HUMANIORA – (28/9/2026) Perjumpaan mahasiswa dari berbagai negara tidak hanya menghadirkan perbedaan bahasa, tetapi juga membawa pengalaman, cara pandang, dan latar budaya yang beragam. Ruang perjumpaan inilah yang dibangun Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui sesi “Dialog Across Cultures” dalam rangkaian Humaniora I-YES 2026, Senin (28/9/2026).
Read too:
Digelar setelah pembukaan Humaniora I-YES 2026, sesi tersebut menghadirkan Wakil Dekan Bidang AUPK, Miftahul Huda, Ph.D. Alih-alih langsung menyampaikan materi dalam format satu arah, ia mengajak peserta mengenal satu sama lain melalui dialog dan aktivitas interaktif.

Sesi dibuka dengan kuis menggunakan platform kuis berbasis web, peserta diajak menguji sejauh mana mereka mengenal negara asal mahasiswa internasional yang hadir dalam program I-YES 2026. Melalui skema permainan interaktif, peserta dapat langsung bergabung dan menjawab pertanyaan menggunakan perangkat masing-masing.
Cara tersebut membuat suasana yang semula formal menjadi lebih cair. Pertanyaan mengenai negara, budaya, dan latar belakang peserta internasional memancing rasa ingin tahu sekaligus membuka percakapan di antara peserta.

Menariknya, mahasiswa internasional tidak hanya menjadi objek dalam kuis tersebut. Mereka turut memberikan respons terhadap jawaban yang muncul sehingga interaksi berkembang menjadi percakapan dua arah.
Salah satu pertanyaan yang mengundang perhatian peserta berkaitan dengan negara di Afrika yang memiliki sejarah sebagai salah satu pusat pendidikan dan keilmuan Islam. Beberapa peserta menyebut Mali dengan mengaitkannya pada sejarah perkembangan pusat-pusat keilmuan Islam di negara tersebut.

Dari pertanyaan sederhana itu, dialog kemudian berkembang menjadi ruang untuk saling mengenal. Peserta tidak hanya menebak asal negara mahasiswa internasional, tetapi mulai berhadapan dengan pengetahuan dan perspektif yang mungkin sebelumnya belum mereka temui.
Interaksi menjadi semakin personal ketika mahasiswa internasional mendapat giliran menceritakan first impression mereka selama berada di Indonesia.
Mereka diajak berbagi kesan awal mengenai lingkungan yang ditemui, interaksi dengan masyarakat, hingga berbagai pengalaman yang dirasakan sejak berada di Indonesia. Cerita-cerita tersebut memberikan kesempatan kepada peserta lain untuk melihat Indonesia melalui perspektif orang yang datang dari latar budaya berbeda.
Di titik inilah sesi Dialog Across Cultures memperoleh maknanya. Pertemuan lintas budaya tidak hanya berbicara tentang mengetahui dari mana seseorang berasal. Lebih jauh, peserta belajar memahami bagaimana lingkungan, kebiasaan, dan pengalaman yang sama dapat dilihat secara berbeda oleh orang dengan latar budaya yang berbeda.
Bagi mahasiswa Indonesia, mendengarkan first impression mahasiswa internasional juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali budaya sendiri dari sudut pandang orang lain. Hal-hal yang dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi pengalaman baru, menarik, bahkan mengejutkan bagi seseorang yang baru pertama kali berada di Indonesia.
Sebaliknya, mahasiswa internasional memperoleh ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung dan membangun komunikasi dengan peserta lain dalam suasana yang lebih terbuka.
Format interaktif yang digunakan Miftahul Huda membuat pembelajaran budaya berlangsung melalui pengalaman. Kuis menjadi pembuka percakapan, sementara respons dan cerita mahasiswa internasional membawa peserta menuju dialog yang lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Pendekatan tersebut relevan dengan semangat Humaniora I-YES 2026 yang mengangkat tema “Voices Across Cultures: Inspiring Dialogue for a Sustainable Future.” Perbedaan latar belakang ditempatkan bukan sebagai jarak, tetapi sebagai titik awal untuk membangun dialog.
Dalam konteks pendidikan humaniora, kemampuan memahami perbedaan menjadi penting karena bahasa dan budaya selalu berkelindan dengan cara manusia berkomunikasi dan memaknai dunia. Interaksi langsung dengan peserta dari negara lain memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar mempelajari budaya melalui buku atau ruang kelas.
Sesi Dialog Across Cultures akhirnya menjadi lebih dari kegiatan pengenalan. Percakapan tentang negara asal, sejarah, budaya, hingga kesan pertama mahasiswa internasional membuka ruang bagi peserta untuk bertanya, mendengarkan, sekaligus melihat suatu pengalaman dari perspektif yang berbeda. Melalui perjumpaan sederhana tersebut, Humaniora I-YES 2026 menghadirkan salah satu esensi penting dari pertukaran internasional: belajar mengenal dunia dengan terlebih dahulu membuka ruang untuk mendengarkan orang lain. [nab-sof/Infopub]





