HUMANIORA – (29/7/2026) Isu perempuan di dunia Arab kerap dipahami melalui sudut pandang yang dipengaruhi berbagai stereotip dan narasi global. Padahal, sejarah gerakan perempuan di Timur Tengah memiliki konteks sosial, politik, budaya, dan keagamaan yang khas. Memahami dinamika tersebut menjadi penting agar wacana mengenai feminisme di kawasan ini tidak disederhanakan hanya melalui perspektif Barat.
Baca juga:
Pandangan tersebut menjadi salah satu fokus kajian M. Anwar Mas’adi, M.A., dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam membedah buku Neraka di Harem, terjemahan autobiografi tokoh feminis Mesir, Huda Sha’rawi, 19 Juni 2026, di Ruang Baca dan Toko Buku Rendezvous Kalimetro, Kota Malang. Melalui pendekatan sejarah, budaya, dan kajian Timur Tengah, Anwar mengajak pembaca melihat perjalanan gerakan perempuan Arab secara lebih komprehensif dan kontekstual.

Menurut Anwar, Neraka di Harem bukan sekadar kisah hidup seorang perempuan Mesir, melainkan dokumen sejarah yang merekam pergulatan masyarakat pada masa kolonialisme, modernisasi, dan transformasi sosial di awal abad ke-20. Pengalaman hidup Huda Sha’rawi memperlihatkan bagaimana perempuan tidak hanya menjadi saksi perubahan, tetapi juga tampil sebagai aktor yang berkontribusi dalam membentuk arah perkembangan masyarakat.
Melalui autobiografi tersebut, pembaca dapat memahami bahwa perjuangan perempuan di Timur Tengah lahir dari realitas sosial yang kompleks. Isu-isu seperti pendidikan, kebangsaan, partisipasi publik, dan kebebasan sipil menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan emansipasi perempuan di kawasan tersebut. Karena itu, menurut Anwar, memahami feminisme Arab memerlukan pembacaan yang mempertimbangkan konteks sejarah dan budaya tempat gagasan tersebut berkembang.

Ia menegaskan bahwa feminisme di dunia Arab memiliki karakteristik yang berbeda dengan tradisi feminisme Barat. Gerakan yang dipelopori Huda Sha’rawi tidak semata-mata berorientasi pada kesetaraan gender, tetapi juga berkaitan erat dengan perjuangan membangun bangsa, meningkatkan akses pendidikan, serta memperluas ruang partisipasi perempuan dalam kehidupan sosial dan politik. Perspektif inilah yang dinilai penting untuk dipahami agar masyarakat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai sejarah perempuan di Timur Tengah.
Kajian terhadap Neraka di Harem juga menunjukkan pentingnya penerjemahan karya-karya intelektual sebagai jembatan pertukaran gagasan lintas budaya. Melalui proses penerjemahan, pengalaman sejarah perempuan Mesir dapat diakses oleh pembaca Indonesia, sekaligus membuka ruang dialog mengenai berbagai persoalan yang masih relevan hingga saat ini.
Di sisi lain, pemikiran Huda Sha’rawi tetap memiliki relevansi dalam membaca tantangan perempuan kontemporer. Berbagai isu seperti akses pendidikan, kesempatan berpartisipasi di ruang publik, hingga penguatan kapasitas perempuan dalam berbagai bidang menunjukkan bahwa perjuangan mewujudkan masyarakat yang lebih adil masih terus berlangsung. Membaca karya-karya klasik semacam ini menjadi cara untuk memahami akar historis berbagai persoalan sekaligus merefleksikan tantangan yang dihadapi masa kini.
Bagi Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kajian terhadap karya sastra dan autobiografi tokoh dunia merupakan bagian dari pengembangan ilmu humaniora yang menghubungkan sejarah, budaya, bahasa, dan pemikiran sosial. Pendekatan interdisipliner semacam ini memungkinkan lahirnya pemahaman yang lebih mendalam terhadap berbagai fenomena global yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Keterlibatan akademisi dalam ruang-ruang literasi juga mencerminkan komitmen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kepakaran dosen tidak hanya diwujudkan melalui pendidikan dan penelitian, tetapi juga melalui diseminasi gagasan yang mendorong lahirnya masyarakat yang lebih kritis, terbuka, dan berwawasan global. Melalui kajian terhadap Neraka di Harem, Fakultas Humaniora kembali menegaskan bahwa ilmu humaniora memiliki peran strategis dalam membangun pemahaman lintas budaya dan memperkaya perspektif masyarakat terhadap isu-isu global. Dengan menghadirkan pembacaan yang berbasis sejarah, budaya, dan kajian kawasan Timur Tengah, akademisi Humaniora berupaya menghadirkan diskursus yang lebih objektif, inklusif, dan berlandaskan tradisi keilmuan yang kuat. [Sof/Infopub]





