MIU Login

Bangkok yang Jadi Rumah Kedua: Belajar Menjadi Guru, Saudara, dan Manusia di Amanah Suksasarn School

Oleh: Syeikha Qanita

Ada perjalanan yang mengajarkan ilmu. Ada pula perjalanan yang diam-diam mengubah cara seseorang memandang hidup, manusia, dan dirinya sendiri. Bagi saya, pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Amanah Suksasarn School Prawet, Bangkok, Thailand, termasuk dalam kategori kedua: bukan sekadar agenda akademik, melainkan perjalanan emosional yang mempertemukan saya dengan ketulusan, keberanian, dan makna kehadiran.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah itu, perasaan saya jauh dari kata tenang. Jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, pikiran dipenuhi berbagai kekhawatiran: apakah saya akan diterima dengan baik, apakah saya mampu beradaptasi, apakah murid-murid bisa dekat dengan guru baru dari negara lain, dan apakah saya mampu menjalankan peran ini dengan baik. Sebelum keberangkatan, pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi kepala saya. Saya membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk, mulai dari kesulitan komunikasi hingga kekhawatiran tidak bisa menjadi guru yang menyenangkan bagi para siswa.

Namun, setiap perjalanan besar sering kali dimulai dengan rasa takut yang perlahan dikalahkan oleh pengalaman itu sendiri. Kehadiran teman seperjalanan saya, Nabila, menjadi salah satu penguat terbesar. Di tengah rasa cemas yang datang silih berganti, ia selalu meyakinkan bahwa semuanya bisa dilalui bersama. Dukungan sederhana seperti itu ternyata sangat berarti, terutama ketika seseorang sedang berdiri di ambang pengalaman baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Hari pertama di Amanah Suksasarn School terasa menegangkan. Gedung sekolah itu sederhana, suasananya hangat, tetapi saya masih diselimuti kegugupan. Hingga kemudian, tiba-tiba terdengar sapaan riang dari para siswa, “Assalamualaikum, teacher!” Sapaan itu datang begitu spontan, begitu polos, dan begitu tulus. Saya sempat terkejut, bahkan nyaris tidak siap menerimanya. Namun, justru dari momen kecil itulah hati saya perlahan terbuka. Sapaan sederhana tersebut seolah menjadi tanda bahwa saya tidak sedang berada di tempat asing; saya sedang diterima.

Sejak hari itu, sapaan-sapaan kecil menjadi bagian paling khas dari keseharian kami. Setiap pagi, para siswa menyapa dengan antusias, kadang sambil berlari kecil, kadang dengan nada bercanda yang mengundang tawa. Sesuatu yang pada awalnya membuat saya kaget, lambat laun berubah menjadi momen yang paling saya rindukan. Di sanalah saya menyadari bahwa kedekatan tidak selalu lahir dari percakapan besar, tetapi sering kali justru tumbuh dari gestur sederhana yang dilakukan berulang-ulang dengan tulus.

Kegiatan belajar di kelas pun berkembang jauh melampaui bayangan saya. Proses pembelajaran tidak berlangsung secara kaku. Kami bernyanyi bersama untuk menghafal kosakata, menepuk meja mengikuti irama, tertawa ketika salah mengucapkan kata, lalu mencoba lagi dengan semangat. Di sela-sela pelajaran, kami juga saling belajar bahasa: mereka mengenalkan beberapa kosakata bahasa Thai kepada saya, sementara saya membantu mereka mengenal dan melafalkan bahasa Indonesia. Suasana kelas menjadi hidup, cair, dan penuh tawa. Hubungan guru dan murid tidak lagi dibatasi oleh formalitas, melainkan dibangun melalui kebersamaan yang alami.

Tentu, pengalaman itu tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika kelas terasa sangat ramai, anak-anak berteriak, bercanda tanpa henti, dan membuat suasana nyaris sulit dikendalikan. Sebagai guru praktik, saya juga pernah merasa lelah, kewalahan, bahkan hampir putus asa menghadapi tingkah mereka. Namun, ada satu hal yang selalu membuat saya bertahan: semangat mereka untuk belajar. Di balik kenakalan dan kegaduhan itu, saya melihat mata-mata yang penuh rasa ingin tahu, wajah-wajah yang ceria, dan energi yang begitu tulus. Aneh, tetapi benar—kelelahan itu selalu mencair ketika melihat mereka tersenyum dan tetap antusias mengikuti pelajaran.

Hal yang paling membekas justru hadir di luar pelajaran formal. Beberapa murid mulai bercerita kepada saya tentang kehidupan mereka: keluarga, pertemanan, cita-cita, hingga persoalan kecil yang mereka hadapi sehari-hari. Saya tidak pernah menyangka bahwa dalam waktu yang relatif singkat, mereka bisa menaruh kepercayaan sedemikian besar. Pada saat itu, saya merasa bahwa peran guru bukan hanya soal menjelaskan materi di depan kelas, melainkan juga tentang menjadi pendengar yang baik, hadir tanpa menghakimi, dan menciptakan ruang aman bagi siswa untuk bercerita.

Pengalaman tersebut membuat saya memahami satu hal penting: pendidikan sejatinya tidak hanya berlangsung melalui transfer pengetahuan, tetapi juga melalui relasi yang hangat dan manusiawi. Ketika siswa merasa didengar, dihargai, dan diterima, proses belajar menjadi lebih bermakna. Hubungan yang terjalin bukan lagi sekadar hubungan akademik, tetapi hubungan kemanusiaan.

Di luar kelas, kenangan-kenangan kecil justru menjadi bagian yang paling sulit dilupakan. Pernah suatu sore beberapa murid mengajak saya jajan bersama. Kami berjalan berdampingan, bercakap-cakap, dan tertawa di sepanjang jalan. Momen itu tampak sederhana, tetapi menyimpan kehangatan yang luar biasa. Dalam kesempatan lain, ketika saya harus pergi ke Seven Eleven dan merasa ragu karena ada seekor anjing di sekitar jalan, seorang murid dengan tenang berkata, “It’s okay teacher, follow me.” Ia lalu berjalan di depan saya, memastikan saya aman melewati jalan itu. Momen kecil seperti itu menyentuh saya dengan cara yang sulit dijelaskan. Di sana saya merasakan bentuk persaudaraan yang tulus—bukan sekadar relasi antara guru dan murid, melainkan hubungan saling menjaga sebagai sesama manusia.

Kehangatan yang sama juga saya rasakan bersama para guru di sekolah. Guru pamong kami sangat sabar, ramah, dan terbuka. Beliau tidak hanya mendampingi kegiatan mengajar, tetapi juga menciptakan suasana yang membuat kami merasa diterima sebagai bagian dari lingkungan sekolah. Salah satu momen paling sederhana namun membahagiakan adalah ketika kami makan siang bersama, lalu bermain UNO di meja panjang setelahnya. Tawa pecah di antara kami, dan untuk sesaat saya lupa bahwa saya hanyalah guru tamu dari negara lain. Saya merasa seperti bagian dari keluarga besar Amanah Suksasarn School.

Semakin hari, saya semakin memahami bahwa sekolah ini bukan hanya tempat saya mengajar, tetapi juga tempat saya belajar tentang arti kehadiran. Anak-anak di sana mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa lahir dari hal-hal kecil: sapaan pagi yang riang, nyanyian sederhana di kelas, candaan saat jam istirahat, atau obrolan singkat sepulang sekolah. Mereka juga mengajarkan bahwa kasih sayang tidak selalu membutuhkan waktu lama untuk tumbuh. Kadang, ia hadir begitu saja ketika dua pihak sama-sama membuka hati.

Karena itu, momen perpisahan menjadi bagian paling emosional dari seluruh perjalanan ini. Anak-anak memberikan surat-surat kecil berwarna, dihiasi gambar hati, bunga, dan tulisan tangan yang polos namun menyentuh. Di antara kalimat-kalimat yang mereka tulis, ada satu pesan yang terus terngiang hingga hari ini: “Teacher, please come back again. We will miss you.” Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna yang sangat dalam. Saya menyadari bahwa kehadiran saya, meski singkat, ternyata meninggalkan jejak bagi mereka. Dan tanpa saya sadari, mereka pun telah meninggalkan jejak yang jauh lebih besar dalam hidup saya.

Saat sore perpisahan itu tiba, anak-anak berdiri berbaris di halaman sekolah. Sebagian melambaikan tangan, sebagian menahan air mata, dan beberapa berlari mendekat untuk memberi pelukan terakhir. Ada yang berkata, “Teacher, don’t forget us, okay?” Saya hanya mampu tersenyum sambil menahan haru. Dalam momen itu, saya benar-benar memahami bahwa perpisahan terasa berat hanya ketika sebuah pertemuan telah menjadi begitu berarti.

Kini, setelah kembali ke Indonesia, kenangan tentang Amanah Suksasarn School tetap hidup dalam ingatan saya. Sapaan pagi yang dulu mengejutkan, tawa saat bermain UNO, suara anak-anak bernyanyi di kelas, obrolan polos mereka, hingga surat-surat kecil penuh kasih sayang—semuanya menjadi bagian berharga dari perjalanan hidup saya. Bangkok tidak lagi saya kenang semata sebagai kota tempat PKL dilaksanakan, melainkan sebagai rumah kedua yang menghadirkan pengalaman kemanusiaan yang mendalam.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar. Menjadi guru berarti hadir sepenuh hati, mendengarkan dengan tulus, memahami tanpa menghakimi, dan membersamai proses tumbuh seorang anak, meskipun hanya untuk waktu yang singkat. Pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga tentang membangun kedekatan, rasa aman, dan kepercayaan.

Melalui pengalaman di Bangkok, saya juga belajar bahwa program internasional seperti PKL atau student mobility bukan hanya penting untuk memperluas wawasan akademik, tetapi juga sangat berharga dalam membentuk empati, ketahanan, dan kemampuan beradaptasi. Mahasiswa tidak hanya diuji dalam hal kompetensi, tetapi juga dalam hal kematangan emosional, keterbukaan budaya, dan kesiapan membangun relasi dengan lingkungan yang sama sekali baru.

Karena itu, saya percaya bahwa pengalaman lintas negara semacam ini perlu terus dibuka dan diperluas. Bukan hanya untuk membangun reputasi akademik, tetapi juga untuk menumbuhkan generasi muda yang tangguh, humanis, dan mampu melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas. Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari pengalaman ini—pengalaman yang tidak hanya mempertemukan saya dengan ruang belajar baru, tetapi juga dengan keluarga kecil di negeri orang.

Bangkok kini bukan lagi kota asing. Di sana, ada sebuah sekolah sederhana yang telah menjadi rumah kedua. Ada anak-anak yang mengajarkan arti ketulusan, kebahagiaan, dan persaudaraan tanpa syarat. Dan ada kenangan-kenangan kecil yang akan terus saya simpan, sebagai pengingat bahwa terkadang perjalanan terindah bukanlah perjalanan yang paling jauh, melainkan perjalanan yang paling dalam menyentuh hati.

Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali, menjawab doa-doa polos anak-anak yang pernah menulis, “Teacher, please come back again.” Hingga saat itu tiba, saya akan selalu menyimpan mereka di hati—anak-anak yang telah mengajarkan bahwa kasih sayang, kebersamaan, dan kehadiran yang tulus adalah pelajaran paling berharga dari sebuah perjalanan.

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait