HUMANIORA – (23/4/2026) Sosok Lulut Edi Santoso tampil kuat dalam Seminar Nasional Filologi sebagai figur yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menghidupkan kembali relasi emosional antara manusia dan manuskrip Nusantara. Pendiri Perpustakaan Sejarah dan Budaya Puspa Lulut ini mengajak generasi muda untuk tidak sekadar mempelajari naskah kuno, melainkan membaca ulang dan memaknainya sebagai bagian dari kehidupan yang terus bergerak.
Baca juga:
- Dari Gagasan ke Gerakan: Jejak Kartini dalam Sejarah Perempuan Indonesia
- Melejit! Dosen BSA UIN Malang Tempati Peringkat Teratas Author SINTA Score 3Yr
Dalam pemaparannya, Lulut membuka dengan kisah personal tentang awal mula kecintaannya pada dunia literasi. Ia menuturkan bahwa kebiasaan membaca telah tertanam sejak kecil berkat peran keluarga, khususnya ibunya. Kedekatan dengan buku sejak dini membawanya menempuh perjalanan panjang menelusuri manuskrip ke berbagai daerah di Indonesia. Dari pengalaman tersebut, ia membangun pandangan bahwa manuskrip bukan sekadar benda mati, tetapi ruang hidup yang menyimpan jejak peradaban.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa manuskrip Nusantara merupakan warisan literal yang mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari keagamaan, sosial, sastra, hingga praktik keseharian seperti pengobatan tradisional dan pertanian. Perspektif ini memperlihatkan bahwa manuskrip bukan hanya teks, melainkan representasi utuh dari cara berpikir dan pola hidup masyarakat masa lalu.
Namun, Lulut juga mengkritisi cara pandang masyarakat yang masih keliru dalam memperlakukan manuskrip. Ia menyoroti adanya kecenderungan untuk menyakralkan tanpa memahami, atau sebaliknya, mengabaikan bahkan memusnahkan naskah kuno. Padahal, menurutnya, banyak pengetahuan berharga yang tersimpan di dalam manuskrip dan berpotensi hilang jika tidak dirawat dengan baik.
Dalam konteks akademik, ia menekankan pentingnya penguasaan kemampuan membaca aksara seperti Arab, Pegon, maupun aksara lokal sebagai pintu masuk memahami teks. Tidak berhenti di situ, mahasiswa juga dituntut untuk melakukan interpretasi kontekstual agar manuskrip dapat dihidupkan kembali dan relevan dengan perkembangan zaman.

Sesi seminar semakin menarik ketika Lulut menghadirkan manuskrip secara langsung. Mahasiswa diberi kesempatan untuk membaca naskah fisik yang dibawanya, menciptakan pengalaman belajar yang aplikatif. Interaksi ini menegaskan bahwa filologi bukan sekadar kajian teoritis, melainkan praktik hidup yang membutuhkan ketekunan dan kepekaan.
Ia juga memperkenalkan kerangka dasar dalam memahami manuskrip, mulai dari identifikasi material, teknik penulisan, jenis aksara, hingga fungsi teks. Penjelasan ini dilengkapi dengan penekanan pada pentingnya metadata manuskrip sebagai kunci untuk memahami konteks historis dan kultural sebuah naskah.
Dalam salah satu pernyataannya, Lulut menyampaikan bahwa mencintai manuskrip membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan proses yang berulang. Baginya, filologi adalah kerja yang menuntut komitmen jangka panjang, bukan sekadar aktivitas akademik sesaat.

Menariknya, sesi ini juga diperkuat dengan testimoni dari alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang pernah belajar langsung darinya. Alumni tersebut membagikan pengalaman menyusun skripsi berbasis manuskrip tafsir Nusantara, mulai dari proses pencarian data hingga pendampingan intensif. Kisah ini menunjukkan bahwa kajian manuskrip tidak berhenti di forum seminar, tetapi berlanjut dalam praktik akademik yang nyata.
Kegiatan yang berlangsung lebih dari tiga jam di Gedung Oesman Mansur ini menghadirkan pengalaman intelektual sekaligus reflektif bagi peserta. Tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membangun kesadaran baru bahwa manuskrip Nusantara adalah warisan hidup yang perlu dibaca ulang, dipahami, dan dilestarikan oleh generasi masa kini. [dee/Infopub]






3 Responses
Alhamdulillah. Tulisan luar biasa detai. Semoga menular kepada adik-adik mahasiswa UIN Malang dan lainya
Alhamdulillah tulisan Dr. Diny luar biasa menarik dan detail. Pantas dicontoh adik adik mahasiswa dan penulis media lainya
*Alhamdulillah tulisan Dr. Diny luar biasa menarik dan detail. Pantas dicontoh adik adik mahasiswa dan penulis media lainya