MIU Login

Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis IcLL Jadi Kunci Moderasi Beragama di Sekolah, Ini Temuan Peneliti Humaniora UIN Malang

HUMANIORA – (21/5/2026) Pembelajaran bahasa Inggris berbasis Intercultural Language Learning (IcLL) kini dipandang sebagai medium strategis untuk menanamkan moderasi beragama di sekolah. Meski memiliki potensi besar, penerapan pendekatan ini di sekolah berbasis agama masih belum optimal. Temuan ini terungkap dalam penelitian dosen Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Galuh Nur Rohmah, Ulil Fitriyah, dan Lina Hanifiyah yang dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi, yaitu Journal of Educational, Cultural and Psychological Studies edisi No. 32 tahun 2025. Penelitian itu bertajuk Interculturality in EFL Education as a Gateway to Religious Moderation: Voices from Religion-Based School Teachers”.

Baca juga:

Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik terkait pentingnya penguatan moderasi beragama di tengah masyarakat multikultural, khususnya melalui pendidikan. Para peneliti memfokuskan kajian pada bagaimana guru Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) di lingkungan Madrasah Aliyah memahami konsep Intercultural Language Learning (IcLL) serta bagaimana mereka mengaitkannya dengan upaya menumbuhkan sikap moderat dalam beragama.

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis narrative inquiry, penelitian ini melibatkan lima guru Bahasa Inggris sebagai partisipan utama. Data dikumpulkan melalui kuesioner awal dan wawancara semi-terstruktur, sehingga mampu menggali secara mendalam pengalaman, pandangan, dan praktik pedagogis para guru dalam mengintegrasikan aspek interkultural dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Analisis data dilakukan secara tematik dengan merujuk pada kerangka Developmental Model of Intercultural Sensitivity (DMIS) yang dikembangkan oleh Bennett. Kerangka ini digunakan untuk memetakan sejauh mana orientasi interkultural para guru berkembang, mulai dari tahap penolakan hingga penerimaan dan adaptasi terhadap perbedaan budaya. Pendekatan ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang posisi dan dinamika kesadaran interkultural para guru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru memandang IcLL sebagai elemen fundamental dalam pembelajaran bahasa, bukan sekadar pelengkap. Lebih dari itu, IcLL dipahami sebagai medium strategis untuk menanamkan nilai-nilai keterbukaan, toleransi, dan sikap saling menghormati. Dalam konteks ini, pembelajaran bahasa Inggris tidak hanya berfungsi sebagai penguasaan kompetensi linguistik, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter moderat dalam beragama.

Meski demikian, temuan penelitian juga mengungkap bahwa sebagian besar guru masih berada pada tahap “minimisation” dan “acceptance”, dengan beberapa indikasi menuju tahap “adaptation”. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran interkultural telah berkembang, namun belum sepenuhnya matang. Selain itu, implementasi IcLL di kelas masih bersifat tidak merata, sangat bergantung pada konteks sekolah, pengalaman pelatihan guru, serta ketersediaan materi ajar yang kaya akan muatan budaya.

Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam mengintegrasikan pendidikan bahasa dengan penguatan moderasi beragama di Indonesia. Temuan ini tidak hanya relevan bagi praktisi pendidikan, tetapi juga bagi pengambil kebijakan dalam merancang kurikulum yang responsif terhadap keberagaman. Publikasi ini semakin meneguhkan peran Fakultas Humaniora UIN Malang sebagai pusat pengembangan keilmuan yang berorientasi pada nilai-nilai inklusivitas, dialog antarbudaya, dan harmoni sosial. [al/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait