MIU Login

Membatik Bersama, Peserta I-YES 2026 Kenali Batik Selami Budaya Indonesia

HUMANIORA – (30/9/2026) Mengenal budaya tidak selalu cukup dengan melihat atau mendengarkan cerita tentangnya. Ada pengalaman yang baru benar-benar terasa ketika seseorang terlibat langsung dalam prosesnya. Pengalaman itulah yang diperoleh peserta International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 ketika belajar membatik bersama siswa MTs Almaarif 01 Singosari, Kabupaten Malang, Rabu (30/9/2026).

Read too:

Dalam rangkaian hari ketiga I-YES 2026, peserta dari berbagai negara mendapat kesempatan mengenal batik bukan sekadar sebagai kain atau motif khas Indonesia. Mereka memegang canting, mengikuti pola, dan mencoba sendiri proses membatik pada media totebag.

Menariknya, proses belajar tersebut justru dipandu oleh siswa MTs Almaarif 01 Singosari. Para siswa memberikan contoh penggunaan canting, menunjukkan tahapan pengerjaan, serta mendampingi peserta selama membuat motif.

Foto: Siswa MTs Almaarif 01 Singosari mendampingi peserta I-YES 2026 dalam membuat motif batik pada totebag.

Interaksi itu mengubah posisi siswa yang sebelumnya menyambut peserta internasional menjadi pihak yang membagikan pengetahuan. Di hadapan peserta dari berbagai negara, mereka memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Indonesia melalui keterampilan yang telah mereka pelajari.

Motif yang digunakan dalam kegiatan tersebut adalah Mega Mendung, motif batik yang identik dengan tradisi batik Cirebon. Karakter visual berupa susunan bentuk menyerupai awan menjadi pola yang kemudian dikerjakan peserta pada totebag masing-masing.

Satu per satu peserta mulai mencoba menggunakan canting. Mereka mengikuti garis pola yang telah disiapkan sembari menyesuaikan gerakan tangan agar proses membatik dapat dilakukan dengan baik.

Aktivitas yang terlihat sederhana tersebut membutuhkan konsentrasi. Canting perlu dikendalikan dengan hati-hati, sementara peserta harus mengikuti pola secara perlahan. Di tengah proses itu, siswa berada di samping mereka untuk memberi contoh dan membantu ketika peserta mengalami kesulitan.

Suasana belajar pun berlangsung lebih cair. Perbedaan bahasa tidak menghalangi proses transfer pengetahuan. Sebagian instruksi dapat disampaikan melalui percakapan, sementara sebagian lainnya cukup dilakukan dengan contoh gerakan yang kemudian diikuti peserta.

Dari proses tersebut, peserta tidak hanya melihat hasil akhir sebuah motif batik. Mereka memperoleh kesempatan merasakan bahwa di balik sebuah karya terdapat ketelitian, kesabaran, keterampilan tangan, dan proses yang harus dilalui.

Pengalaman langsung ini menjadi penting dalam konteks pertukaran budaya. Kebudayaan tidak hanya diperkenalkan sebagai informasi yang perlu diketahui, tetapi sebagai praktik yang dapat dialami dan dipelajari bersama.

Bagi siswa MTs Almaarif 01 Singosari, kegiatan tersebut juga menghadirkan pengalaman yang berbeda. Kehadiran peserta internasional memberi mereka kesempatan untuk mengambil peran sebagai jembatan budaya, memperkenalkan salah satu identitas budaya Indonesia kepada orang-orang dari berbagai negara.

Posisi tersebut membuat pertukaran budaya dalam I-YES 2026 berlangsung dua arah. Pada sesi Intercultural Talk, siswa belajar mengenai bahasa, makanan, masyarakat, dan tradisi negara lain langsung dari peserta internasional. Dalam kegiatan membatik, giliran siswa yang membagikan pengetahuan dan pengalaman budaya Indonesia kepada mereka.

Pertemuan semacam inilah yang membuat kegiatan lintas budaya tidak berhenti pada aktivitas saling memperkenalkan negara. Peserta dan siswa sama-sama memiliki sesuatu untuk dipelajari sekaligus sesuatu untuk dibagikan.

Kegiatan membatik juga memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi medium komunikasi ketika peserta berasal dari latar bahasa yang berbeda. Melalui pola, gerakan tangan, contoh, dan proses bekerja bersama, interaksi tetap dapat berlangsung meskipun tidak setiap hal harus dijelaskan dengan kata-kata.

Foto: Peserta I-YES 2026 dan siswa MTs Almaarif 01 Singosari bersama-sama menyelesaikan motif batik pada totebag.

Pengalaman tersebut sejalan dengan semangat I-YES 2026, “Voices Across Culture: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future.” Dialog lintas budaya tidak hanya hadir melalui percakapan, tetapi juga melalui pengalaman ketika orang dari latar berbeda menciptakan sesuatu bersama.

Bagi Faculty of Humanities UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman internasional yang berangkat dari perjumpaan nyata dengan masyarakat dan kebudayaan. Peserta internasional tidak hanya mengenal Indonesia dari lingkungan kampus, tetapi berinteraksi langsung dengan sekolah, siswa, serta praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Ketika kegiatan selesai, totebag bermotif Mega Mendung yang mereka kerjakan tidak hanya menjadi hasil dari sebuah aktivitas. Di balik setiap pola terdapat pengalaman menggunakan canting untuk pertama kali, interaksi dengan siswa yang mendampingi, serta cerita tentang budaya Indonesia yang mereka kenal melalui prosesnya.

Dari ruang belajar di MTs Almaarif 01 Singosari, batik akhirnya menjadi lebih dari motif yang diperkenalkan kepada peserta I-YES 2026. Ia menjadi bahasa perjumpaan—ketika siswa membagikan budayanya dan peserta internasional belajar memahami Indonesia melalui pengalaman yang mereka lakukan sendiri. [nad-unr/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait