MIU Login

Mahasiswa BSA Humaniora Raih Juara Seni Beregu Tingkat Nasional APNC 2026

HUMANIORA – (22/9/2026) Rasa takut sempat muncul sebelum pertandingan dimulai. Namun, begitu memasuki arena, persiapan dan kekompakan tim menjadi pegangan. Pengalaman itu mengantarkan Zid-li Auliyana Luthfillah, mahasiswa semester VII Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, bersama timnya meraih Juara II Seni Beregu Dewasa Jurus 1–12 tingkat nasional dalam Airlangga Pagar Nusa National Cup (APNC) 2026.

Baca juga:

Kompetisi yang berlangsung pada 28–29 Agustus 2026 tersebut diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pagar Nusa Universitas Airlangga (UNAIR). Ajang ini menjadi wadah aktualisasi diri dan pembinaan prestasi atlet pencak silat, sekaligus bagian dari upaya melestarikan budaya bangsa dan mempererat silaturahmi antarpesilat.

Dalam kompetisi tersebut, Zid-li kembali tampil dalam kategori beregu bersama Hasna Sakhiya dari Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dan Amelda Zakiyya dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI).

Foto : Sertifikat Juara II Seni Beregu Dewasa Jurus 1–12 tingkat nasional dalam Airlangga Pagar Nusa National Cup (APNC) 2026.

Bagi Zid-li, pertandingan kali ini menghadirkan tantangan tersendiri. Meski sebelumnya telah memiliki pengalaman berkompetisi, rasa khawatir tetap muncul ketika harus kembali menguji kemampuan di arena tingkat nasional.

“Lomba ini saya mendapatkan juara 2. Sempat takut juga awalnya, meskipun akhirnya alhamdulillah berjalan lancar. Tetapi saya dan teman-teman tidak mengikuti penutupan karena tiket sudah dipesan lebih awal dari jam penutupan,” ungkap Zid-li.

Di balik kalimat sederhana itu terdapat pengalaman yang akrab bagi seorang atlet: berhadapan dengan rasa gugup, menjaga konsentrasi, lalu berusaha memberikan penampilan terbaik ketika pertandingan dimulai.

Bagi Zid-li dan kedua rekannya, kategori seni beregu memiliki tantangan berbeda dibandingkan penampilan individual. Setiap anggota tim perlu membangun keselarasan agar rangkaian jurus dapat ditampilkan sebagai satu kesatuan.

Terlebih, mereka tampil dalam kategori Seni Beregu Dewasa Jurus 1–12. Kekompakan menjadi salah satu bagian penting dalam proses mereka menampilkan kemampuan yang telah dipersiapkan.

Dalam kondisi seperti itu, kualitas individual saja tidak cukup. Setiap anggota perlu memahami ritme tim dan menjaga koordinasi selama penampilan.

Hasil Juara II yang mereka raih karena itu menjadi capaian bersama. Zid-li, Hasna, dan Amelda berasal dari program studi berbeda, tetapi pencak silat mempertemukan mereka dalam satu ruang prestasi.

Kolaborasi lintas program studi tersebut juga memperlihatkan bagaimana kegiatan kemahasiswaan dapat membuka ruang perjumpaan yang lebih luas. Mahasiswa dapat bertemu, berlatih, dan membangun prestasi bersama melalui minat dan potensi yang sama.

Pengalaman Zid-li dalam APNC 2026 juga menunjukkan bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Justru, kemampuan menghadapi rasa takut menjadi bagian dari proses seorang mahasiswa ketika menguji dirinya dalam kompetisi.

Ada tekanan ketika harus tampil. Ada harapan untuk memperoleh hasil terbaik. Dalam kategori beregu, ada pula tanggung jawab untuk menjaga performa bersama anggota tim lainnya.

Namun, rasa khawatir yang muncul sebelum pertandingan perlahan terbayar ketika penampilan mereka dapat berlangsung lancar.

Hasil akhirnya adalah posisi kedua tingkat nasional.

Capaian tersebut melengkapi perjalanan Zid-li dalam mengembangkan potensi di bidang pencak silat. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa semester VII Bahasa dan Sastra Arab, ia tetap menyediakan ruang untuk berlatih dan mengikuti kompetisi.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses tumbuh mahasiswa. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga ruang bagi mahasiswa untuk mengenali potensi, mengasah disiplin, belajar menghadapi tekanan, dan membangun kepercayaan diri.

APNC 2026 tidak hanya menjadi arena kompetisi. Tujuan penyelenggaraannya juga membawa dimensi yang lebih luas, yakni menyediakan ruang aktualisasi diri dan pembinaan prestasi atlet sekaligus ikut menjaga keberlanjutan pencak silat sebagai bagian dari budaya bangsa.

Hal tersebut membuat pengalaman mengikuti pencak silat memiliki nilai yang lebih dari sekadar mengejar gelar juara.

Bagi generasi muda, keterlibatan dalam pencak silat menjadi salah satu cara untuk berinteraksi langsung dengan warisan budaya Indonesia. Nilai kedisiplinan, ketekunan, pengendalian diri, penghormatan terhadap orang lain, dan kebersamaan dapat tumbuh melalui proses latihan dan kompetisi.

Kompetisi juga menjadi ruang pertemuan antarpesilat. Mereka datang untuk menguji kemampuan, tetapi pada saat bersamaan membangun jejaring dan silaturahmi melalui kecintaan terhadap cabang olahraga yang sama.

Dalam konteks tersebut, prestasi Zid-li dan tim membawa dua nilai sekaligus prestasi mahasiswa dan partisipasi generasi muda dalam menjaga tradisi pencak silat Indonesia.

Keberhasilan Zid-li menjadi Juara II APNC 2026 kembali memperlihatkan bahwa potensi mahasiswa Humaniora tumbuh dalam ruang yang beragam.

Sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, aktivitas akademik tetap menjadi bagian utama perjalanan studinya. Namun, pengembangan diri tidak harus berhenti pada kompetensi yang diperoleh melalui perkuliahan.

Olahraga prestasi memberikan pengalaman berbeda. Latihan mengajarkan konsistensi. Pertandingan menguji kesiapan mental. Kompetisi mempertemukan mahasiswa dengan tantangan, sedangkan kategori beregu mengajarkan bahwa keberhasilan sering kali tidak dapat dicapai sendirian.

Nilai-nilai tersebut relevan dengan proses pendidikan mahasiswa secara lebih luas. Dunia setelah kampus juga membutuhkan individu yang mampu bekerja sama, beradaptasi, menghadapi tekanan, serta tetap berusaha ketika situasi tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Bagi Zid-li, perjalanan di APNC 2026 berakhir sedikit berbeda. Ia dan tim tidak dapat mengikuti rangkaian penutupan karena tiket perjalanan pulang telah dipesan lebih awal daripada jadwal penutupan acara.

Namun, pengalaman pertandingan tetap mereka bawa pulang—bersama hasil Juara II Seni Beregu Dewasa Jurus 1–12 tingkat nasional.

Dari ruang kuliah Bahasa dan Sastra Arab menuju arena pencak silat, Zid-li menunjukkan bahwa mahasiswa Humaniora dapat tumbuh melalui banyak jalan. Prestasi yang diraihnya bersama Hasna dan Amelda bukan hanya tentang posisi di podium, tetapi juga tentang keberanian menghadapi rasa takut, kekompakan dalam tim, dan konsistensi mengembangkan potensi di tengah perjalanan akademik. [sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait