MIU Login

Mengubah Pengalaman Menjadi Pengetahuan: Menulis Reflektif sebagai Fondasi Gerakan Literasi

HUMANIORA – (31/7/2026) Menulis bukan sekadar keterampilan merangkai kata, tetapi juga proses berpikir yang memungkinkan seseorang memahami pengalaman, membangun pengetahuan, sekaligus menghadirkan perubahan sosial. Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., Dekan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus dosen pengampu mata kuliah Creative Writing, saat menjadi narasumber dalam Lokakarya Literasi Kearifan Lokal Jawa Timur Seri 2 yang diselenggarakan Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jawa Timur, Sabtu (18/7/2026).

Read too:

Dalam sesi bertajuk “Teknik Penulisan Naskah Reflektif untuk Buku Bunga Rampai”, Prof. Faisol mengajak para pegiat literasi dari berbagai daerah untuk melihat aktivitas menulis sebagai bagian dari proses membangun peradaban. Menurutnya, pengalaman membaca, mengelola taman bacaan, maupun mendampingi masyarakat akan kehilangan nilai historis apabila tidak didokumentasikan melalui tulisan yang reflektif dan sistematis.

Foto : Zoom Meeting peserta kegiatan literasi kearifan lokal

Dalam sesi bertajuk “Teknik Penulisan Naskah Reflektif untuk Buku Bunga Rampai”, Prof. Faisol mengajak para pegiat literasi dari berbagai daerah untuk melihat aktivitas menulis sebagai bagian dari proses membangun peradaban. Menurutnya, pengalaman membaca, mengelola taman bacaan, maupun mendampingi masyarakat akan kehilangan nilai historis apabila tidak didokumentasikan melalui tulisan yang reflektif dan sistematis.

Sebagai pengajar Creative Writing di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Faisol telah lama menempatkan menulis sebagai proses kreatif yang bertumpu pada refleksi. Ia menjelaskan bahwa karya yang baik tidak lahir semata-mata dari kemampuan berbahasa, melainkan dari kemampuan penulis membaca realitas, mengolah pengalaman, lalu menyajikannya menjadi narasi yang memberi makna bagi pembaca. Karena itu, tulisan reflektif menjadi salah satu bentuk penulisan yang mampu menghubungkan pengalaman personal dengan pengetahuan yang bersifat universal.

Foto : Flayer kegiatan

Menurutnya, banyak pegiat literasi memiliki pengalaman luar biasa dalam mengembangkan budaya baca di masyarakat, tetapi belum terbiasa mengubah pengalaman tersebut menjadi karya tulis. Padahal, pengalaman lapangan merupakan sumber pengetahuan yang sangat kaya apabiladikembangkan melalui teknik refleksi yang tepat. Dengan menulis, praktik-praktik baik tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga dapat direplikasi, dikritisi, dan dikembangkan oleh komunitas lain.

Pengalaman panjang Prof. Faisol sebagai pegiat literasi, penulis, dan akademisi membuatnya menekankan bahwa kekuatan tulisan tidak selalu terletak pada bahasa yang rumit. Sebaliknya, tulisan yang paling berpengaruh justru lahir dari pengalaman nyata yang disampaikan secara jujur, runtut, dan mampu menghadirkan perspektif baru. Oleh sebab itu, ia mendorong peserta agar berani menulis berdasarkan pengalaman autentik yang mereka miliki dalam mengelola TBM maupun menjalankan aktivitas literasi di daerah masing-masing.

Dalam pandangannya, Creative Writing tidak identik dengan karya fiksi semata. Menulis kreatif juga mencakup kemampuan mengolah pengalaman, observasi, dan refleksi menjadi tulisan yang hidup, komunikatif, serta memiliki daya gugah. Karena itu, teknik bertutur, pemilihan sudut pandang, penguatan detail, hingga kemampuan membangun alur berpikir menjadi unsur penting dalam menghasilkan naskah reflektif yang berkualitas.

Prof. Faisol juga menilai bahwa gerakan literasi Indonesia memerlukan lebih banyak dokumentasi berbasis pengalaman lapangan. Selama ini, keberhasilan berbagai komunitas membaca dan taman bacaan masyarakat sering kali hanya dikenal oleh lingkungan terdekatnya. Padahal, apabila kisah-kisah tersebut dituliskan secara baik, maka akan menjadi referensi penting bagi pengembangan kebijakan literasi, pendidikan masyarakat, maupun penguatan budaya membaca di Indonesia.

Baginya, tema yang diusung Forum TBM Jawa Timur, “Literasi Lokal, Aksi Global”, memiliki makna yang sangat strategis. Literasi lokal tidak berhenti sebagai aktivitas komunitas, melainkan dapat menjadi inspirasi dunia ketika berhasil dikemas dalam bentuk karya tulis yang berkualitas. Menulis menjadi medium yang memungkinkan pengalaman sederhana di tingkat lokal memiliki dampak yang jauh lebih luas dan lintas generasi.

Melalui kegiatan ini, Prof. Faisol berharap semakin banyak pegiat literasi yang tumbuh tidak hanya sebagai pembaca dan penggerak komunitas, tetapi juga sebagai penulis yang mampu merekam jejak intelektual masyarakat. Menurutnya, setiap taman bacaan memiliki kisah yang layak diwariskan. Ketika kisah-kisah tersebut ditulis secara reflektif, sesungguhnya para pegiat literasi sedang membangun arsip peradaban yang akan menjadi sumber belajar bagi generasi mendatang. [al/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait