MIU Login

Sandra Damar Ajak Calon Alumni Humaniora Bangun Portofolio, Tingkatkan Kompetensi, dan Jangan Takut Gagal

HUMANIORA – (9/7/2026) Memasuki dunia profesional di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menuntut lulusan perguruan tinggi untuk memiliki nilai tambah yang tidak dapat digantikan mesin. Kompetensi bahasa, kemampuan berpikir kritis, integritas, serta portofolio profesional menjadi modal utama agar mampu bersaing di dunia kerja. Pesan tersebut disampaikan oleh Sandra Damar Siswanti, S.S., M.A., Penerjemah Ahli Pertama Bahasa Inggris Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, dalam Yudisium dan Pelepasan Mahasiswa Semester Genap Tahap II Tahun Akademik 2025/2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berlangsung di Auditorium Kampus 3, Rabu (8/7/2026).

Baca juga:

Mengusung tema “Refleksi Pengalaman dan Pembelajaran”, kegiatan yang diikuti 322 mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab serta Sastra Inggris ini menjadi momentum pelepasan sekaligus pembekalan bagi calon alumni sebelum memasuki dunia kerja.

Mengawali paparannya, Sandra menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan perjalanan akademik mereka. Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan studi merupakan pencapaian yang patut disyukuri, namun sekaligus menjadi awal dari perjalanan baru yang penuh tantangan.

“Selamat kepada seluruh mahasiswa yang telah melalui proses panjang hingga berada di titik ini. Setelah lulus, perjalanan sesungguhnya baru dimulai. Tantangan baru akan datang ketika kalian memasuki dunia profesional,” ujarnya.

Sandra mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi lulusan bidang bahasa dan sastra. Karena itu, mahasiswa Humaniora harus terus meningkatkan kualitas diri agar memiliki kompetensi yang tidak mudah tergantikan oleh teknologi.

Menurutnya, AI memang mampu membantu berbagai pekerjaan kebahasaan, namun manusia tetap memiliki keunggulan dalam berpikir kritis, memahami konteks budaya, membangun relasi, hingga mengelola emosi.

“Jangan takut dengan AI. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas diri agar kita memiliki kemampuan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, seperti berpikir kritis, kreativitas, empati, dan kemampuan mengambil keputusan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa lulusan Humaniora memiliki prospek karier yang sangat luas, mulai sebagai editor, penerjemah, tenaga pendidik, penulis, hingga profesional di industri kreatif. Bahkan, lulusan Bahasa dan Sastra Arab juga memiliki peluang besar untuk berkarier di Kementerian Agama pada bidang pengajaran, penerjemahan, maupun penyuluhan.

Bangun Portofolio dan Personal Branding

Salah satu pesan utama yang disampaikan Sandra adalah pentingnya membangun portofolio profesional sejak dini. Di era digital, menurutnya, rekam jejak karya sering kali menjadi pertimbangan utama dunia kerja dibandingkan sekadar nilai akademik.

Ia mendorong para calon alumni untuk aktif memanfaatkan platform profesional seperti LinkedIn sebagai etalase kemampuan dan pengalaman.

“Bangun portofolio kalian sebanyak mungkin. Masukkan karya, sertifikat pelatihan, prestasi, pengalaman organisasi, hingga proyek-proyek yang pernah dikerjakan. Tulis dengan bahasa yang baik sehingga mampu menunjukkan kualitas diri secara profesional,” pesannya.

Menurut Sandra, personal branding yang dibangun secara konsisten akan meningkatkan daya saing lulusan sekaligus membuka lebih banyak peluang karier, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam kesempatan tersebut, Sandra juga berbagi kisah perjalanan hidupnya. Ia mengaku sempat mengalami kebingungan setelah lulus kuliah mengenai arah karier yang akan ditempuh. Melalui berbagai proses, kegagalan, dan perjuangan panjang, ia akhirnya memperoleh beasiswa LPDP dan menyelesaikan studi magister di Universitas Gadjah Mada (UGM), sebelum kemudian berkarier sebagai Penerjemah Ahli Pertama di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak selalu diraih melalui jalan yang mudah. Justru dari berbagai kegagalan, seseorang belajar menjadi pribadi yang lebih kuat dan matang.

“Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang terus mau belajar, bertumbuh, dan tidak menyerah ketika menghadapi kegagalan,” tuturnya.

Sandra juga mengingatkan agar para lulusan tidak terjebak membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain.

“Jangan pernah mengukur kesuksesan diri dengan kesuksesan orang lain. Setiap orang memiliki jalan, waktu, dan kapasitas yang berbeda. Yang terpenting adalah terus berusaha, tetap optimis, menjaga integritas, dan menjadi pribadi yang bermanfaat,” ungkapnya.

Ia menutup materinya dengan mengajak seluruh lulusan Humaniora untuk memelihara rasa ingin tahu, semangat belajar sepanjang hayat, serta menjunjung tinggi integritas dalam setiap langkah kehidupan profesional.

Bagi Fakultas Humaniora, kehadiran Sandra Damar memberikan perspektif nyata mengenai dinamika dunia kerja sekaligus memperkuat makna tema “Refleksi Pengalaman dan Pembelajaran.” Melalui pengalaman profesional yang dibagikan, para calon alumni diajak menyadari bahwa kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk terus mengembangkan kompetensi, membangun reputasi profesional, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Pembekalan tersebut juga menegaskan komitmen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki portofolio yang kuat, berintegritas tinggi, serta siap menjadi insan profesional yang mampu memberikan kontribusi nyata di tingkat nasional maupun global. [Sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait