berbagai negara, serta cerita tentang sebuah perjumpaan yang mempertemukan perbedaan dalam ruang kemanusiaan yang sama.
Dari gamelan hingga membatik, dari permainan hingga persahabatan, keenam peserta telah memberikan warna tersendiri bagi I-YES 2026. Di situlah nilai penting perjumpaan global: berbeda dalam latar, bersama dalam pengalaman, dan terhubung melalui semangat belajar serta kolaborasi. [sof/Infopub]





