MIU Login

I-YES 2026 Kenalkan Budaya Indonesia melalui Gerak Tari Nusantara

HUMANIORA – (1/10/2026) Halaman MTs Almaarif 01 Singosari, Kabupaten Malang, berubah menjadi ruang belajar budaya bagi peserta International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 melalui Cultural Class: Traditional Dance, Rabu (30/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, peserta dari berbagai negara diajak mengenal tari Nusantara dengan mengikuti gerakan secara langsung bersama guru tari MTs Almaarif 01 Singosari.

Read too:

Tidak seperti latihan tari yang berlangsung secara formal dan ketat, sesi tersebut dikemas dalam suasana santai dan menyenangkan. Peserta diberi ruang untuk mencoba, mengamati gerakan, kemudian mengulanginya bersama-sama. Sesekali ketidaktepatan gerakan justru menghadirkan tawa dan membuat interaksi semakin cair.

Musik menjadi pintu bagi peserta untuk menjelajahi keragaman Indonesia. Sejumlah lagu daerah dari berbagai wilayah Nusantara digunakan untuk mengiringi gerakan, mulai dari Sinanggar Tulo dari Sumatera Utara, Kicir-kicir dari DKI Jakarta, Cing Cangkeling dari Jawa Barat, Anging Mamiri dari Sulawesi Selatan, hingga Rek Ayo Rek dari Jawa Timur.

Perjalanan musikal tersebut juga membawa peserta mengenal Indung-indung dari Kalimantan Timur, Si Patokaan dari Sulawesi Utara, serta Rasa Sayange dari Maluku.

Foto: Peserta I-YES 2026 dari berbagai negara mengikuti gerakan tari tradisional bersama dalam suasana penuh keakraban.

Dalam satu sesi, peserta diperkenalkan pada beragam ekspresi budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tidak hanya mendengarkan lagu atau menyaksikan seseorang menari, tetapi ikut bergerak dan mengalami sendiri bagaimana musik diterjemahkan menjadi gerakan.

Pendekatan tersebut membuat pengenalan budaya berlangsung lebih aktif. Indonesia tidak diperkenalkan sebagai satu identitas budaya yang tunggal, melainkan sebagai ruang yang memiliki beragam tradisi, musik, dan ekspresi seni dari berbagai daerah.

Kegiatan ini membawa semangat Indonesia Menari, dengan mempertemukan unsur tari dan musik tradisional Nusantara dalam konsep yang lebih modern dan menyenangkan. Cara tersebut membuat peserta yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman menari tetap dapat mengikuti gerakan tanpa merasa sedang menjalani latihan yang kaku.

Meski demikian, mengikuti koreografi menjadi tantangan tersendiri. Peserta harus memperhatikan contoh dari guru tari sambil mengoordinasikan gerakan tangan dan kaki. Ketika irama berubah, mereka pun harus segera menyesuaikan gerakan.

Proses mencoba, salah, kemudian mengikuti kembali menjadi bagian dari pengalaman belajar. Peserta tidak dituntut menghasilkan gerakan yang sempurna. Hal yang lebih penting adalah keberanian mereka untuk ikut bergerak dan mengalami kebudayaan yang sedang diperkenalkan.

Di tengah peserta yang berasal dari latar bahasa berbeda, tari juga menunjukkan kemampuannya sebagai medium komunikasi. Tidak seluruh instruksi harus disampaikan melalui kata-kata. Ketika guru memperagakan sebuah gerakan, peserta dapat mengamati dan mengikutinya secara langsung.

Foto: Peserta I-YES 2026 mengikuti setiap gerakan dalam kelas tari tradisional di MTs Almaarif 01 Singosari.

Perbedaan bahasa yang biasanya menjadi tantangan dalam komunikasi lintas negara pun perlahan kehilangan batasnya. Irama, gerak tubuh, ekspresi, dan kebersamaan membantu peserta memahami apa yang perlu dilakukan.

Pengalaman tersebut melengkapi rangkaian pembelajaran lintas budaya pada hari ketiga I-YES 2026. Sebelumnya, peserta dan siswa bertukar cerita tentang bahasa serta kehidupan di berbagai negara melalui Intercultural Talk. Peserta juga belajar membatik motif Mega Mendung dengan pendampingan siswa MTs Almaarif. Melalui kelas tari, pengenalan budaya bergerak ke bentuk pengalaman lain: belajar Indonesia melalui tubuh dan gerak.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa pertukaran budaya dapat dibangun melalui berbagai medium. Percakapan membuka ruang untuk bertukar gagasan, membatik mempertemukan peserta melalui proses kreatif, sedangkan tari memungkinkan mereka berkomunikasi melalui gerakan.

Hal ini sejalan dengan tema I-YES 2026, “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future.” Dialog lintas budaya tidak selalu hadir dalam bentuk percakapan. Ia juga dapat tumbuh ketika orang-orang dari negara berbeda bergerak mengikuti irama yang sama dan berusaha memahami ekspresi budaya yang sedang mereka pelajari.

Bagi Faculty of Humanities UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan internasionalisasi yang berorientasi pada perjumpaan langsung. Peserta internasional tidak hanya diperkenalkan pada Indonesia melalui forum akademik di kampus, tetapi diajak mendekati kebudayaan melalui pengalaman yang mereka jalani sendiri.

Dari Sinanggar Tulo hingga Rasa Sayange, setiap irama membawa peserta berpindah dari satu wilayah budaya menuju wilayah lainnya. Di halaman MTs Almaarif 01 Singosari, keragaman Indonesia tidak hanya diceritakan. Keragaman itu didengar, diikuti, dan dirasakan melalui gerak bersama. [nad-unr/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait