MIU Login

Dari Rajah Lokal ke Realitas Global: Manuskrip Nusantara Dibaca Ulang di Kampus

HUMANIORA – (22/4/2026) Kesadaran baru terhadap pentingnya pelestarian manuskrip Nusantara kembali digaungkan melalui Seminar Nasional Filologi yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (20/4/2026). Bertempat di Ruang Teater Gedung Oesman Mansur lantai 3, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, Lulut Edi Santoso dan Achmad Diny Hidayatullah, serta diikuti oleh mahasiswa, komunitas pemerhati manuskrip seperti MANASSA, dan masyarakat umum.

Baca juga:

Mengusung tema “Manuskrip Nusantara dalam Lintasan Tradisi: dari Rajah Lokal hingga Warisan Peradaban Global”, seminar ini menegaskan bahwa manuskrip tidak lagi dipandang sekadar artefak masa lalu yang statis. Sebaliknya, manuskrip diposisikan sebagai sumber pengetahuan dinamis yang relevan dengan perkembangan zaman dan berpotensi memberikan kontribusi dalam wacana global.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh menurunnya minat generasi muda terhadap literasi manuskrip serta belum optimalnya pengelolaan khazanah pernaskahan Nusantara. Dalam konteks ini, kampus hadir sebagai ruang strategis untuk menjembatani warisan intelektual masa lalu dengan kebutuhan masa depan melalui pendekatan akademik yang kontekstual.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Humaniora, Halimi Zuhdi, yang menekankan pentingnya filologi dalam kajian Bahasa dan Sastra Arab. Ia menegaskan bahwa manuskrip Nusantara merupakan sumber pengetahuan yang harus dipelajari dan dilestarikan secara serius. Menurutnya, meskipun filologi bukan program studi tersendiri, mata kuliah ini memiliki posisi fundamental dalam membekali mahasiswa untuk memahami teks klasik secara komprehensif.

Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Diskusi berlangsung dinamis, melibatkan berbagai perspektif dari mahasiswa hingga pemerhati manuskrip. Pengalaman intelektual semakin diperkaya dengan praktik langsung membaca manuskrip, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Bahkan, nuansa kultural turut dihadirkan melalui penampilan tembang mocopat oleh salah satu peserta, yang memperkuat keterhubungan antara tradisi lokal dan kajian akademik.

Secara substansial, seminar ini menggarisbawahi dua arus besar, yakni lokalitas dan globalitas. Manuskrip Nusantara tidak hanya merepresentasikan nilai-nilai lokal yang kaya, tetapi juga memiliki peluang untuk berkontribusi dalam percakapan global. Dalam perspektif ini, filologi berfungsi sebagai jembatan peradaban yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang. Perwakilannya, Hartono, menyampaikan apresiasi sekaligus komitmen untuk membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam pelestarian manuskrip, khususnya yang tersebar di wilayah Kabupaten Malang. Ia menekankan bahwa sinergi antara kampus, pemerintah, dan komunitas menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.

Melalui seminar ini, Fakultas Humaniora tidak hanya menghadirkan ruang diskusi akademik, tetapi juga menginisiasi gerakan kolektif dalam membaca ulang manuskrip Nusantara secara lebih kritis dan kontekstual. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan berkembang menjadi agenda yang lebih progresif, seperti pameran manuskrip lintas daerah, sehingga warisan intelektual bangsa tidak hanya terjaga, tetapi juga semakin dikenal di tingkat nasional maupun global. [dee/Infopub]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait