MIU Login

I-SMASH Menemukan Wajah Humaniora di Rumah Santri Thailand melalui Yiam Ban Nak Rian

SONGKHLA–YALA, Thailand — Pendidikan terkadang menemukan maknanya bukan di ruang kelas, melainkan di ruang tamu sebuah rumah, di tengah percakapan keluarga, dan dalam doa yang dipanjatkan bersama. Nuansa itulah yang terasa dalam Yiam Ban Nak Rian, sebuah tradisi kunjungan rumah santri kelas akhir yang dilaksanakan oleh Rungrote Wittaya School, Thailand, Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu aktivitas yang memperkaya pengalaman peserta I-SMASH Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sekaligus memperlihatkan bagaimana nilai-nilai humaniora dapat dipelajari melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat.

Baca juga:

Yiam Ban Nak Rian secara sederhana dapat dimaknai sebagai kunjungan rumah santri. Namun, di balik kesederhanaannya, kegiatan ini menyimpan pesan pendidikan yang kuat: sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga bagian dari kehidupan keluarga dan komunitas. Dalam kegiatan tersebut, guru dan ustaz/ustazah Rungrote Wittaya School bersama santri kelas akhir mengunjungi delapan rumah santri yang tersebar di Provinsi Songkhla dan Provinsi Yala. Setiap rumah menjadi ruang baru untuk mengenal lebih dekat kehidupan santri sekaligus membangun hubungan yang lebih hangat dengan keluarga mereka.

Foto : Pembuka perjumpaan antara guru, santri, peserta kegiatan, dan keluarga di Thailand

Bagi peserta I-SMASH, pengalaman tersebut memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana pendidikan dijalankan dalam konteks sosial dan budaya Thailand Selatan. I-SMASH tidak sekadar menghadirkan pengalaman berkunjung ke institusi pendidikan di luar negeri, tetapi juga membuka kesempatan untuk menyaksikan praktik kehidupan yang membentuk ekosistem pendidikan itu sendiri. Dengan memasuki rumah-rumah santri, peserta dapat melihat bahwa pendidikan selalu berkelindan dengan keluarga, tradisi, nilai keagamaan, budaya lokal, serta relasi sosial masyarakat.

Kunjungan biasanya diawali dengan berkumpul bersama dan berdoa. Momen sederhana ini menjadi pembuka perjumpaan antara guru, santri, peserta kegiatan, dan keluarga. Setelah itu, keluarga santri menyambut rombongan dengan hidangan yang telah disiapkan. Makanan kemudian menjadi medium perjumpaan yang natural. Sambil menikmati hidangan, percakapan berlangsung dengan lebih santai, membuka ruang bagi setiap orang untuk saling mengenal dan berbagi cerita.

Dalam perspektif I-SMASH, momen semacam itu justru menjadi laboratorium humaniora yang hidup. Peserta tidak hanya belajar mengenai masyarakat Thailand Selatan melalui teks, materi presentasi, atau penjelasan di dalam kelas, tetapi mengalaminya secara langsung melalui interaksi dengan manusia. Mereka belajar bagaimana keramahan diwujudkan, bagaimana keluarga menyambut tamu, bagaimana tradisi keagamaan hadir dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana hubungan antara sekolah dan keluarga dibangun melalui silaturahmi.

Lebih jauh, Yiam Ban Nak Rian memperlihatkan pentingnya komunikasi antara guru dan keluarga santri. Kunjungan rumah memberikan kesempatan kepada guru untuk mengenal lingkungan keluarga santri secara lebih dekat, sementara keluarga memiliki ruang untuk berkomunikasi dengan guru dalam suasana yang tidak terlalu formal. Hubungan pendidikan pun tidak berhenti pada relasi guru dan siswa di sekolah, tetapi berkembang menjadi hubungan sosial yang melibatkan keluarga dan komunitas.

Nilai inilah yang memiliki relevansi kuat dengan semangat Fakultas Humaniora melalui I-SMASH. Humaniora pada dasarnya mengajarkan manusia untuk memahami manusia lain—melampaui batas bahasa, bangsa, budaya, dan geografis. Karena itu, pengalaman I-SMASH tidak semestinya berhenti pada pengenalan institusi pendidikan atau destinasi tertentu. Lebih dari itu, I-SMASH menjadi ruang untuk mengalami perbedaan, membangun empati, membaca budaya, dan menemukan nilai-nilai kemanusiaan melalui perjumpaan langsung.

Dari delapan rumah santri di Songkhla dan Yala, peserta I-SMASH mendapatkan pelajaran bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk artefak besar atau peristiwa spektakuler. Kebudayaan dapat ditemukan dalam cara sebuah keluarga menerima tamu, dalam makanan yang disajikan, dalam doa yang dipanjatkan bersama, dalam bahasa yang digunakan saat berbincang, serta dalam cara guru dan keluarga membangun hubungan. Di situlah I-SMASH menemukan salah satu makna pentingnya: belajar tentang manusia dengan cara hadir bersama manusia.

Yiam Ban Nak Rian tidak sekadar kunjungan rumah santri. Ia merupakan sebuah pengalaman lintas budaya yang mempertemukan pendidikan, keluarga, tradisi, agama, dan kemanusiaan dalam satu ruang perjumpaan. Melalui kegiatan yang menjadi bagian dari aktivitas I-SMASH Fakultas Humaniora ini, peserta diajak memahami bahwa pendidikan dapat berlangsung di mana saja—termasuk di ruang tamu sebuah keluarga di Thailand Selatan. Sebab, dalam perspektif humaniora, setiap perjumpaan dengan manusia selalu menyimpan kemungkinan untuk belajar, memahami, dan menjadi lebih manusiawi. [Fahrizal Putra Utama]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait