Oleh: Arief Rahman Hakim*
Puasa itu unik. Sangat unik. Kalau salat, orang bisa lihat kita berdiri dan rukuk. Zakat, orang bisa tahu kita memberi. Haji, apalagi—foto-fotonya bisa tersebar ke mana-mana. Tapi puasa? Siapa yang benar-benar tahu kita puasa atau tidak? Hanya dua: kita dan Allah SWT.
Di zaman serba digital seperti sekarang, hampir semua hal ingin dipamerkan. Makan difoto. Sedekah direkam. Bahkan ibadah pun kadang tak luput dari sorotan kamera. Kita hidup di era pengakuan. Di era “like” dan “view”. Di tengah suasana seperti itu, puasa terasa berbeda. Ia diam. Ia sunyi. Ia tidak butuh panggung. Kalau kita bilang puasa, orang percaya. Tapi kalau diam-diam kita batal, siapa yang tahu? Tidak ada. Kecuali Allah.
Baca juga:
- Nalar Kritis dan Bakat Diplomasi: Mahasiswa Humaniora Sabet Juara Nasional Munadzarah Ilmiyah dan Best Speaker
- Maghfirah yang Mengalir: Ampunan Allah dalam Irama Puisi Arab
Di situlah letak ujiannya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah ujian integritas. Ujian kejujuran paling pribadi. Kita sendirian di hadapan Tuhan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penilaian manusia. Maka tidak heran kalau Allah memberi nilai khusus pada puasa. Dalam Surah Az-Zumar ayat 10, Allah berfirman bahwa orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas. Dan para ulama, salah satunya Imam Al-Qurtubi, menjelaskan bahwa yang dimaksud orang sabar di antaranya adalah orang yang berpuasa.
Hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercantum dalam Sahih Muslim bahkan lebih tegas lagi. Allah berfirman: semua amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Tidak disebut angkanya. Tidak ada hitung-hitungan 10 kali, 700 kali, atau sekian persen bonus. Kata Al-Qurtubi, pahala puasa itu tidak ditakar. Dituangkan begitu saja. Melimpah.
Lalu ada satu kisah yang rasanya seperti tamparan halus. Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan Sunan An-Nasa’i, dari sahabat Anas bin Malik. Suatu hari Nabi Muhammad SAW sedang duduk bersama para sahabat. Tiba-tiba beliau berkata, “Sebentar lagi akan datang seorang lelaki penghuni surga.” Tak lama, datanglah seorang pria dari kalangan Anshar. Wajahnya biasa. Janggutnya masih basah oleh air wudu. Sandalnya ditenteng di tangan kiri. Biasa saja. Peristiwa itu terulang tiga hari. Orang yang sama.
Salah satu sahabat, Abdullah bin Amr bin Ash, penasaran. Apa istimewanya orang ini? Ia lalu mencari cara untuk menginap di rumah lelaki Anshar itu selama tiga malam. Diam-diam ia ingin mengamati. Mungkin orang ini salat malamnya luar biasa. Mungkin puasanya terus-menerus. Mungkin zikirnya ribuan kali sehari. Ternyata tidak.
Ibadahnya biasa saja. Ia tidur. Ia bangun. Kadang membaca takbir saat terjaga. Tidak ada yang spektakuler. Tidak ada yang bisa dipamerkan di media sosial kalau zaman itu sudah ada. Tiga malam berlalu. Abdullah tidak menemukan “rahasia besar”.
Akhirnya ia jujur. “Apa amalan yang membuatmu disebut Nabi sebagai penghuni surga?”
Jawabannya sederhana. Sangat sederhana. Lelaki itu berkata, “Amalku tidak lebih dari yang engkau lihat. Hanya saja, aku tidak pernah menyimpan benci dan dendam kepada sesama muslim. Dan aku tidak pernah iri terhadap nikmat yang Allah berikan kepada siapa pun.”
Selesai.
Ternyata tiket surga itu bukan soal ibadah yang terlihat hebat. Bukan soal yang paling panjang rukuknya. Bukan yang paling sering unggah kutipan ayat. Tapi hati yang bersih. Hati yang tidak iri. Tidak dengki. Tidak menyimpan bara.
Puasa seharusnya membawa kita ke sana. Ia bukan hanya latihan lapar. Ia latihan membersihkan hati. Menahan amarah. Mengikis hasad. Melatih rida pada takdir Allah. Kalau setelah puasa kita masih mudah iri, masih mudah benci, mungkin yang berpuasa baru perut kita. Belum hati kita.
Sahabat Anshar itu mengajarkan satu hal penting: menjadi penghuni surga bisa dimulai dari dalam. Dari hati yang lapang. Dari dada yang bersih. Dari kemampuan mendoakan kebaikan untuk orang yang justru lebih beruntung dari kita.
Puasa adalah ruang sunyi untuk melatih itu semua. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang menilai. Tapi justru di situlah Allah menilai paling dalam.
*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang





