MIU Login

Menyentuh Khazanah Masa Lampau: Pameran Manuskrip Kuno Jadi Magnet Seminar Filologi

HUMANIORA – (28/4/2026) Pameran manuskrip kuno menjadi salah satu daya tarik utama dalam rangkaian Seminar Nasional Filologi yang digelar di Home Theater Gedung Oesman Mansur lantai 3 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Menghadirkan koleksi dari Perpustakaan Sejarah dan Budaya Puspa Lulut, pameran ini berhasil menarik perhatian peserta dan menjadi ruang interaksi langsung antara generasi muda dengan khazanah intelektual masa lampau.

Baca juga:

Beragam manuskrip dari berbagai latar budaya ditampilkan, mulai dari naskah berbahasa Arab, Pegon, aksara Jawa, hingga aksara Cina. Tidak hanya itu, pengunjung juga diperkenalkan pada ragam media penulisan seperti kertas daluwang, kertas Eropa, dan kertas Cina. Teknik produksi teks tradisional, termasuk penggunaan plat cetak manual letterpress, turut dipamerkan, memperlihatkan kompleksitas dan ketelitian proses penulisan di masa lalu.

Pameran ini dikunjungi oleh mahasiswa, dosen, pemerhati manuskrip, hingga perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang. Daya tarik utamanya terletak pada pengalaman visual sekaligus akademik yang ditawarkan—pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga memahami bahwa manuskrip menyimpan nilai yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini.

Secara substansial, koleksi yang ditampilkan mencakup berbagai jenis naskah, seperti kitab keislaman, dokumen sejarah, hingga teks budaya yang merekam praktik sosial masyarakat Nusantara. Koleksi ini merupakan bagian dari himpunan milik Lulut Edi Santoso, yang selama ini dikenal aktif dalam pelestarian manuskrip. Meski demikian, hanya sebagian kecil koleksi yang dipamerkan, khususnya yang relevan dengan kajian Bahasa dan Sastra Arab.

Dari sisi historis, manuskrip yang dipamerkan memiliki rentang usia panjang, sebagian berasal dari abad ke-18 hingga ke-19. Keunikan lain terlihat pada penggunaan kertas Eropa yang memuat watermark tertentu ketika diterawang cahaya, menandakan asal produksinya. Sementara itu, teknik cetak letterpress menunjukkan tingkat presisi tinggi dan kesabaran dalam proses reproduksi teks di masa lalu.

Antusiasme pengunjung menjadi salah satu indikator keberhasilan pameran ini. Banyak mahasiswa tampak terlibat aktif, tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pembelajar. Salah satu mahasiswa, Alwi, mengungkapkan bahwa pameran ini membuka wawasan baru sekaligus mengingatkannya pada nilai manuskrip sebagai warisan keluarga yang tak ternilai.

Lebih dari sekadar tampilan visual, pameran ini menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual. Mahasiswa dapat menyentuh, membaca, dan memahami manuskrip secara langsung, sehingga memperkuat kesadaran bahwa manuskrip adalah “objek hidup” yang menyimpan makna dan nilai peradaban.

Peran kuratorial Perpustakaan Sejarah dan Budaya Puspa Lulut menjadi kunci dalam menghadirkan pameran yang edukatif dan inspiratif. Namun demikian, upaya pelestarian manuskrip tidak dapat dilakukan secara individual. Kolaborasi antara akademisi, komunitas, pemerintah, dan masyarakat menjadi elemen penting untuk menjaga keberlanjutan warisan ini.

Melalui pameran ini, Fakultas Humaniora tidak hanya menghadirkan ruang apresiasi, tetapi juga mendorong kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian manuskrip Nusantara. Warisan intelektual ini tidak hanya layak dijaga, tetapi juga perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dan memberi manfaat bagi generasi masa kini dan masa depan. [dee/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait