HUMANIORA – (17/6/2026) Setiap mahasiswa memiliki cerita unik tentang bagaimana kampus membentuk cara pandang dan jalan hidupnya. Bagi Pradibyo Herdiansyah, alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang angkatan 2014, perjalanan akademiknya menjadi bukti bahwa ilmu Humaniora mampu membuka cakrawala yang jauh lebih luas daripada sekadar penguasaan bahasa dan sastra.
Baca juga:
- Tahun Hijriyah: Jejak Bahasa, Sejarah, dan Peradaban Islam
- Mahasiswa Humaniora Raih Juara 2 Lomba Esai Festival Pesantren 2026
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Fakultas Humaniora, Pradibyo mengaku memiliki gambaran yang cukup sederhana tentang dunia perkuliahan yang akan dijalaninya. Sebagai mahasiswa baru BSA, ia membayangkan kesehariannya akan dipenuhi kajian tata bahasa Arab, kitab-kitab klasik, dan diskusi kebahasaan yang formal. Namun, pengalaman yang ia temui selama kuliah justru menghadirkan perspektif yang jauh lebih kaya.
“Humaniora di UIN Malang mengajarkan saya bahwa belajar bahasa bukan hanya tentang menghafal kata, melainkan tentang bagaimana memahami rasa, manusia, dan kebudayaannya,” ungkapnya.
Menurutnya, salah satu pengalaman paling berkesan terjadi sejak masa orientasi fakultas. Berbagai pertunjukan budaya dan atmosfer akademik yang inklusif memperlihatkan bahwa Humaniora bukan hanya ruang belajar bahasa, melainkan juga ruang perjumpaan berbagai tradisi, nilai, dan perspektif dunia. Pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa ilmu bahasa dan sastra memiliki peran penting dalam memahami manusia dan peradaban.
Pengalaman intelektual yang membekas juga hadir ketika Fakultas Humaniora menghadirkan akademisi internasional, termasuk etnomusikolog asal Amerika Serikat, Anne Rasmussen, yang meneliti musik Arab di Indonesia. Melalui forum akademik seperti itu, Pradibyo melihat secara langsung bagaimana studi Arab dan Islam dapat dikaji secara lintas disiplin dan lintas budaya.
“Fakultas Humaniora berhasil menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan. Dari sana saya menyadari bahwa studi Arab dan Islam memiliki cakupan yang sangat luas dan relevan dengan perkembangan dunia,” kenangnya.
Perjalanan akademiknya mencapai titik penting ketika memasuki semester-semester akhir dan mengikuti mata kuliah Filologi. Bagi sebagian mahasiswa, manuskrip kuno mungkin hanya tampak sebagai dokumen masa lalu yang sulit dipahami. Namun bagi Pradibyo, filologi justru membuka pintu menuju dunia penelitian dan pengabdian akademik.
Melalui kajian naskah klasik, ia belajar bahwa setiap manuskrip menyimpan jejak pemikiran, kebudayaan, dan nilai-nilai peradaban yang masih relevan hingga hari ini. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi bidang keilmuan yang terus ia tekuni hingga sekarang.
Bekal akademik yang diperoleh selama kuliah di Fakultas Humaniora menjadi fondasi penting ketika ia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Berkat prestasi akademik dan komitmennya dalam dunia keilmuan, ia berhasil memperoleh beasiswa Program Magister Lanjut Doktor (PMLD) dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
Program akselerasi tersebut membawanya menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang Studi Islam pada usia 28 tahun dengan predikat cumlaude. Capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa Humaniora memiliki peluang besar untuk berkembang dan berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional.
Saat ini, Pradibyo mengabdikan diri sebagai dosen pada Program Magister Pendidikan Bahasa Arab Universitas KH Mukhtar Syafaat Banyuwangi. Dalam perannya sebagai akademisi, ia mengampu berbagai mata kuliah yang memiliki keterkaitan erat dengan ilmu-ilmu Humaniora, seperti Filologi Islam, Teori dan Sejarah Sastra Arab, Akhlak Tasawuf, Filsafat Ilmu, serta Studi Al-Qur’an dan Hadis.
Menurutnya, pengalaman belajar di Fakultas Humaniora memberikan bekal yang sangat relevan dengan profesi yang dijalaninya saat ini. Kemampuan membaca teks secara kritis, memahami konteks budaya, menganalisis sejarah pemikiran, hingga membangun perspektif yang humanis menjadi modal utama dalam proses mengajar dan penelitian.
“Semua yang saya pelajari di Humaniora tidak berhenti ketika saya lulus. Justru ilmu-ilmu tersebut menjadi cara saya memandang dunia, mengajar mahasiswa, melakukan penelitian, dan mengabdi kepada masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keilmuan Humaniora memiliki daya hidup yang sangat panjang. Humaniora tidak hanya menghasilkan lulusan yang mampu bekerja di bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga melahirkan individu yang memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami keragaman budaya, serta mampu menjembatani komunikasi antarperadaban.
Sebagai alumni yang telah menempuh perjalanan akademik hingga jenjang doktoral, Pradibyo berpesan agar mahasiswa Humaniora tidak pernah merasa rendah diri dengan bidang ilmu yang mereka pilih. Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, dunia justru membutuhkan lebih banyak insan Humaniora yang mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Ia mengutip sebuah bait dari kitab Ta‘līm al-Muta‘allim yang selama ini menjadi prinsip hidupnya:
“Wa kun mustafīdan kulla yaumin ziyādatan minal ‘ilmi wasbah fī buḥūr al-fawā’id.”
(Jadilah orang yang setiap hari memperoleh tambahan ilmu, dan berenanglah dalam samudra kemanfaatan.)
Bagi Pradibyo, pesan tersebut mengajarkan pentingnya menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mahasiswa tidak boleh pasif menunggu ilmu datang, tetapi harus aktif mencari pengalaman, memperluas wawasan, serta memanfaatkan setiap kesempatan belajar yang tersedia.
“Jangan membatasi diri. Fakultas Humaniora adalah samudra manfaat yang sangat luas. Temukan bidang yang kalian cintai, dalami dengan sungguh-sungguh, dan jadikan ilmu itu sebagai jalan pengabdian,” pesannya.
Menutup refleksinya, Pradibyo berharap Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus menjadi ruang yang mampu menjaga tradisi keilmuan klasik sekaligus merespons tantangan zaman. Dengan semangat menjaga warisan yang baik dan mengadopsi pembaruan yang lebih baik, ia optimistis Humaniora akan terus melahirkan generasi intelektual yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban dunia.
Perjalanan Pradibyo Herdiansyah menunjukkan bahwa langkah kecil seorang mahasiswa di lorong-lorong Fakultas Humaniora dapat bertransformasi menjadi perjalanan panjang yang penuh makna. Dari ruang kelas hingga mimbar akademik, dari manuskrip kuno hingga gelar doktor di usia muda, Humaniora telah menjadi ruang tumbuh yang membentuk karakter, kecintaan pada ilmu, serta komitmen untuk terus merawat dan meneruskan peradaban. [al/Infopub]





