MIU Login

Intercultural Talk I-YES 2026 Dorong Siswa Berani Berkomunikasi Global

HUMANIORA – (30/9/2026) Pengalaman berkomunikasi global tidak harus menunggu siswa pergi ke luar negeri. Di ruang kelas MTs Almaarif 01 Singosari, Kabupaten Malang, pengalaman itu hadir ketika siswa dapat bertanya, mendengarkan, dan berinteraksi langsung dengan peserta International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 dari berbagai negara, Rabu (30/9/2026).

Read too:

Melalui sesi Intercultural Talk, ruang kelas menjadi tempat bertemunya berbagai bahasa, budaya, dan pengalaman. Peserta I-YES memperkenalkan negara asal mereka melalui cerita sederhana tentang makanan, bahasa, tokoh, kehidupan masyarakat, hingga kesenian. Sementara itu, siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi aktif mengajukan pertanyaan dan mencoba berbagai aktivitas bersama.

Interaksi tersebut membuat pengalaman lintas budaya terasa lebih dekat. Hal-hal yang sebelumnya mungkin hanya dikenal siswa melalui buku, internet, atau media kini dapat mereka tanyakan langsung kepada orang yang tumbuh dan hidup dalam budaya tersebut.

Salah satu perjumpaan berlangsung bersama Madina, peserta I-YES asal Pakistan. Rasa ingin tahu siswa segera terlihat dari beragam pertanyaan yang muncul. Mereka bertanya tentang makanan Indonesia yang pertama kali dicoba Madina, kehidupan sehari-hari di Pakistan, hingga budaya yang berkembang di negaranya.

Ketika berbicara mengenai makanan Indonesia, Madina bercerita bahwa salah satu makanan pertama yang dicobanya adalah nasi dengan ayam goreng, kemudian nasi goreng. Setelah semakin mengenal kuliner Indonesia, ia menemukan menu lain yang justru menjadi favoritnya.

“I love nasi goreng, dan sekarang saya lebih suka nasi ayam geprek pakai sambal matah,” ujarnya.

Percakapan tentang makanan kemudian bergerak ke berbagai topik lain. Siswa penasaran dengan kehidupan satwa di Pakistan. Madina pun memperkenalkan sejumlah hewan, termasuk markhor, hewan bertanduk panjang yang dapat ditemukan di kawasan Pakistan.

Dari satwa, percakapan beralih menuju sejarah dan identitas nasional. Madina memperkenalkan Muhammad Ali Jinnah sebagai salah satu tokoh penting Pakistan serta Minar-e-Pakistan sebagai salah satu monumen bersejarah di negara tersebut.

Siswa juga diajak melihat bahwa Pakistan memiliki keragaman bahasa dan budaya. Madina memperkenalkan sejumlah wilayah beserta bahasa yang digunakan masyarakatnya, seperti Punjab dengan bahasa Punjabi, Khyber Pakhtunkhwa dengan komunitas Pashtun, Balochistan dengan bahasa Balochi, serta Sindh dengan bahasa Sindhi.

Pengenalan budaya tidak berhenti pada cerita. Madina kemudian mengajak siswa berdiri dan mencoba Do Chappi, sebuah tarian yang ia perkenalkan kepada peserta. Gerakan yang dilakukan bersama membuat suasana kelas semakin cair. Siswa yang sebelumnya berinteraksi melalui pertanyaan kini belajar budaya melalui gerak dan pengalaman langsung.

Foto: Siswa MTs Almaarif 01 Singosari mengikuti sesi intercultural sharing bersama peserta I-YES 2026.

Suasana serupa terlihat ketika siswa bertemu Abdul Hamid Hilal Kabir, peserta I-YES asal Nigeria. Ia memperkenalkan sejumlah kosakata dan angka dalam bahasa Hausa, termasuk kosakata mengenai hewan.

Interaksi dikembangkan melalui permainan tebak gerak sehingga siswa tidak hanya menghafal kata, tetapi mencoba memahami maknanya melalui aktivitas bersama. Abdul Hamid juga memperkenalkan tarian tradisional Hausa yang kemudian dicoba bersama para siswa.

Beragam aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi lintas budaya tidak selalu bergantung pada kesempurnaan berbahasa. Ketika kosakata terbatas atau terdapat perbedaan bahasa, ekspresi, gerakan, permainan, dan kemauan untuk saling memahami dapat menjadi jembatan komunikasi.

Di sinilah Intercultural Talk memperoleh makna yang lebih luas. Siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai Pakistan atau Nigeria, tetapi juga berlatih membangun keberanian untuk memulai percakapan dengan seseorang yang memiliki latar bahasa dan budaya berbeda.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai makanan, hewan, bahasa, tokoh nasional, hingga tarian menjadi pintu masuk bagi percakapan yang lebih luas. Rasa ingin tahu mendorong siswa untuk berbicara, sementara respons peserta internasional membuat komunikasi berkembang menjadi proses belajar dua arah.

Bagi peserta I-YES, interaksi dengan siswa juga memberikan pengalaman tersendiri. Mereka perlu menerjemahkan pengetahuan mengenai negaranya ke dalam cerita dan aktivitas yang mudah dipahami. Dengan demikian, mereka tidak hanya memperkenalkan budaya, tetapi juga belajar membangun komunikasi dengan audiens yang berbeda.

Foto: Peserta I-YES 2026, siswa, dan pendamping mengabadikan kebersamaan seusai rangkaian intercultural sharing di MTs Almaarif 01 Singosari.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran lintas budaya yang dibawa Faculty of Humanities UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui I-YES 2026. Internasionalisasi tidak hanya ditempatkan dalam forum akademik di lingkungan kampus, tetapi diperluas hingga ruang kelas sekolah dan madrasah.

Model perjumpaan seperti ini membuat siswa memperoleh pengalaman global tanpa harus meninggalkan lingkungan belajar mereka. Dunia hadir melalui orang-orang yang membawa bahasa, cerita, dan kebudayaan berbeda, sementara siswa memperoleh ruang yang aman untuk bertanya dan mencoba berkomunikasi.

Kegiatan tersebut sekaligus menerjemahkan tema I-YES 2026, “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future,” ke dalam pengalaman yang nyata. Dialog lintas budaya dimulai bukan dari percakapan yang rumit, tetapi dari keberanian untuk bertanya, kemauan mendengarkan, dan keterbukaan untuk mengenal sesuatu yang berbeda.

Dari ruang kelas MTs Almaarif 01 Singosari, Intercultural Talk menunjukkan bahwa kompetensi global dapat mulai tumbuh melalui perjumpaan sederhana. Ketika siswa berani bertanya kepada seseorang dari Pakistan, mencoba bahasa Hausa bersama peserta dari Nigeria, atau mengikuti gerakan tari dari budaya lain, mereka sedang belajar satu hal yang penting: berkomunikasi dengan dunia tanpa takut pada perbedaan. [nad-unr/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait