MIU Login

Puasa: Puisi Jiwa yang Ditulis dengan Tinta Takwa (Ramadhan dalam Cermin Sastra Arab)

Oleh: Nur Hasaniyah*

Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momen sakral bagi umat Islam, di mana puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana introspeksi diri dan penguatan spiritual. Dalam perspektif humaniora, khususnya bahasa dan sastra Arab, Ramadhan bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga sumber inspirasi yang kaya akan makna simbolis dan estetis. Sebagai dosen yang mendalami bahasa dan sastra Arab, saya melihat Ramadhan sebagai “bahasa” yang hidup, di mana kata-kata, puisi, dan narasi klasik Arab merefleksikan perjuangan manusia dalam mencapai ketakwaan. Melalui lensa sastra, puasa menjadi “puisi” yang ditulis dengan tinta pengorbanan dan harapan—sebuah karya seni rohani yang indah sekaligus mendalam.

Baca juga:

Dalam tradisi sastra Arab, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium untuk menangkap esensi kehidupan. Al-Qur’an sendiri, sebagai puncak sastra Arab, menggambarkan Ramadhan dengan keindahan bahasa yang penuh hikmah. Ayat-ayat tentang puasa tidak hanya perintah, tetapi juga undangan untuk merenung. Ini sejalan dengan konsep بلاغة (balāghah – retorika) dalam sastra Arab, di mana kata-kata dipilih untuk membangkitkan emosi dan pemahaman mendalam. Mari kita telusuri bagaimana sastra Arab merefleksikan Ramadhan, dengan didukung dalil-dalil keagamaan yang relevan.

Pertama, mari kita mulai dari fondasi utama: Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi sastra. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183-185, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ … شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ 

Terjemahan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa … (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…” (Terjemahan Kementerian Agama RI).

Ayat ini tidak hanya menetapkan kewajiban puasa, tetapi juga menekankan tujuannya: mencapai takwa, kemudahan, dan syukur. Dalam sastra Arab, bahasa ayat ini menjadi model keindahan: penggunaan kata لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (la‘allakum tattaqūn – agar kamu bertakwa) mencerminkan irama yang harmonis, mengajak pembaca merenung. Al-Qur’an, sebagai mukjizat sastra (إعجاز القرآن – i‘jāz al-Qur’ān), menginspirasi penyair Arab untuk mengeksplorasi tema puasa sebagai perjuangan batin.

Hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperkaya refleksi ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Hadits ini menekankan aspek spiritual puasa: bukan sekadar rutinitas, tapi pencarian ampunan melalui keikhlasan. Dalam sastra Arab, tema ini sering muncul dalam puisi قصيدة (qaṣīdah) atau غزل (ghazal), dideruuurrrrrmana puasa digambarkan sebagai “perjalanan jiwa” menuju kebersihan hati.

Melihat dari perspektif sastra Arab klasik, penyair seperti أحمد شوقي (Aḥmad Syauqī, 1868-1932), dikenal sebagai أمير الشعراء (Amīr asy-Syu‘arā’ – Pangeran Para Penyair), menulis puisi tentang Ramadhan yang penuh refleksi. Dalam puisinya yang terinspirasi dari keutamaan bulan suci, Syauqi menggambarkan Ramadhan sebagai pelindung dari godaan duniawi, menggemakan ayat Al-Qur’an tentang ليلة القدر (Lailatul Qadr – QS. Al-Qadr: 1-5). Puisi ini, dengan بحر (baḥr – irama) yang mengalir, merefleksikan bagaimana bahasa Arab klasik menggunakan metafor untuk menggambarkan Ramadhan sebagai ولي (walī – pelindung), mengajak jiwa kembali ke esensi keislaman.

Dalam sastra Arab modern, tema Ramadhan juga muncul dalam karya penyair seperti نزار قباني (Nizār Qabbānī) atau محمود درويش (Maḥmūd Darwīsy), meski lebih kontekstual dengan isu sosial. Namun, akarnya tetap pada bahasa Arab yang kaya sinonim: kata صوم (ṣaum – puasa) berasal dari akar ص م و (ṣ-m-w) yang berarti “menahan”, mencerminkan pengendalian diri. Dalam budaya Arab, tradisi Ramadhan seperti إفطار (ifṭār – berbuka) dan سحور (saḥūr – sahur) sering digambarkan dalam cerita rakyat seperti ألف ليلة وليلة (Alf Lailah wa Lailah – Seribu Satu Malam), di mana puasa menjadi latar untuk kisah moral tentang kesabaran dan kebaikan.

Refleksi ini mengajarkan kita, sebagai civitas akademika, bahwa Ramadhan bukan hanya ibadah fisik, tapi juga kesempatan untuk “membaca ulang” diri melalui bahasa dan sastra. Di tengah hiruk-pikuk dunia akademik, puasa Ramadhan mengingatkan kita pada nilai humaniora: empati, refleksi, dan pencarian makna. Seperti yang digambarkan dalam puisi Syauqi, Ramadhan adalah “pelindung” yang mengajak kita kembali ke esensi keislaman.

Dalam konteks Fakultas Humaniora UIN Malang, mari kita manfaatkan Ramadhan untuk memperkaya literasi. Dengan membaca sastra Arab tentang puasa, kita bisa mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam kajian bahasa dan budaya. Semoga Ramadhan ini menjadi momentum untuk berbagi ilmu, sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa sastra bukan sekadar kata, tapi cermin jiwa. Mari kita sambut dengan hati terbuka, agar takwa yang kita raih bukan sementara, tapi abadi. تقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال، آمين.

*Penulis adalah dosen Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait