HUMANIORA – (16/10/2026) Tidak semua kesempatan datang ketika seseorang merasa benar-benar siap. Terkadang, keberanian untuk mencoba justru menjadi langkah pertama yang membuka pengalaman dan pencapaian baru. Prinsip itulah yang dipegang Ummu Qathrun Najwa, mahasiswa semester lima Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang berhasil meraih nominasi The Best Arabic Speech dalam ajang ADIA International Student Competition 2026.
Baca juga:
Capaian tersebut diraih melalui cabang Speech Contest atau kompetisi pidato bahasa Arab yang diselenggarakan secara daring pada 22–25 Juli 2026. Ajang tingkat internasional yang berpusat di Cirebon itu diselenggarakan oleh Forum Dekan dan Pemimpin Akademik Bidang Adab dan Humaniora sebagai ruang pengembangan kompetensi, kolaborasi, serta inovasi keilmuan di tengah perkembangan era digital.

Bagi Najwa, mengikuti kompetisi tersebut menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan bahasa Arab yang selama ini dipelajarinya. Ia tampil secara individu, membawa bekal akademik dan keberanian untuk menyampaikan gagasan melalui bahasa yang menjadi bidang keilmuannya.
Keikutsertaannya dalam kompetisi pidato bahasa Arab memperlihatkan bahwa penguasaan bahasa tidak berhenti pada kemampuan memahami struktur kalimat, kosakata, atau kaidah kebahasaan. Bahasa juga menuntut keberanian untuk digunakan secara aktif, terutama ketika seseorang harus menyampaikan pemikiran secara runtut, komunikatif, dan meyakinkan di hadapan audiens.

Dalam kompetisi pidato, peserta dituntut mampu memadukan berbagai keterampilan berbahasa. Ketepatan pengucapan, penguasaan kosakata, penyusunan argumentasi, serta kemampuan menyampaikan pesan menjadi unsur penting yang saling berkaitan.
Bagi mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, pengalaman tersebut memiliki nilai akademik tersendiri. Kompetisi menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi dalam situasi yang menuntut kesiapan dan kepercayaan diri.
Najwa sendiri memandang kesempatan mengikuti kompetisi sebagai pengalaman yang tidak seharusnya dilewatkan hanya karena merasa belum sepenuhnya siap. Baginya, keberanian mengambil peluang merupakan bagian penting dari proses belajar dan pengembangan diri.
“Kesempatan tidak datang dua kali dan terkadang kesempatan datang ketika kita tidak siap. Maka, cobalah selagi ada kesempatan,” ungkap Najwa.
Pesan sederhana tersebut mencerminkan cara pandangnya terhadap pengalaman berkompetisi. Keberhasilan tidak selalu harus diawali dengan keyakinan bahwa seseorang akan memperoleh penghargaan. Kemauan untuk mencoba, menghadapi tantangan, dan belajar dari proses yang dijalani juga memiliki arti penting dalam perjalanan mahasiswa.
Keputusan Najwa untuk mengikuti kompetisi secara individu sekaligus memberikan ruang baginya untuk mengukur kemampuan pribadi. Dalam situasi kompetitif, mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan tuntutan penguasaan materi, tetapi juga perlu mengelola rasa percaya diri dan menunjukkan kemampuan komunikasi secara optimal.
Pengalaman tersebut semakin bermakna karena kompetisi berlangsung pada tingkat internasional. Forum semacam ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal atmosfer persaingan akademik yang lebih luas sekaligus mengembangkan kesiapan tampil dalam kegiatan kebahasaan di luar lingkungan kampus.
Pelaksanaan kompetisi secara daring juga memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi membuka akses yang semakin luas bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan akademik. Jarak geografis tidak lagi menjadi satu-satunya batas dalam mempertemukan peserta pada sebuah forum kompetisi.
Hal ini sejalan dengan tujuan penyelenggaraan ADIA International Student Competition 2026, yang menempatkan kolaborasi, inovasi, dan pengembangan ilmu Adab dan Humaniora di era digital sebagai perhatian utama.
Dalam konteks tersebut, kemampuan berbahasa Arab memiliki peran penting sebagai sarana komunikasi dan pertukaran gagasan. Bahasa Arab tidak hanya menjadi objek kajian akademik, tetapi juga dapat menjadi medium bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam forum yang mempertemukan beragam pengalaman dan perspektif keilmuan.
Capaian nominasi The Best Arabic Speech yang diperoleh Najwa menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap potensi mahasiswa BSA Humaniora dalam bidang keterampilan berbicara bahasa Arab.
Meski tidak dinyatakan sebagai juara utama, nominasi tersebut tetap memiliki arti penting dalam perjalanan akademiknya. Pengalaman berkompetisi memberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan membangun kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Arab secara aktif.
Bagi Program Studi BSA Fakultas Humaniora, partisipasi mahasiswa dalam kompetisi kebahasaan menjadi bagian dari pengembangan kompetensi di luar ruang kelas. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman nyata yang menuntut kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan menampilkan potensi diri.
Keberhasilan Najwa juga memperlihatkan bahwa pengembangan prestasi mahasiswa dapat dimulai dari keberanian mengambil peluang yang tersedia. Setiap kompetisi menghadirkan tantangan berbeda, tetapi pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk menghadapi kesempatan berikutnya.
Dalam lingkungan akademik yang terus berkembang, keberanian tersebut menjadi salah satu modal penting bagi mahasiswa. Kemampuan beradaptasi, kemauan belajar, dan kesiapan menghadapi tantangan baru turut menentukan bagaimana pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dapat dikembangkan menjadi kompetensi yang lebih luas.
Bagi Fakultas Humaniora, capaian Najwa menambah catatan partisipasi dan prestasi mahasiswa dalam bidang kebahasaan pada forum internasional. Keterlibatan tersebut sejalan dengan upaya fakultas mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik, memperluas pengalaman, dan meningkatkan daya saing melalui berbagai kesempatan.
Lebih jauh, kisah Najwa membawa pesan bahwa proses pengembangan diri tidak harus menunggu keadaan yang sepenuhnya ideal. Kesempatan yang datang di tengah keterbatasan kesiapan justru dapat menjadi ruang untuk belajar, mengenali kemampuan, dan menemukan keberanian yang sebelumnya belum teruji.
Nominasi The Best Arabic Speech dalam ADIA International Student Competition 2026 menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Bagi Najwa, pengalaman ini tidak hanya menghadirkan sebuah pencapaian, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa kesempatan perlu disambut dengan keberanian.
Dari pengalaman itu, tersimpan pelajaran yang relevan bagi mahasiswa lainnya: tidak perlu menunggu hingga seluruh keraguan hilang untuk mulai melangkah. Sebab, dalam banyak kesempatan, kesiapan justru tumbuh ketika seseorang berani mencoba. [sof/Infopub]





