MIU Login

Arsitektur Teks dan EYD V Jadi Bekal Penting PKL, Humaniora Siapkan Mahasiswa Tulis Teks Profesional dan Berintegritas

HUMANIORA – (26/6/2026) Di tengah dunia kerja yang menuntut ketepatan komunikasi, kemampuan menyusun teks yang rapi, akurat, dan sesuai kaidah bahasa menjadi keterampilan dasar yang tidak bisa ditawar. Bagi mahasiswa Humaniora yang akan terjun ke dunia profesional melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), penguasaan arsitektur teks dan pedoman EYD V bukan sekadar kemampuan teknis menulis, melainkan fondasi penting untuk membangun kredibilitas, profesionalisme, dan kualitas kerja sejak hari pertama magang.

Baca juga:

Hal tersebut diulas dalam sesi pembekalan bidang penerjemahan pada kegiatan Pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berlangsung di Kampus 3, Kamis (25/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Translator di TranslationLinker, Putuh Akbar Duta Hutama, S.S. membekali mahasiswa dengan materi seputar arsitektur teks, panduan visual EYD V, dan etika profesional magang sebagai modal utama memasuki dunia kerja.

Putuh menekankan bahwa mahasiswa Humaniora, khususnya yang akan magang di bidang penerjemahan, kepenulisan, maupun administrasi profesional, harus memahami bahwa kualitas sebuah teks tidak hanya ditentukan oleh isi, tetapi juga oleh ketepatan ejaan, struktur kalimat, tanda baca, dan konsistensi penulisan. Dalam konteks kerja profesional, kesalahan kecil dalam teks dapat memengaruhi makna, menurunkan kepercayaan pembaca, bahkan mencerminkan rendahnya ketelitian penulis.

Karena itu, ia memperkenalkan Anatomi EYD V sebagai pedoman penting dalam menata teks secara benar. Materi ini mencakup lima aspek utama, yakni penggunaan huruf, penulisan kata, penggunaan tanda baca, penulisan unsur serapan, serta pedoman umum pembentukan istilah. Menurutnya, pemahaman terhadap EYD V bukan hanya kebutuhan akademik, tetapi juga kebutuhan praktis yang akan sangat menentukan mutu dokumen, laporan, terjemahan, maupun naskah profesional yang dihasilkan mahasiswa saat magang.

Dalam pemaparannya, Putuh menyoroti sejumlah pilar utama ejaan yang benar, mulai dari penggunaan tanda baca, penulisan imbuhan dan gabungan kata, angka dan satuan, hingga pemakaian huruf kapital serta singkatan. Ia mencontohkan bagaimana tanda titik, koma, dan tanda hubung bukan sekadar simbol teknis, melainkan penentu jeda, intonasi, dan kejelasan struktur kalimat. Demikian pula dengan penulisan kata turunan, kata majemuk, serta bentuk-bentuk serapan yang harus dipahami secara cermat agar teks yang dihasilkan tetap sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Lebih jauh, Putuh menegaskan bahwa penguasaan EYD V akan sangat membantu mahasiswa membangun arsitektur teks yang kuat—yakni kemampuan menata tulisan secara runtut, logis, nyaman dibaca, dan mudah dipahami. Dalam dunia penerjemahan maupun profesi lain yang bergantung pada komunikasi tertulis, teks yang baik harus memiliki struktur yang presisi sekaligus visual yang tertata. Inilah yang ia sebut sebagai pentingnya “panduan visual teks”: bagaimana isi, ejaan, dan format bekerja bersama untuk menghadirkan pesan yang jelas dan profesional.

Namun, pembekalan tersebut tidak berhenti pada aspek teknis kebahasaan. Putuh juga mengingatkan bahwa keberhasilan magang sangat ditentukan oleh etika profesi dan mentalitas kerja. Ia menekankan prinsip fokus pada prestasi, bukan mencari celah aturan, sebagai sikap awal yang harus dibangun mahasiswa ketika memasuki dunia industri. Menurutnya, setiap tempat kerja memiliki standar, budaya, dan sistem kerja yang berbeda, sehingga pemagang harus mampu menempatkan diri secara profesional dengan mematuhi prosedur dan menunjukkan kontribusi terbaik.

“Sebagai pemagang, yang paling penting adalah membangun kredibilitas sejak dini. Tunjukkan kualitas kerja, selesaikan tanggung jawab dengan baik, dan jadikan masa magang sebagai kesempatan belajar sebanyak-banyaknya,” pesannya.

Prinsip profesionalisme juga menjadi sorotan penting dalam materi tersebut. Mahasiswa didorong untuk menjaga amanah pekerjaan, menyelesaikan tugas secara tuntas, serta menampilkan kualitas kerja yang mencerminkan standar profesional. Putuh menegaskan bahwa keseimbangan antara hak dan kewajiban harus dipahami sejak masa magang, karena dunia kerja tidak hanya menilai kemampuan teknis, tetapi juga komitmen, kedisiplinan, dan integritas.

Selain itu, ia mengajak mahasiswa untuk menanamkan mentalitas pemenang selama menjalani PKL. Semangat belajar, inisiatif tinggi, optimisme, serta keberanian menghadapi tantangan dinilai sebagai karakter penting yang akan membedakan mahasiswa biasa dengan mahasiswa yang benar-benar siap tumbuh di dunia profesional. Menurutnya, masa magang adalah ruang belajar nyata yang tidak boleh dijalani secara pasif.

“Jangan hanya menunggu perintah. Tawarkan solusi, bantu tim, dan fokuslah pada nilai yang bisa Anda berikan. Di situlah profesionalisme dibentuk,” tegasnya.

Nilai integritas juga menjadi bagian penting dalam pembekalan ini. Putuh mengingatkan bahwa kejujuran, amanah, dan tanggung jawab merupakan modal terbesar dalam membangun karier. Mahasiswa harus membiasakan diri bekerja dengan transparan, tidak memanipulasi data, tidak menyembunyikan kesalahan, serta menjadikan setiap tugas sebagai amanah yang harus dituntaskan dengan sungguh-sungguh. Ia juga mengajak mahasiswa untuk memaksimalkan waktu kerja dengan efisien dan menjaga lingkungan kerja yang sehat agar produktivitas serta objektivitas tetap terpelihara.

Melalui materi ini, Fakultas Humaniora menunjukkan bahwa pembekalan PKL tidak hanya berfokus pada kesiapan teknis di lapangan, tetapi juga pada pembentukan mahasiswa yang cakap menulis, teliti berbahasa, dan matang secara profesional. Penguasaan arsitektur teks dan EYD V diposisikan bukan sekadar sebagai pelengkap keterampilan, melainkan sebagai kompetensi inti bagi mahasiswa Humaniora yang akan bekerja di bidang penerjemahan, media, pendidikan, maupun profesi lain yang bertumpu pada kekuatan bahasa.

Pembekalan dari Putuh Akbar Duta Hutama ini sekaligus menegaskan bahwa di era kerja yang serba cepat dan kompetitif, mahasiswa Humaniora harus mampu tampil bukan hanya sebagai pengguna bahasa, tetapi sebagai penyusun teks yang presisi, komunikatif, dan berintegritas. Dari ketepatan tanda baca hingga etos kerja profesional, semua menjadi bagian dari bekal penting untuk menapaki dunia kerja secara lebih siap, percaya diri, dan bertanggung jawab. [al/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait