MIU Login

Shandyka Naraya Sukma Raih Best Pitching di Bengkel Keusahawanan Belia Islam MABIMS 2026

HUMANIORA – (17/9/2026) Berangkat ke Brunei Darussalam membawa nama Indonesia, Shandyka Naraya Sukma, mahasiswa semester VIII Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pulang dengan pengalaman yang lebih dari sekadar mengikuti workshop. Bersama kelompoknya, mahasiswa asal Ketapang, Kalimantan Barat tersebut berhasil meraih 1st Place for Best Pitching Group dalam Bengkel Keusahawanan Belia Islam MABIMS 2026.

Baca juga:

Kegiatan berlangsung pada 17–20 Agustus 2026 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Program tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Hal Ehwal Ugama (Ministry of Religious Affairs) Negara Brunei Darussalam bekerja sama dengan Brunei Economic Development Board (BEDB).

Foto : Shandyka Naraya Sukma berhasil meraih penghargaan Best Pitching, menandai kemampuan mahasiswa Humaniora dalam mengomunikasikan ide secara meyakinkan di forum internasional.

Bengkel Keusahawanan Belia Islam MABIMS 2026 mempertemukan peserta dari Indonesia, Malaysia, Uganda, dan Brunei Darussalam. Pertemuan lintas negara tersebut membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar tentang kewirausahaan sekaligus bertukar pengalaman, membangun jejaring, dan melihat dunia bisnis melalui perspektif yang lebih luas.

Bagi Shandyka, kesempatan tersebut menjadi pengalaman internasional yang memberikan kesan mendalam.

“Workshop yang sangat memberikan dampak yang baik serta berguna, terkhusus untuk anak muda di luar sana yang sangat penuh dengan ambisi mengenai dunia bisnis. Saya pribadi merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari peserta untuk mewakili Indonesia. It changes and gives me many perspectives about many things,” ungkap Shandyka.

Foto : Shandyka Naraya Sukma menerima sertifikat penghargaan pada penutupan Bengkel Keusahawanan Belia Islam MABIMS 2026 di Brunei Darussalam.

Keikutsertaan Shandyka menarik karena ruang pengembangan mahasiswa Sastra Inggris tidak berhenti pada bidang bahasa dan sastra. Dalam program ini, ia memasuki lingkungan yang berbeda kewirausahaan, pengembangan ide bisnis, dan pitching dalam forum internasional.

Di sinilah pengalaman tersebut memperoleh relevansinya bagi pengembangan mahasiswa. Dunia profesional saat ini menuntut kemampuan yang semakin lintas disiplin. Kompetensi akademik perlu berjalan bersama kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, membangun gagasan, dan menyampaikannya secara meyakinkan kepada orang lain.

Keterlibatan keduanya memperlihatkan bagaimana mahasiswa dengan latar belakang akademik berbeda dapat bertemu dalam ruang pengembangan yang sama.

Kewirausahaan memang tidak selalu dibatasi oleh disiplin ilmu tertentu. Sebuah gagasan membutuhkan kemampuan membaca kebutuhan, berkomunikasi, bekerja sama, serta mengubah ide menjadi sesuatu yang memiliki nilai.

Bagi mahasiswa bidang bahasa, pengalaman tersebut juga memberikan kesempatan untuk melihat bahwa kompetensi yang mereka bangun selama kuliah dapat digunakan dalam berbagai konteks profesional.

Ketika berada dalam forum yang mempertemukan peserta dari sejumlah negara, kemampuan komunikasi bahkan memperoleh fungsi yang semakin nyata. Bahasa menjadi jembatan untuk membangun relasi, bertukar perspektif, memahami perbedaan, dan bekerja bersama orang-orang dengan latar belakang yang beragam.

Capaian sebagai kelompok terbaik dalam pitching menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Shandyka selama mengikuti program.

Dalam dunia kewirausahaan, sebuah ide yang baik perlu dapat dikomunikasikan. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui apa yang ingin dibuat. Ia juga harus mampu menjelaskan persoalan yang ingin diselesaikan, nilai dari gagasan tersebut, serta alasan mengapa ide itu layak diperhatikan.

Proses tersebut menuntut keberanian sekaligus kemampuan komunikasi.

Ketika dilakukan dalam kelompok, tantangannya bertambah. Setiap anggota membawa cara berpikir dan pengalaman masing-masing. Mereka perlu menyatukan gagasan, menentukan arah, membagi peran, dan kemudian menyampaikannya sebagai satu kesatuan.

Karena itu, Best Pitching Group tidak hanya dapat dilihat sebagai hasil akhir sebuah kompetisi. Pengalaman menuju capaian tersebut juga menjadi ruang untuk mengembangkan kerja sama, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan mengartikulasikan ide.

Bengkel Keusahawanan Belia Islam MABIMS 2026 sendiri diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mendukung fokus strategis “Potensi Belia” dalam Rancangan Strategik MABIMS 2026–2030, khususnya dalam peningkatan program pemberdayaan generasi muda Islam MABIMS.

Orientasi tersebut menempatkan generasi muda bukan sekadar sebagai peserta kegiatan, tetapi sebagai kelompok yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Kewirausahaan menjadi salah satu ruang penting dalam proses tersebut. Bagi generasi muda yang memiliki minat dan ambisi di bidang bisnis, kesempatan memperoleh wawasan, bertemu dengan peserta dari negara lain, serta menguji gagasan menjadi pengalaman yang berharga.

Hal itu pula yang dirasakan Shandyka. Baginya, kegiatan di Brunei bukan hanya memberikan pengetahuan baru mengenai dunia bisnis, tetapi juga mengubah dan memperluas perspektifnya terhadap banyak hal.

Pertemuan dengan peserta dari Indonesia, Malaysia, Uganda, dan Brunei memungkinkan proses belajar berlangsung tidak hanya melalui materi workshop. Percakapan, kerja kelompok, pertukaran pengalaman, dan interaksi lintas budaya menjadi bagian lain dari pembelajaran.

Bagi Fakultas Humaniora, keterlibatan mahasiswa dalam forum internasional memiliki arti penting ketika pengalaman tersebut benar-benar menjadi ruang pertumbuhan.

Internasionalisasi tidak hanya diukur dari seberapa jauh mahasiswa melakukan perjalanan. Nilainya terletak pada apa yang mereka pelajari, siapa yang mereka temui, perspektif apa yang mereka bawa pulang, dan bagaimana pengalaman tersebut membentuk kesiapan mereka menghadapi dunia yang semakin terhubung.

Pengalaman Shandyka menunjukkan proses tersebut.

Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, ia berangkat dari lingkungan akademik bahasa dan humaniora, kemudian masuk ke ruang kewirausahaan internasional. Ia bertemu generasi muda dari negara berbeda, mendapatkan perspektif baru mengenai bisnis, berkolaborasi, dan menguji kemampuan menyampaikan gagasan melalui pitching.

Hasilnya, ia tidak hanya membawa pulang pengalaman, tetapi juga capaian 1st Place for Best Pitching Group.

Prestasi tersebut memperlihatkan bahwa kompetensi mahasiswa Humaniora dapat tumbuh dan menemukan relevansinya di berbagai ruang. Kemampuan berbahasa, komunikasi, memahami orang lain, bekerja dalam keberagaman, serta menyampaikan gagasan merupakan modal yang dapat dibawa mahasiswa melampaui batas disiplin akademiknya.

Dari Bandar Seri Begawan, Shandyka membawa pulang sebuah pengalaman yang mempertemukan tiga hal sekaligus: kewirausahaan, kolaborasi internasional, dan keberanian mengkomunikasikan ide. Pengalaman yang tidak hanya menambah capaian dalam perjalanan studinya, tetapi juga memperluas cara pandangnya tentang kemungkinan-kemungkinan setelah meninggalkan ruang kuliah. [sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait