MIU Login

Dari Ruang Kuliah Menuju Perspektif Global, Sastra Inggris Perkuat Atmosfer Internasional

HUMANIORA(9/9/2026) Pengalaman internasional bagi mahasiswa tidak selalu harus dimulai dengan naik pesawat dan belajar di luar negeri. Atmosfer global juga dapat dibangun dari ruang kelas ketika mahasiswa bertemu dengan orang dari latar budaya berbeda, menggunakan bahasa Inggris secara langsung, bertukar gagasan, dan berani menyampaikan pandangannya (7/9).

Read too:

Pengalaman tersebut dirasakan ratusan mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam International Scholar Engagement bersama Jemima Holliday dan Freya Lovstrom dari University of York, Inggris.

Melalui kegiatan bertema “Reading Literature Effectively: Strategies for Understanding and Appreciating Literary Works”, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai strategi memahami karya sastra. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang bagi mereka untuk mengalami komunikasi akademik lintas budaya secara langsung.

Foto : Interaksi antara peserta dan pemateri menjadi bagian penting dalam memperdalam pemahaman tentang strategi membaca karya sastra secara kritis, interpretatif, dan apresiatif.

Bahasa Inggris yang selama ini dipelajari di kelas hadir dalam fungsi yang sesungguhnya untuk mendengarkan, bertanya, menyampaikan pendapat, merespons gagasan, dan membangun percakapan.

Bagi mahasiswa yang masih berada pada tahap awal perjalanan akademik, pengalaman tersebut memiliki arti tersendiri.

Berbicara menggunakan bahasa Inggris di hadapan orang lain tidak selalu mudah. Ada kekhawatiran memilih kosakata yang kurang tepat, melakukan kesalahan tata bahasa, atau tidak mampu menyampaikan gagasan sebagaimana yang diinginkan.

Foto : Narasumber, Dosen, dan Mahasiswa Fakultas Humaniora dalam kegiatan bertajuk “Reading Literature Effectively Strategies for Understanding and Appreciating Literary Works”.

Namun, kemampuan berbahasa tidak akan berkembang jika hanya disimpan sebagai pengetahuan.

Karena itu, English Literature Study Program berupaya menghadirkan ruang yang memungkinkan mahasiswa membangun kepercayaan diri melalui pengalaman komunikasi yang nyata.

Ketua English Literature Study Program, Dr. Agwin Degaf, M.A., menegaskan bahwa atmosfer semacam ini memang ingin diperkenalkan sejak mahasiswa berada di semester pertama.

“Sejak semester pertama, kami ingin mahasiswa English Literature merasakan bahwa mereka menjadi bagian dari lingkungan akademik yang terbuka dan berorientasi internasional. Kegiatan seperti ini bukan hanya memberikan wawasan tentang bagaimana membaca dan memahami karya sastra secara efektif, tetapi juga membangun keberanian mahasiswa untuk berinteraksi, berdiskusi, dan menggunakan bahasa Inggris secara langsung. Kami berharap pengalaman ini menjadi awal yang baik bagi perjalanan akademik mereka di English Literature Study Program,” ungkap Agwin.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi tidak hanya dipahami sebagai mobilitas mahasiswa ke luar negeri. Program studi Sastra Inggris juga dapat membawa pengalaman internasional lebih dekat kepada mahasiswa dengan menciptakan perjumpaan akademik di dalam kampus.

Kehadiran Jemima Holliday dan Freya Lovstrom menjadi salah satu bentuk pengalaman tersebut. Mahasiswa bertemu dengan perspektif yang berbeda sekaligus mendapatkan kesempatan untuk membawa pandangan mereka sendiri ke dalam percakapan.

Pertemuan lintas budaya seperti ini penting bagi mahasiswa English Literature. Mereka mempelajari bahasa yang digunakan secara global sekaligus berhadapan dengan karya sastra yang lahir dari beragam konteks sosial dan budaya.

Mahasiswa tidak cukup hanya fasih berbicara. Mereka juga perlu mampu menerima perspektif lain, membandingkan gagasan, membangun argumentasi, dan menyampaikan pandangan secara terbuka dalam lingkungan yang beragam. Materi kegiatan memang menempatkan interaksi lintas budaya sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mendengarkan sekaligus membawa perspektif mereka sendiri ke dalam diskusi.

Bagi English Literature Study Program, pengalaman semacam ini menjadi salah satu cara membangun ekosistem akademik yang berorientasi internasional dari lingkungan terdekat mahasiswa.

Mahasiswa tidak harus menunggu kesempatan student exchange atau program luar negeri untuk mulai berinteraksi dalam atmosfer global. Pengalaman itu dapat dimulai dari auditorium kampus, melalui keberanian mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris, mendengarkan jawaban, dan terlibat dalam diskusi.

Program studi berharap proses itu terus berkembang sepanjang perjalanan akademik mahasiswa. Kemampuan bahasa yang semakin baik perlu berjalan berdampingan dengan kemampuan berpikir kritis, memahami teks, membaca keragaman budaya, dan berkomunikasi dalam lingkungan global.

Melalui International Scholar Engagement, internasionalisasi akhirnya hadir dalam bentuk yang konkret dan dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya istilah dalam dokumen akademik, tetapi pengalaman bertemu, mendengarkan, berbicara, dan bertukar perspektif dengan orang dari lingkungan internasional.

Bagi ratusan mahasiswa English Literature yang hadir, pertemuan bersama international scholars University of York tersebut dapat menjadi langkah awal. Hari itu mereka belajar tentang sastra, tetapi pada saat yang sama juga belajar sesuatu yang lebih luas berani menggunakan bahasa Inggris dan menempatkan diri sebagai bagian dari komunitas akademik yang terbuka terhadap dunia. [sof/Infopub]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait