HUMANIORA – (26/8/2026) Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial, digitalisasi, dan perubahan kebutuhan dunia kerja, pertanyaan tentang masa depan ilmu humaniora semakin sering mengemuka. Apakah Sastra Arab masih relevan? Apakah kecerdasan artifisial akan mengambil alih pekerjaan penerjemah dan ahli bahasa? Dan ke mana program studi Sastra Arab harus bergerak agar tetap mampu menjawab perubahan zaman?
Baca juga:
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi napas pemikiran Halimi Zuhdy dalam Seminar ADIBASA, Senin (24/8/2026). Mengangkat tema “Masa Depan Sastra Arab di Perguruan Tinggi Indonesia”, Halimi menawarkan cara pandang yang optimistis sekaligus kritis: masa depan Sastra Arab bukanlah kepunahan, melainkan reposisi keilmuan.

Menurutnya, perubahan zaman justru membuka ruang baru bagi studi Sastra Arab untuk berkembang melampaui pola pembelajaran konvensional. Kajian yang selama ini banyak berpusat pada sejarah sastra, pembacaan teks, pengenalan tokoh, dan unsur intrinsik perlu diperluas menjadi studi humaniora Arab yang mampu membaca masyarakat, kebudayaan, politik, sejarah, hingga identitas.
Dalam lanskap baru tersebut, karya sastra dapat menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang jauh lebih luas. Isu Palestina dan memori kolektif, gender dan modernitas, identitas diaspora Arab, puisi digital, perang, migrasi, serta lingkungan merupakan sejumlah wilayah yang dapat dikaji melalui perspektif sastra dan humaniora Arab.

Salah satu perubahan penting yang disoroti Halimi adalah berkembangnya Digital Humanities. Perubahan ini tidak berarti meninggalkan tradisi pembacaan sastra yang telah mapan. Sebaliknya, kemampuan membaca teks secara dekat atau close reading perlu dipertemukan dengan distant reading dan analisis komputasional.
Dalam pemetaan evolusi studi Sastra Arab yang disajikannya, metode kajian bergerak dari close reading tunggal menuju pendekatan sosiologi dan budaya, kemudian berkembang ke computational literary studies dan distant reading. Fokus kajian pun dapat bergerak menuju manuskrip Nusantara dan linguistik korpus digital.
Perubahan tersebut membuka kemungkinan baru bagi peneliti Sastra Arab. Ribuan teks yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang untuk dibaca satu per satu kini dapat dipetakan dengan bantuan teknologi untuk melihat frekuensi kata, pola bahasa, kecenderungan tema, maupun perubahan wacana dalam rentang waktu tertentu.
Dalam salah satu ilustrasi yang ditampilkan, kata Arab قلب (qalb) menjadi contoh sederhana mengenai batas kemampuan mesin. Mesin penerjemahan dapat menghasilkan makna literal “hati”, tetapi seorang ahli sastra dapat membaca kata tersebut dalam lapisan makna yang lebih luas: batin, jiwa, pusat kesadaran, hingga metafora spiritual berdasarkan konteks sastra dan perangkat retorika Arab.
Karena itu, AI diposisikan bukan sebagai akhir dari kajian sastra, tetapi sebagai katalis analisis. Mesin menawarkan skala dan kecepatan, sementara manusia tetap memegang peran penting dalam memahami konteks, metafora, kebudayaan, dan implikasi sebuah teks.
Cara pandang tersebut sekaligus mengubah pertanyaan yang diajukan terhadap sebuah karya. Kajian tidak cukup berhenti pada “apa yang dikatakan teks”, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih kritis: mengapa teks mengatakan demikian, dalam konteks apa ia lahir, dan apa implikasinya.
Di tengah dorongan menuju digitalisasi, Halimi justru membawa perhatian kembali kepada kekayaan yang sangat dekat dengan perguruan tinggi Indonesia: khazanah Nusantara.
Menurut pemetaan dalam materi seminar, masa depan Sastra Arab di Indonesia perlu dibangun dengan menemukan distingsinya sendiri. Perguruan tinggi Indonesia tidak semestinya hanya menjadi konsumen pengetahuan tentang dunia Arab, tetapi memiliki peluang menjadi pusat produksi pengetahuan dengan memanfaatkan kekayaan sejarah dan kebudayaan yang dimilikinya.
Sastra Arab-Indonesia, manuskrip Arab di Nusantara, tradisi sastra Arab-Melayu, hingga karya beraksara Jawi dan Pegon merupakan wilayah akademik yang menawarkan peluang penelitian sangat luas.
Khazanah tersebut bahkan dapat dipertemukan dengan teknologi mutakhir. Kajian filologi yang sebelumnya berjalan melalui proses menemukan manuskrip, melakukan transliterasi manual, dan menyunting teks kini dapat berkembang melalui digitalisasi, OCR, transliterasi berbantuan AI, pembuatan metadata, digital edition, linguistik korpus, analisis komputasional, hingga publikasi global.
Dengan demikian, teknologi dan tradisi tidak harus dipertentangkan. Manuskrip berusia ratusan tahun justru dapat memperoleh kehidupan akademik baru ketika dibaca dengan perangkat dan metodologi abad ke-21.
Transformasi juga perlu menyentuh cara perguruan tinggi mempersiapkan masa depan lulusannya.
Dalam paparannya, Halimi memperlihatkan bahwa kompetensi Sastra Arab dapat berkembang jauh melampaui gambaran profesi konvensional. Dunia digital dan industri bahasa melahirkan berbagai bidang baru yang membutuhkan kemampuan bahasa sekaligus sensitivitas budaya.
Beberapa profesi yang diproyeksikan antara lain Literary Translator and Editor, Localization Specialist, AI Language Evaluator, Arabic Linguistic Data Specialist, Cultural Mediator, serta profesi dalam bidang diplomasi, media, jurnalistik, dan industri kreatif.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata apakah teknologi akan menggantikan pekerjaan manusia. Tantangannya justru bagaimana perguruan tinggi menyiapkan mahasiswa agar mampu bekerja bersama teknologi, sembari mempertahankan kemampuan yang menjadi kekuatan utama ilmu humaniora: membaca konteks, memahami budaya, menafsirkan makna, dan melakukan penilaian kritis.
Meski menawarkan peluang besar, Halimi juga memberikan catatan kritis terhadap masa depan disiplin Sastra Arab.
Ia memetakan lima ancaman sistemik yang perlu menjadi perhatian perguruan tinggi. Pertama, Sastra Arab berisiko hanya menjadi pelengkap pembelajaran bahasa sehingga identitas keilmuannya melemah. Kedua, penelitian dapat terjebak pada pola berulang, yakni menghadirkan objek baru tetapi tetap menggunakan pola dan teori lama tanpa menghasilkan kontribusi ilmiah yang berarti.
Ancaman ketiga adalah defisit kemampuan fundamental dalam membaca beragam teks jurnalistik dan kontemporer. Keempat, penggunaan AI tanpa literasi kritis dapat melahirkan persoalan baru, mulai dari kutipan palsu hingga interpretasi budaya yang dangkal. Kelima, perguruan tinggi berisiko gagal menciptakan distingsi apabila hanya meniru pusat kajian Arab tanpa menggali unsur Nusantara sebagai kekuatan akademiknya sendiri.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi digital saja tidak cukup. Pembaruan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan fondasi keilmuan, kemampuan kritis, serta keberanian membangun karakter akademik yang khas.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Halimi menawarkan gambaran arsitektur kurikulum Bahasa dan Sastra Arab (BSA) masa depan yang dibangun secara bertahap dalam enam level.
Fondasi pertama tetap berupa keilmuan klasik, meliputi nahwu, saraf, balaghah, sejarah, dan teori sastra. Fondasi tersebut kemudian diperkuat dengan critical humanities melalui semiotika, hermeneutika, sosiologi, dan ekokritik.
Pada level berikutnya hadir Indonesian Distinction, yang membawa mahasiswa mendalami Arab-Nusantara, Pegon/Jawi, dan manuskrip. Setelah fondasi tersebut kuat, mahasiswa memasuki wilayah Digital Humanities, termasuk corpus linguistics, NLP, AI, dan filologi digital.
Tahapan selanjutnya diarahkan pada profesionalisasi dan industri melalui penerjemahan khusus, diplomasi, media, serta digital content. Pada level tertinggi, pendidikan diarahkan menuju internasionalisasi melalui joint research, publikasi global, dan mobilitas mahasiswa.
Model tersebut menunjukkan satu hal penting: pembaruan Sastra Arab tidak berarti meninggalkan khazanah klasik. Nahwu, saraf, balaghah, sejarah, dan teori sastra tetap menjadi fondasi. Yang berubah adalah apa yang dibangun di atas fondasi tersebut.
Lebih jauh, Halimi melihat Indonesia memiliki modal untuk mengambil posisi yang lebih besar dalam peta kajian Sastra Arab dunia.
Presentasi tersebut menawarkan Visi 2030: Pusat Keunggulan ASEAN, dengan gagasan menggeser episentrum kajian Sastra Arab agar tidak lagi dipandang eksklusif berada di Timur Tengah. Indonesia memiliki modal berupa khazanah manuskrip pesantren, tradisi Jawi dan Pegon, serta jaringan perguruan tinggi Islam yang luas.
Perspektif tersebut mengubah posisi Indonesia dalam kajian Sastra Arab. Indonesia tidak harus terus-menerus melihat dirinya berada di pinggiran dunia Arab. Pengalaman historis perjumpaan Islam, bahasa Arab, sastra, pesantren, bahasa lokal, dan kebudayaan Nusantara justru menyediakan objek serta perspektif yang dapat ditawarkan kepada komunitas akademik internasional.
Pada akhirnya, masa depan Sastra Arab tidak ditentukan oleh seberapa kuat perguruan tinggi mempertahankan bentuk kajian lama. Masa depan itu bergantung pada keberanian melakukan transformasi epistemologis dan metodologis.
Pesan tersebut menjadi penutup kuat dalam pemaparan Halimi. Studi Sastra Arab perlu bergerak dari kajian teks yang sempit menuju humaniora integratif; dari pembacaan konvensional menuju digital humanities; dari ketergantungan terhadap objek Timur Tengah menuju penguatan khazanah Nusantara; serta dari kompetensi tunggal menuju integrasi AI, industri kreatif, dan diplomasi.
Dengan transformasi tersebut, perguruan tinggi Indonesia memiliki peluang untuk mengambil posisi yang lebih strategis: tidak lagi sekadar menjadi konsumen pengetahuan Sastra Arab, tetapi turut menjadi pusat produksi pengetahuan Sastra Arab bagi dunia. [sof/Infopub]





