HUMANIORA – (14/7/2026) Transformasi digital yang berlangsung cepat telah mengubah wajah pengelolaan perguruan tinggi. Layanan akademik yang sebelumnya didominasi proses administrasi manual kini beralih menuju sistem berbasis teknologi informasi yang menuntut sumber daya manusia semakin adaptif, kompeten, dan inovatif. Menyikapi perubahan tersebut, Dekan Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., mengajak seluruh tenaga kependidikan (tendik) untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui pemetaan kompetensi sebagai fondasi menghadapi era digital.
Read too:
- Kabag TU Humaniora Ajak Tendik Evaluasi Kinerja Sambut Semester Ganjil 2026/2027
- Dekan Humaniora Ajak Bangun Sinergi Internal untuk Optimalkan Layanan Akademik
Pesan tersebut disampaikan Prof. Faisol dalam Rapat Koordinasi Fakultas Humaniora yang digelar di Ruang Meeting Lantai 2 Fakultas Humaniora Kampus 3, Senin (13/7/2026). Rapat dihadiri jajaran dekanat, Kepala Bagian Tata Usaha, pimpinan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab dan English Literature, dosen, serta tenaga kependidikan.

Dalam arahannya, Prof. Faisol menegaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar perubahan penggunaan teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir, budaya kerja, serta cara memberikan layanan kepada sivitas akademika. Oleh karena itu, setiap tenaga kependidikan dituntut untuk terus mengembangkan kompetensi agar mampu mengikuti dinamika dunia pendidikan tinggi yang semakin berbasis digital.
“Perubahan tidak bisa dihindari. Karena itu, kita harus mempersiapkan SDM yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar pelayanan kepada mahasiswa semakin efektif, cepat, dan profesional,” tegasnya.
Sebagai langkah strategis, Dekan menginstruksikan pelaksanaan matrikulasi kompetensi bagi seluruh tenaga kependidikan. Melalui pemetaan tersebut, setiap pegawai diharapkan mampu mengenali kompetensi yang dimiliki, memahami posisi dan perannya dalam organisasi, sekaligus mengidentifikasi kemampuan yang masih perlu dikembangkan.
Menurutnya, pemetaan kompetensi tidak dimaksudkan sebagai alat evaluasi semata, melainkan sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan sumber daya manusia secara berkelanjutan. Dengan mengetahui kekuatan dan kebutuhan peningkatan kompetensi setiap individu, fakultas dapat merancang program pelatihan yang lebih tepat sasaran sekaligus mendistribusikan pekerjaan sesuai keahlian masing-masing.

Prof. Faisol menambahkan bahwa penguatan kompetensi digital menjadi kebutuhan mendesak di tengah semakin berkembangnya sistem informasi akademik, layanan administrasi berbasis daring, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam tata kelola perguruan tinggi. Karena itu, peningkatan literasi digital harus menjadi bagian dari budaya belajar yang terus dibangun di lingkungan Fakultas Humaniora.
Ia juga mengingatkan bahwa kualitas pelayanan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia yang mengelolanya. Teknologi, menurutnya, akan memberikan manfaat maksimal apabila didukung oleh tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi, integritas, dan semangat untuk terus belajar.
Melalui penguatan kapasitas tenaga kependidikan, Fakultas Humaniora berkomitmen menghadirkan tata kelola yang semakin modern, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan sivitas akademika. SDM yang unggul diharapkan mampu menghadirkan layanan akademik yang lebih cepat, akurat, profesional, serta mendukung terwujudnya budaya mutu yang berkelanjutan di lingkungan fakultas.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Fakultas Humaniora dalam mendukung transformasi perguruan tinggi menuju institusi yang berdaya saing global. Dengan membangun budaya pembelajaran sepanjang hayat bagi tenaga kependidikan, fakultas optimistis mampu menghadapi tantangan era digital sekaligus memperkuat kualitas layanan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. [sof/Infopub]





