Oleh: Helmi Nawali*
Percakapan sederhana dalam keluarga sering kali menyimpan makna yang dalam. Kadang, dari obrolan santai di rumah justru lahir refleksi besar tentang kehidupan. Seperti yang terjadi dalam percakapan kami kemarin. Sebuah percakapan santai sambil menunggu adzan Subuh, sesaat setelah makan sahur. Isteri saya bertanya dengan nada heran, “Kenapa orang kok berbuat jahat, sibuk mengurusi dunia dan melupakan akhirat. Bukankah Nabi lebih mementingkan akhirat?”
Baca juga:
Pertanyaan ini semacam menggambarkan kegelisahan yang sering muncul dalam hati banyak orang beriman, yang melihat dunia makin ramai tapi makin hampa. Hiruk-pikuk dunia, ambisi yang tak ada habisnya, persaingan yang kadang membuat orang menabrak nilai-nilai moral. Dan, pertanyaan itu bukan sekadar curahan hati — ia adalah cermin yang ia hadapkan kepada seluruh keluarga.
Lalu, anak kedua saya menjawab dengan tenang, juga tentu bagi saya cukup mengejutkan. Ia berkata sederhana, “Itu untuk menjaga ekosistem. Kalau semua mengurusi akhirat, siapa yang memakmurkan dunia?” Kalimat polos itu terasa seperti sebuah tamparan lembut bagi orang dewasa seperti tentang cara memandang kehidupan. Dalam kepolosannya, ia mengingatkan bahwa kehidupan ini memang diciptakan dengan keseimbangan. Dunia dan akhirat bukan dua kutub yang harus dipertentangkan, melainkan dua sisi yang harus dirawat bersama.
Di sinilah menariknya. Menurut saya, keduanya tidak salah. Justru ketegangan antara dua perspektif inilah yang membuat percakapan itu menjadi momentum refleksi yang sempurna untuk lebaran.
Momentum lebaran selalu membawa kita kembali pada refleksi semacam ini. Setelah sebulan penuh menjalani puasa, menahan lapar dan dahaga, memperbanyak ibadah, serta menundukkan ego, kita seakan diajak untuk menata ulang orientasi hidup. Ramadan mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada Tuhan, lebih peka terhadap sesama, dan lebih sadar bahwa hidup tidak hanya soal mengejar materi.
Sebulan penuh kita baru saja menjalani puasa di bulan suci Ramadan. Riyadhah spiritual intensif yang mengajak kita mengendurkan cengkeraman dunia, berpuasa dari nafsu, memperbanyak doa, dan mengingatkan diri bahwa ada dimensi yang lebih kekal dari sekadar gaji, jabatan, dan pencapaian. Ramadhan adalah undangan untuk memprioritaskan akhirat. Namun setelah takbir lebaran berkumandang, kehidupan dunia kembali menyapa. Aktivitas ekonomi berjalan lagi, pekerjaan menunggu, tanggung jawab sosial kembali menuntut perhatian. Di sinilah muncul pertanyaan klasik: bagaimana menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan orientasi akhirat?
Mungkin inilah pesan tersembunyinya, lebaran bukan puncak pengingkaran dunia, melainkan puncak rekonsiliasi antara dunia dan akhirat.
Rasulullah ﷺ memang tidak meninggalkan dunia sepenuhnya. Beliau berdagang, berperang, memimpin negara, membangun masyarakat. Bahkan dalam sebuah hadis yang terkenal, Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.” Ini bukan kalimat yang memilih salah satu, namun bertali-temali antara keduanya.
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk tidak lari dari dunia. Sebaliknya, kita dituntut hadir di dunia dengan orientasi yang benar: dengan niat yang bersih, dengan cara yang jujur, dan hati yang tidak terpenjara oleh apa yang dikerjakan.
Jawaban anak saya tentang “ekosistem” sebenarnya menggambarkan logika kehidupan yang sangat sederhana tetapi mendalam. Dalam sebuah ekosistem, setiap unsur memiliki perannya masing-masing. Ada yang menanam, ada yang mengolah, ada yang menjaga, dan ada yang memanfaatkan. Jika semua orang memilih satu peran yang sama, keseimbangan akan terganggu.
Jawaban istri saya juga benar. Jiwa yang sibuk mengurus dunia tanpa pernah berhenti dan bertanya “untuk apa ini semua” akan mudah tersesat. Ia akan mengumpulkan dunia tapi lupa bahwa ia sendiri suatu hari akan meninggalkannya.
Dari dua jawaban ini saya menemukan bahwa keseimbangan itu menjadi penting. Bahkan sangat penting. Masalahnya bukan pada orang yang bekerja keras mengurus dunia, tetapi pada ketika dunia menjadi satu-satunya tujuan. Ketika kekayaan dikejar tanpa peduli halal atau haram. Ketika jabatan dicapai dengan mengorbankan keadilan. Ketika kesibukan dunia membuat orang lupa bahwa hidup ini sementara. Sebaliknya, memandang dunia sebagai bagian dari ibadah akan melahirkan sikap yang berbeda. Orang tetap bekerja keras, tetapi dengan cara yang jujur. Ia tetap mencari rezeki, tetapi juga peduli kepada mereka yang membutuhkan. Ia tetap mengejar prestasi, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati.
Di sinilah lebaran menemukan maknanya yang paling dalam. Ini adalah hari ketika kita berkumpul bukan untuk memamerkan siapa yang paling sukses, melainkan untuk mengingatkan satu sama lain bahwa kita saling terhubung sebagai keluarga, sebagai sesama manusia, serta sebagai makhluk yang sama-sama fana.
Dalam suasana lebaran, kita sering mendengar ungkapan kembali ke “fitrah”. Fitrah sering dimaknai sebagai keadaan suci seperti bayi yang baru lahir. Namun mungkin fitrah juga bisa dimaknai sebagai kembali kepada keseimbangan alami manusia. Manusia diciptakan dengan kebutuhan spiritual sekaligus kebutuhan duniawi. Ia butuh berdoa, tetapi juga perlu bekerja. Ia perlu mengingat Tuhan, tetapi juga harus membangun kehidupan yang layak di dunia. Ia membutuhkan kesunyian untuk bermunajat, tetapi juga perlu hadir dalam kehidupan sosial yang nyata. Mungkin yang paling penting bukan memilih salah satu di antara keduanya, tetapi memastikan bahwa dunia tidak membuat kita lupa arah pulang. Dunia tetap dijalani dengan sungguh-sungguh, tetapi hati tetap tertambat pada nilai-nilai yang lebih tinggi.
Lebaran adalah saat yang tepat untuk menata ulang kompas kehidupan itu. Kita memaafkan kesalahan masa lalu, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperbarui niat untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Dunia tetap kita jalani, tetapi dengan kesadaran bahwa setiap langkah di dalamnya adalah bagian dari perjalanan menuju akhirat. Barangkali di situlah makna keseimbangan yang sebenarnya: dunia menjadi tempat kita bekerja dan berbuat baik, sementara akhirat menjadi tujuan yang memberi arah pada semua usaha itu. Tanpa dunia, kita tidak punya tempat untuk beramal. Tanpa akhirat, kita kehilangan alasan mengapa semua itu harus dilakukan.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah. Semoga meja penjamuan hari raya lebaran kali ini menjadi tempat lahirnya hikmah, bukan hanya tempat habisnya berbagai makanan yang disajikan.
*Ketua Ikatan Alumni Fakultas Humaniora, Mahasiswa Doktor Studi Islam UNUJA Paiton, dan Dosen Ma’had Aly Annur 2 Al-Murtadlo





