MIU Login

Samarkand dan Warisan Intelektual Islam Jadi Sorotan di Humaniora I-CAN 2026

HUMANIORA – (3/6/2026) Peradaban Islam tidak hanya menyimpan jejak sejarah yang gemilang, tetapi juga menawarkan peluang besar bagi pengembangan jejaring akademik, diplomasi budaya, dan kolaborasi internasional di era global. Pemahaman terhadap warisan intelektual Islam dinilai menjadi modal strategis bagi generasi muda untuk berkiprah di tingkat dunia sekaligus memperkuat identitas keilmuan yang dimiliki.

Baca juga:

Pesan tersebut mengemuka dalam sesi Humaniora International Career Access Network (I-CAN) 2026 yang menghadirkan Eka Triyatna Shanty, S.E., M.H., CIEM., Indonesian Representative dan Samarkand Tourist Ambassador yang mewakili Imam Bukhari International Scientific Research Center (IBISRC) Uzbekistan. Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting ini mengangkat tema mengenai kekayaan peradaban Islam di Uzbekistan dan relevansinya dalam membangun kerja sama global masa kini.

Dalam pemaparannya, Eka menjelaskan bahwa Uzbekistan, khususnya kawasan Samarkand, merupakan salah satu pusat peradaban Islam yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Wilayah ini melahirkan banyak tokoh penting yang karya dan pemikirannya masih menjadi rujukan hingga saat ini, seperti Imam Bukhari, Al-Khawarizmi, Imam At-Tirmidzi, dan sejumlah ilmuwan Muslim lainnya.

Menurutnya, warisan intelektual tersebut menunjukkan bahwa dunia Islam memiliki tradisi keilmuan yang kuat dan menjadi bagian penting dalam perkembangan sains, matematika, astronomi, hingga kajian keagamaan. Karena itu, generasi muda Muslim perlu mengenali kembali akar sejarah tersebut sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi tantangan global masa kini.

“Peradaban Islam tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Warisan intelektual yang ditinggalkan para ulama dan ilmuwan Muslim dapat menjadi fondasi untuk membangun kolaborasi akademik, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan di masa depan,” jelasnya.

Selain memperkenalkan IBISRC sebagai salah satu pusat riset internasional yang berfokus pada kajian warisan Imam Bukhari dan peradaban Islam, Eka juga menjelaskan posisi strategis Samarkand sebagai kota bersejarah yang menjadi titik pertemuan berbagai budaya, ilmu pengetahuan, dan peradaban dunia selama berabad-abad.

Bagi peserta Humaniora I-CAN 2026, materi ini membuka perspektif bahwa peluang karier global tidak selalu terbatas pada sektor industri dan bisnis modern. Bidang pendidikan internasional, diplomasi budaya, penelitian, penerjemahan, pariwisata edukatif, hingga kerja sama akademik lintas negara juga menawarkan ruang kontribusi yang luas bagi lulusan Humaniora.

Melalui pemahaman terhadap sejarah dan peradaban Islam, mahasiswa didorong untuk melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas global yang memiliki modal intelektual dan budaya yang kuat. Kesadaran tersebut dinilai penting untuk membangun rasa percaya diri sekaligus memperluas peluang kolaborasi internasional di masa depan.

Sesi ini sekaligus memperkenalkan Uzbekistan sebagai salah satu mitra strategis Fakultas Humaniora dalam pengembangan program internasional. Dengan semakin terbukanya kerja sama akademik dan mobilitas mahasiswa antarnegara, pemahaman terhadap warisan peradaban Islam di kawasan Asia Tengah menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk membangun jejaring global yang berbasis pada nilai-nilai keilmuan, budaya, dan kemanusiaan.

Melalui materi ini, Humaniora I-CAN 2026 kembali menegaskan bahwa pengembangan karier global tidak hanya dibangun melalui penguasaan keterampilan profesional, tetapi juga melalui pemahaman terhadap sejarah, identitas peradaban, dan kemampuan membangun dialog antarbudaya di tingkat internasional. [end/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait