MIU Login

Transformasi Layanan Akademik, Humaniora Integrasikan Tugas Akhir melalui SIUJI

HUMANIORA – (16/9/2026) Mengelola tugas akhir mahasiswa melibatkan banyak tahapan dan aktor akademik. Dari pengajuan judul, proses bimbingan, seminar proposal, ujian komprehensif, ujian tugas akhir hingga yudisium, setiap tahap membutuhkan koordinasi antara mahasiswa, dosen, dan program studi. Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai mengintegrasikan rangkaian tersebut melalui SIUJI (Sistem Informasi Ujian Integratif).

Baca juga:

Transformasi tersebut bukan sekadar memindahkan proses akademik ke dalam sistem digital. Lebih jauh, SIUJI diarahkan untuk membangun tata kelola tugas akhir yang lebih terintegrasi, terdokumentasi, dan adaptif terhadap kebutuhan sivitas akademika.

Sebagai bagian dari persiapan implementasi, Fakultas Humaniora menggelar sosialisasi SIUJI bagi dosen pada Selasa (15/9/2026) di Ruang Meeting Lantai 1. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah untuk menyamakan persepsi dosen mengenai alur, fungsi, serta penggunaan sistem dalam mendukung proses akademik mahasiswa.

Foto : Para dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengikuti sosialisasi Sistem Informasi Ujian Integratif (SIUJI) sebagai bagian dari transformasi layanan akademik berbasis digital untuk mengintegrasikan pengelolaan tugas akhir mahasiswa secara lebih efektif, terukur, dan transparan.

Sosialisasi melibatkan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Humaniora Dr. H. Halimi, M.Pd., Ketua Informasi dan Publikasi Fakultas Humaniora Khafid Roziki, M.Pd., serta Pranata Komputer Fakultas Humaniora Ulya Nuzulir Rohmah, S.Kom.

Bagi Fakultas Humaniora, penerapan sistem akademik digital membutuhkan lebih dari kesiapan teknologi. Dosen sebagai salah satu aktor utama dalam perjalanan akademik mahasiswa perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai prosedur dan fungsi sistem. Hal inilah yang ditekankan Dr. Halimi saat membuka sosialisasi.

Foto : Sivitas akademika Fakultas Humaniora menyimak pemaparan penggunaan SIUJI dalam forum sosialisasi

“Memasuki semester baru, kita perlu memiliki pemahaman yang sama dalam penggunaan SIUJI. Aplikasi ini diharapkan dapat membantu mengintegrasikan seluruh tahapan proses akademik mahasiswa,” ujarnya.

Kesamaan pemahaman menjadi penting karena teknologi tidak akan bekerja secara optimal apabila setiap pengguna memiliki interpretasi dan prosedur yang berbeda. Dalam konteks SIUJI, dosen terlibat langsung dalam sejumlah tahapan penting perjalanan tugas akhir mahasiswa, terutama bimbingan, seminar proposal, ujian komprehensif, dan ujian tugas akhir. Keseragaman penggunaan sistem diharapkan membantu koordinasi antarpihak berjalan lebih efektif. Karena itu, sosialisasi tidak hanya memperkenalkan aplikasi baru. Kegiatan tersebut juga menjadi proses membangun pemahaman bersama tentang bagaimana teknologi ditempatkan untuk mendukung tata kelola akademik.

Salah satu kekuatan SIUJI berada pada cakupan proses yang diintegrasikan. Sistem ini mencakup rangkaian pengajuan judul tugas akhir, bimbingan, seminar proposal, ujian komprehensif, ujian tugas akhir, hingga yudisium. Selama perjalanan menyelesaikan tugas akhir, mahasiswa berhadapan dengan berbagai proses akademik. Pada saat yang sama, dosen dan program studi juga memiliki peran masing-masing dalam memastikan setiap tahap berjalan sesuai prosedur. Dengan menghubungkan berbagai proses tersebut, SIUJI diarahkan menjadi salah satu instrumen yang membantu mahasiswa, dosen, dan program studi melihat perjalanan akademik secara lebih terstruktur.

Dalam sosialisasi tersebut, Khafid Roziki, M.Pd. memberikan gambaran mengenai penggunaan dan manfaat SIUJI. Pemaparan difokuskan pada pengenalan fungsi aplikasi dan posisi sistem dalam mendukung pengelolaan ujian integratif mahasiswa. Pemahaman mengenai fungsi ini penting agar pengguna tidak hanya mengetahui cara mengoperasikan aplikasi, tetapi juga memahami alasan sistem tersebut digunakan dan bagaimana setiap proses di dalamnya saling berhubungan.

Setelah memperoleh gambaran mengenai fungsi dan alur SIUJI, sosialisasi dilanjutkan dengan praktik penggunaan aplikasi. Ulya Nuzulir Rohmah, S.Kom., memandu peserta untuk mengenali penggunaan sistem secara langsung. Melalui demonstrasi tersebut, dosen dapat melihat tahapan serta fitur yang akan mereka gunakan dalam proses akademik. Dengan demikian, pemahaman peserta tidak berhenti pada penjelasan konseptual, tetapi langsung dihubungkan dengan praktik penggunaan sehari-hari.

Pendekatan tersebut menjadi penting dalam proses transformasi digital. Sebuah sistem baru membutuhkan proses adaptasi. Pengguna perlu mengetahui bukan hanya fungsi teknologi, tetapi juga alur kerja yang berubah ketika sistem mulai diterapkan. Karena itu, kombinasi antara penjelasan akademik, pengenalan fungsi, dan praktik penggunaan menjadi bagian dari upaya menyiapkan implementasi SIUJI secara lebih terarah.

Integrasi layanan akademik pada akhirnya berkaitan erat dengan koordinasi. Dalam proses tugas akhir, mahasiswa membutuhkan arahan dosen. Dosen menjalankan fungsi pembimbingan dan pengujian. Sementara program studi memastikan proses akademik berjalan sesuai tahapan dan ketentuan yang berlaku.

SIUJI diarahkan untuk menyediakan ruang digital yang mendukung keterhubungan tersebut. Dengan pemahaman yang sama sejak awal semester, koordinasi antara mahasiswa, dosen, dan program studi diharapkan dapat berjalan lebih terarah. Di titik inilah digitalisasi memperoleh makna yang lebih substantif.

Teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi menjadi instrumen untuk membantu proses akademik berjalan lebih sistematis dan terdokumentasi. Bagi mahasiswa, sistem yang terintegrasi dapat membantu memahami perjalanan tugas akhir sebagai satu rangkaian proses. Bagi dosen, sistem membantu menempatkan perannya dalam setiap tahapan akademik. Sementara bagi program studi, integrasi tersebut menjadi bagian dari pengelolaan proses akademik secara lebih terstruktur.

Penerapan SIUJI juga menjadi bagian dari langkah Fakultas Humaniora merespons kebutuhan layanan akademik yang semakin digital. Transformasi tersebut penting karena perkembangan institusi membawa konsekuensi pada kebutuhan pengelolaan informasi yang semakin sistematis. Ketika berbagai tahapan akademik berada dalam satu alur yang terintegrasi, data dan proses dapat dikelola secara lebih terarah. Pada saat yang sama, sivitas akademika memiliki kerangka kerja yang sama dalam menjalankan proses tugas akhir. Karena itu, kesiapan teknologi perlu berjalan bersama kesiapan penggunanya.

Sosialisasi kepada dosen menjadi salah satu tahapan untuk membangun kesiapan tersebut. Kesamaan persepsi yang dibangun sejak awal diharapkan mengurangi perbedaan pemahaman ketika SIUJI digunakan dalam proses akademik.

Lebih jauh, langkah ini menunjukkan bahwa inovasi layanan akademik tidak hanya berkaitan dengan menghadirkan aplikasi baru. Transformasi membutuhkan sistem yang relevan, pengguna yang memahami alurnya, serta koordinasi yang konsisten antarunit akademik. Dengan satu sistem yang menghubungkan pengajuan judul, bimbingan, seminar proposal, ujian komprehensif, ujian tugas akhir hingga yudisium, Fakultas Humaniora mulai membangun pengelolaan proses tugas akhir yang lebih terintegrasi.

Namun, keberhasilan transformasi tidak hanya bergantung pada sistem. Teknologi baru memperoleh manfaat ketika orang-orang yang menggunakannya memiliki pemahaman yang sama dan mengetahui perannya masing-masing. Karena itu, penyamaan persepsi dosen menjadi fondasi penting sebelum sistem digunakan lebih luas dalam perjalanan akademik mahasiswa.

Dari sosialisasi SIUJI, Humaniora menegaskan satu arah pengembangan layanan: digitalisasi bukan sekadar mengganti proses manual dengan aplikasi, tetapi membangun ekosistem akademik yang lebih terhubung, terstruktur, dan berorientasi pada kebutuhan mahasiswa. [unr-sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait