MIU Login

Mahasiswa Humaniora Gelar Kompetisi Bahasa Arab-Inggris di Thailand

HUMANIORA – (26/8/2026) Mobilitas internasional bagi mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak berhenti pada pengalaman belajar di luar negeri. Mahasiswa juga didorong untuk hadir, berinteraksi, dan memberikan kontribusi nyata di lingkungan tempat mereka menjalankan program. Semangat tersebut ditunjukkan peserta International Student Mobility and Student Sharing (I-SMASH) 2026 melalui kegiatan Chariyatham of Champions di Chariyatham Suksa Foundation School, Thailand, Selasa (11/8/2026).

Baca juga:


Digagas oleh tim I-SMASH 2026 yang terdiri atas Farah, Catrina, Maura, dan Salsa, Chariyatham of Champions menghadirkan kompetisi cerdas cermat Bahasa Inggris dan Bahasa Arab bagi siswa kelas 6 Sekolah Dasar (Prathom) dan kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (Mathayom).

Foto : Bersama sesuai Kompetisi pengembangan kosakata, tata bahasa, pemahaman, kemampuan dan penerjemah

Kegiatan yang berlangsung di Meeting Hall dan ruang kelas Chariyatham Suksa Foundation School tersebut menjadi ruang aktualisasi bagi mahasiswa Humaniora untuk mengimplementasikan kompetensi kebahasaan, kreativitas pembelajaran, komunikasi lintas budaya, serta kemampuan mengelola kegiatan pendidikan dalam konteks internasional.

Alih-alih menjadi peserta pasif selama menjalani mobilitas di Thailand, mahasiswa Humaniora mengambil peran sebagai perancang sekaligus pelaksana kegiatan. Mereka mengemas pembelajaran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris menjadi kompetisi yang interaktif, menyenangkan, sekaligus menantang kemampuan siswa.

Chariyatham of Champions dirancang untuk mendorong siswa menggunakan bahasa asing melalui pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran reguler di kelas. Kompetisi menjadi medium untuk mengembangkan kosakata, tata bahasa, pemahaman, kemampuan menerjemahkan, sekaligus keberanian siswa dalam merespons pertanyaan.

Foto : Salah satu peserta pemenang kompetisi siswa SMP mendapatkan sertifikat

Kegiatan dibuka oleh Ustadz Shukur Dina, guru pamong peserta I-SMASH di Chariyatham Suksa Foundation School. Siswa kelas 6 SD dan kelas 3 SMP berkumpul di Meeting Hall sebelum mengikuti perlombaan sesuai jenjang masing-masing.

Untuk peserta tingkat SD, tim I-SMASH menyiapkan tiga jenis permainan, yakni Guess the Picture, Guess the Word, dan Guess the Translation. Ketiganya dirancang tidak hanya untuk menguji pengetahuan, tetapi juga menghidupkan interaksi antarpeserta.

Pada Guess the Picture, misalnya, gambar hewan atau buah ditampilkan melalui layar. Setiap kelompok kemudian berlomba menuliskan kosakata yang tepat di papan tulis. Permainan sederhana tersebut menuntut kemampuan mengingat kosakata sekaligus kecepatan mengambil keputusan.

Foto : Momen siswa SD di saat kompetisi berlangsung di dalam kelas

Tantangan meningkat dalam Guess the Word. Peserta mendapatkan susunan kata yang diacak dan harus menyusunnya menjadi kalimat yang benar. Permainan ini mendorong siswa memahami struktur bahasa, bukan hanya menghafalkan kosakata.

Sementara itu, Guess the Translation dikemas lebih cair. Para siswa bernyanyi bersama selama musik dimainkan. Ketika musik berhenti, guru menyebutkan sebuah kata dan siswa yang ditunjuk harus segera memberikan terjemahan yang tepat.

Suasana kompetitif pun berpadu dengan kegembiraan. Ice breaking, gerak dan tarian, serta tingkah spontan para siswa membuat perlombaan berlangsung akrab. Di balik keceriaan tersebut, tumbuh semangat bekerja sama, berpikir cepat, serta bersaing secara sehat.

Foto : Momen siswa SD di saat kompetisi berlangsung di dalam kelas

Persaingan tingkat SD akhirnya mempertemukan kelompok BlackPink, SixSeven, dan Sigma Boy pada fase akhir kompetisi. Setelah melalui persaingan ketat, kelompok BlackPink keluar sebagai pemenang.

Selepas istirahat dan salat Zuhur, giliran siswa kelas 3 SMP mengikuti kompetisi di Meeting Hall. Tim mahasiswa menyesuaikan rancangan kegiatan dengan karakter dan tingkat kemampuan peserta.

Karena waktu pelaksanaan lebih singkat, perlombaan tingkat SMP difokuskan pada dua permainan, yaitu Guess the Word dan Guess the Translation. Tingkat kesulitan soal juga ditingkatkan.

Perubahan tersebut membuat atmosfer kompetisi terasa berbeda. Jika sesi SD banyak diwarnai keceriaan dan spontanitas, peserta SMP menghadapi tantangan yang membutuhkan kombinasi kecepatan dan ketepatan.

Setiap jawaban menjadi penting karena menentukan perolehan poin. Kelompok Mr Beast akhirnya tampil dominan dan berhasil memperoleh skor tertinggi dibandingkan kelompok lainnya.

Di balik format permainan tersebut terdapat tujuan pembelajaran yang lebih luas. Tim I-SMASH berupaya menumbuhkan minat siswa mempelajari Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, melatih kemampuan berpikir cepat dan kritis, meningkatkan komunikasi dan kerja sama, serta membangun rasa percaya diri menggunakan bahasa asing.

Bagi peserta I-SMASH, kegiatan ini sekaligus menjadi pengalaman belajar yang tidak dapat sepenuhnya diperoleh melalui ruang perkuliahan. Mereka harus menerjemahkan kompetensi akademik menjadi kegiatan yang dapat diterima oleh siswa dengan latar bahasa, budaya, usia, dan karakter berbeda.

Mahasiswa dituntut membaca situasi kelas, menyusun permainan, menentukan tingkat kesulitan materi, membangun komunikasi dengan guru setempat, mengelola dinamika peserta, hingga menciptakan suasana kompetisi yang tetap edukatif dan sportif.

Pengalaman tersebut memperlihatkan dimensi penting dari program mobilitas internasional. Berada di luar negeri bukan hanya tentang berpindah ruang belajar, tetapi juga tentang kemampuan mahasiswa beradaptasi dan mengaktualisasikan pengetahuan yang dimiliki ketika berhadapan dengan lingkungan baru.

Dalam konteks Fakultas Humaniora, pengalaman tersebut relevan dengan pengembangan kompetensi mahasiswa dalam bidang bahasa, komunikasi lintas budaya, kreativitas, kepemimpinan, dan kolaborasi. Kemampuan-kemampuan itu menjadi semakin penting ketika mahasiswa memasuki lingkungan akademik dan profesional yang semakin terkoneksi secara global.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk interaksi langsung antara peserta I-SMASH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan komunitas pendidikan di Chariyatham Suksa Foundation School. Kolaborasi tidak hanya terbangun melalui pertemuan formal antarlembaga, tetapi hadir melalui aktivitas bersama yang menyentuh proses belajar para siswa.

Momen paling emosional hadir pada penghujung kegiatan. Enam siswa dan siswi asrama QLCC (Qur’anic and Languages Center of Chariyatham Suksa Foundation School) menyampaikan kesan dan pesan menggunakan tiga bahasa: Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Indonesia.

Penampilan tersebut telah dipersiapkan bersama tim I-SMASH pada malam sebelumnya. Bagi para mahasiswa, pesan yang disampaikan para siswa menjadi lebih dari sekadar penutup acara. Momen tersebut sekaligus menandai berakhirnya perjalanan singkat mereka bersama keluarga besar Chariyatham Suksa Foundation School dan QLCC.

Air mata haru pun mewarnai perpisahan. Interaksi yang semula dibangun melalui kegiatan akademik telah berkembang menjadi pengalaman antarmanusia yang melampaui perbedaan bahasa dan budaya.

Di titik tersebut, Chariyatham of Champions menemukan maknanya. Kompetisi bahasa menjadi pintu masuk bagi terbangunnya keberanian belajar, persahabatan, pertukaran budaya, dan pengalaman pendidikan lintas negara.

Bagi Fakultas Humaniora, aktivitas mahasiswa seperti ini memperlihatkan bagaimana internasionalisasi dapat diterjemahkan pada tingkat pengalaman mahasiswa. Program mobilitas tidak semata diukur dari kehadiran mahasiswa di negara lain, tetapi juga dari kemampuan mereka belajar dari lingkungan global sekaligus membawa pengetahuan dan kreativitas untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat tempat mereka berada.

Melalui I-SMASH 2026, mahasiswa Fakultas Humaniora mendapatkan ruang untuk menguji kemampuan akademik sekaligus mengembangkan soft skills, mulai dari adaptasi lintas budaya, komunikasi, kerja tim, kreativitas, kepemimpinan, hingga kemampuan memecahkan persoalan di lapangan.

Dari ruang kelas Humaniora di Malang hingga sekolah di Thailand, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses membentuk mahasiswa yang berani beraktualisasi di luar kampus, terbuka terhadap perbedaan, serta mampu mengubah kompetensi yang dipelajari menjadi aktivitas yang bermanfaat bagi lingkungan internasional.

Chariyatham of Champions pada akhirnya bukan sekadar lomba cerdas cermat Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Di tangan peserta I-SMASH 2026, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, kreativitas, dan pengabdian—sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman internasional mahasiswa Humaniora dapat tumbuh menjadi kontribusi nyata di tempat mereka belajar dan berinteraksi. [Farah, Catrina, Maura, Salsa]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait