MIU Login

Penaloka Humaniora Bekali Mahasiswa Dasar Kepenulisan Jurnal Ilmiah

HUMANIORA – (24/9/2026) Menulis artikel jurnal ilmiah sering kali terasa rumit bagi mahasiswa yang baru memulainya. Bukan hanya persoalan menemukan ide, tetapi juga bagaimana mengubah ide tersebut menjadi tulisan akademik yang runtut, mulai dari menentukan judul, menyusun abstrak dan pendahuluan, memilih metodologi, hingga membangun hasil dan pembahasan. Proses inilah yang diperkenalkan Catrina Syachviendra Alziqmah kepada mahasiswa dalam kegiatan Penaloka, Senin (1/9/2026).

Baca juga:

Kegiatan yang diselenggarakan DEMA Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tersebut berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting. Sekitar 20 orang yang terdiri atas peserta dan panitia mengikuti kegiatan yang berfokus pada pengenalan dasar-dasar kepenulisan jurnal ilmiah.

Melalui Penaloka, peserta diajak memahami bahwa artikel ilmiah tidak lahir secara instan. Sebelum sebuah tulisan sampai pada bentuk akhirnya, penulis harus melalui sejumlah tahapan yang saling berkaitan. Catrina mengawali pembahasan dari proses yang paling mendasar, yakni menemukan ide. Tahap ini menjadi titik awal karena sebuah artikel membutuhkan persoalan yang jelas untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut.

Bagi mahasiswa yang baru belajar menulis jurnal, menemukan ide sering kali menjadi tantangan pertama. Banyaknya topik yang dapat dibahas justru dapat membuat penulis kesulitan menentukan arah. Karena itu, ide perlu dikembangkan secara terarah hingga dapat menjadi dasar bagi penyusunan sebuah penelitian dan artikel ilmiah.

Setelah ide ditemukan, proses berikutnya adalah mengembangkan gagasan tersebut menjadi struktur tulisan akademik. Dalam pemaparannya, Catrina membahas sejumlah bagian penting dalam penulisan jurnal, meliputi judul dan abstrak artikel, pendahuluan, metodologi penelitian, hasil dan pembahasan, serta kumpulan riset.

Pembahasan tersebut memberikan gambaran kepada peserta bahwa setiap bagian dalam artikel memiliki fungsi yang saling mendukung. Penulis tidak cukup hanya memiliki topik yang menarik. Ide tersebut perlu diterjemahkan ke dalam struktur akademik yang membuat pembaca dapat memahami apa yang diteliti, bagaimana penelitian dilakukan, serta apa yang diperoleh dari proses penelitian tersebut.

Judul, misalnya, menjadi bagian awal yang memperkenalkan fokus artikel kepada pembaca. Sementara abstrak memberikan gambaran ringkas mengenai penelitian yang dilakukan. Setelah itu, penulis perlu membangun pendahuluan yang mampu mengantarkan pembaca menuju persoalan penelitian. Pada tahap inilah gagasan awal mulai ditempatkan dalam konteks akademik yang lebih luas.

Materi kemudian bergerak pada penyusunan metodologi penelitian. Bagian ini penting karena penelitian ilmiah membutuhkan proses yang dapat dijelaskan secara sistematis. Mahasiswa perlu memahami bahwa menulis jurnal bukan sekadar menyampaikan opini. Tulisan ilmiah dibangun melalui proses penelitian dengan metode yang sesuai dengan persoalan yang dikaji.

Pemahaman mengenai metodologi membantu mahasiswa menjelaskan bagaimana penelitian dilakukan dan bagaimana data atau bahan kajian digunakan untuk menjawab persoalan penelitian. Setelah metodologi, mahasiswa berhadapan dengan salah satu bagian utama artikel, yakni hasil dan pembahasan. Pada bagian inilah hasil penelitian disajikan dan kemudian dibahas untuk menunjukkan makna maupun kontribusi dari penelitian yang dilakukan.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa menulis artikel ilmiah pada dasarnya merupakan proses membangun argumentasi secara bertahap. Setiap bagian memiliki hubungan dengan bagian lainnya, sehingga penulis perlu menjaga konsistensi sejak menentukan ide hingga menyusun pembahasan.

Bagi mahasiswa, pengenalan terhadap struktur artikel jurnal sejak dini memiliki nilai penting. Keterampilan menulis akademik tidak hanya dibutuhkan ketika mahasiswa menyelesaikan tugas perkuliahan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam mengembangkan kemampuan penelitian.

Menulis jurnal melatih mahasiswa untuk bekerja secara sistematis. Sebuah gagasan perlu dirumuskan, ditelusuri melalui berbagai penelitian yang relevan, dikembangkan menggunakan metodologi yang tepat, kemudian dituangkan menjadi argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Proses tersebut sekaligus melatih mahasiswa untuk membaca lebih banyak. Penulis artikel ilmiah membutuhkan pemahaman terhadap penelitian-penelitian sebelumnya agar mengetahui bagaimana suatu persoalan telah dibahas dan di mana penelitian yang sedang dilakukan dapat ditempatkan. Dengan demikian, kemampuan menulis tidak dapat dipisahkan dari kemampuan membaca dan menelusuri riset.

Semakin luas mahasiswa membaca, semakin banyak pula perspektif yang dapat digunakan untuk memahami suatu persoalan. Dari proses itulah ide penelitian dapat tumbuh dan dikembangkan menjadi tulisan yang lebih matang. Penyelenggaraan Penaloka juga memperlihatkan bahwa organisasi mahasiswa dapat mengambil peran dalam membangun budaya akademik di lingkungan fakultas.

DEMA Fakultas Humaniora tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar berorganisasi, tetapi melalui kegiatan seperti Penaloka juga dapat menyediakan ruang belajar yang mendukung pengembangan keterampilan akademik mahasiswa. Kemampuan menulis jurnal menjadi salah satu keterampilan yang relevan bagi mahasiswa Humaniora. Kajian bahasa, sastra, budaya, maupun berbagai persoalan kemanusiaan membutuhkan kemampuan untuk membaca fenomena secara kritis dan mengkomunikasikan hasil pemikiran tersebut melalui tulisan akademik.

Karena itu, pengenalan dasar kepenulisan jurnal dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa yang ingin mulai terlibat dalam dunia penelitian dan publikasi ilmiah. Mereka tidak harus langsung menghasilkan artikel yang sempurna. Hal yang lebih penting adalah memahami prosesnya, berani memulai, dan membangun keterampilan tersebut secara bertahap.

Melalui Penaloka, peserta mendapatkan gambaran mengenai perjalanan sebuah tulisan ilmiah dimulai dari menemukan ide, merumuskan judul dan abstrak, membangun pendahuluan, menyusun metodologi, hingga mengembangkan hasil dan pembahasan dengan dukungan riset yang relevan.

Tahapan-tahapan tersebut menjadi fondasi yang dapat terus diasah melalui latihan menulis, membaca penelitian, dan pengalaman melakukan riset. Bagi mahasiswa, kemampuan menulis jurnal bukan keterampilan yang terbentuk dalam satu pertemuan. Ia tumbuh melalui proses—dari keberanian menuangkan gagasan pertama, menerima masukan, memperbaiki tulisan, hingga semakin terbiasa membangun argumentasi akademik.

Di titik itulah Penaloka memiliki relevansi. Kegiatan ini memberikan ruang awal bagi mahasiswa untuk mengenal dunia kepenulisan ilmiah dengan lebih dekat. Dari sekitar 20 peserta yang bertemu melalui ruang virtual, proses tersebut dimulai dari sesuatu yang sederhana tetapi fundamental menemukan ide, membacanya melalui riset, lalu belajar mengubahnya menjadi tulisan ilmiah yang terstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan. [unr-sof/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait