HUMANIORA – (2/10/2026) Pengalaman belajar dalam program internasional tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Bagi peserta International Youth-Enhancing Study (I-YES) 2026 Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengenal Indonesia juga dilakukan melalui interaksi langsung dengan ruang budaya, masyarakat, dan destinasi wisata.
Baca juga:
- Belajar Kompak lewat Tantangan, Peserta I-YES 2026 Jalani Outbound di Bedengan
- Ikuti MAESTRO Dies Maulidiyah, Humaniora Bagikan Buku Karya Dosen dan Mahasiswa
Semangat tersebut hadir dalam rangkaian hari keempat I-YES 2026 saat para peserta mengunjungi Jatim Park 2, Kota Batu, Kamis (1/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pengalaman lintas budaya yang dirancang untuk mempertemukan peserta internasional dengan berbagai sisi kehidupan dan lingkungan wisata di Malang Raya.
Kunjungan tersebut terlaksana melalui kerja sama Fakultas Humaniora dengan mitra fakultas, Dinas Pariwisata Kota Batu, yang turut memfasilitasi tiket masuk bagi peserta I-YES 2026. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana program internasional perguruan tinggi dapat membangun keterhubungan dengan ekosistem pariwisata daerah sekaligus memperkenalkan potensi Kota Batu kepada mahasiswa dari berbagai negara.

Jatim Park 2 menjadi salah satu destinasi yang memberikan pengalaman berbeda bagi peserta setelah sebelumnya mengikuti berbagai aktivitas dalam rangkaian I-YES 2026. Setibanya di lokasi, peserta mengeksplorasi kawasan kebun binatang dan melihat berbagai jenis satwa. Jatim Park 2 sendiri mencakup Batu Secret Zoo dan Museum Satwa serta sejumlah pengalaman dan wahana yang memadukan unsur edukasi dan rekreasi.
Peserta tampak antusias mengikuti perjalanan dari satu area ke area lainnya. Mereka mengamati satwa, berbincang dengan teman dari negara berbeda, sekaligus mengabadikan berbagai momen selama kunjungan.
Pengalaman kemudian berlanjut dengan mencoba sejumlah wahana. Peserta menikmati berbagai aktivitas, mulai dari perahu hingga wahana lainnya yang tersedia di kawasan Jatim Park 2. Aktivitas tersebut menghadirkan suasana yang lebih cair setelah peserta menjalani beberapa hari dengan agenda akademik dan interaksi budaya. Ruang informal semacam ini memiliki nilai tersendiri. Perjumpaan tidak hanya berlangsung ketika peserta mengikuti forum atau sesi akademik, tetapi juga ketika mereka berjalan bersama, mencoba wahana, saling berbincang, dan berbagi pengalaman.
Salah satu peserta I-YES 2026, Caca, mengaku memiliki pengalaman nostalgia ketika kembali mengunjungi Jatim Park 2. Ia terakhir kali berkunjung sekitar 2019. Meski sebelumnya pernah datang, kunjungan kali ini menghadirkan pengalaman yang berbeda karena dilakukan bersama teman-teman baru yang ditemuinya dalam program I-YES.
“Nostalgic sih, karena last time I visited around 2019. Jadi ke sini lagi itu udah lupa kan, meskipun udah pernah ke sini. It feels new, dan juga bener-bener seneng banget karena banyak temen,” ujar Caca.
Bagi Caca, keberadaan berbagai jenis satwa menjadi salah satu hal menarik dalam kunjungan tersebut.
“Hewan-hewan di Jatim Park 2 banyak banget and worth it to visit this place,” tambahnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sebuah destinasi dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan pengalaman personal dengan pengalaman sosial. Tempat yang sebelumnya pernah dikunjungi dapat terasa berbeda ketika dijelajahi bersama orang-orang baru dari latar budaya yang berbeda.
Bagi peserta internasional, pengalaman semacam ini juga menjadi bagian dari proses mengenal Indonesia melalui pengalaman sehari-hari. Indonesia tidak hanya hadir melalui materi yang disampaikan dalam forum akademik, tetapi juga melalui ruang rekreasi, interaksi sosial, keramahan, serta pengalaman bersama.
Keterlibatan Dinas Pariwisata Kota Batu dalam memfasilitasi tiket masuk peserta menjadi bagian penting dari penyelenggaraan I-YES 2026. Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa internasionalisasi pendidikan dapat dikembangkan melalui jejaring lintas sektor. Bagi Fakultas Humaniora, hubungan dengan mitra daerah bukan sekadar dukungan teknis terhadap kegiatan, tetapi dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan diplomasi masyarakat.
Kota Batu memiliki ekosistem pariwisata yang menjadi bagian penting dari identitas daerah. Pemerintah Kota Batu juga secara kelembagaan terus mendorong pengembangan sektor pariwisata dan sinergi berbagai pemangku kepentingan di dalamnya.
Dalam konteks tersebut, membawa peserta I-YES mengenal destinasi Kota Batu memberikan manfaat dua arah. Peserta internasional memperoleh pengalaman langsung mengenai salah satu destinasi wisata Jawa Timur, sementara daerah memperoleh ruang untuk memperkenalkan potensi wisatanya kepada generasi muda dari berbagai negara. Di sinilah program internasional perguruan tinggi dapat berkembang menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat.
Bagi Fakultas Humaniora, pengalaman di Jatim Park 2 menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran yang lebih luas. Pendidikan humaniora tidak hanya berbicara mengenai bahasa, sastra, dan budaya sebagai objek kajian, tetapi juga tentang bagaimana manusia berinteraksi, memahami perbedaan, dan membangun hubungan dalam kehidupan bersama.
Ketika peserta dari berbagai negara menghabiskan waktu bersama, mereka belajar mengenali kebiasaan dan perspektif satu sama lain melalui pengalaman yang sederhana. Percakapan di perjalanan, aktivitas bersama, hingga pengalaman mencoba wahana menjadi bagian dari proses membangun kedekatan.

Pengalaman semacam itu memiliki dimensi internasional yang penting. Para peserta nantinya tidak hanya mengingat materi akademik yang mereka peroleh selama I-YES, tetapi juga pengalaman tentang Indonesia yang mereka rasakan secara langsung. Pengalaman tersebut dapat menjadi bentuk diplomasi budaya berbasis pengalaman. Peserta menjadi bagian dari perjalanan untuk mengenal Indonesia secara lebih dekat dan membawa pengalaman tersebut ketika kembali ke lingkungan masing-masing.
Setelah sebelumnya menikmati aktivitas bersama di Bedengan, kunjungan ke Jatim Park 2 memberikan ruang bagi peserta untuk menikmati suasana yang lebih santai. Bagi Caca, pengalaman tersebut bahkan mengingatkannya pada masa kecil—ketika bermain bersama teman dan menikmati waktu tanpa harus terus berhadapan dengan layar telepon.
Momen tersebut menjadi bagian dari perjalanan I-YES yang tidak kalah penting dibandingkan agenda formal. Di tengah jadwal akademik dan budaya yang padat, peserta membutuhkan ruang untuk membangun relasi secara natural.
Dari perspektif program, pengalaman informal tersebut memperkuat tujuan I-YES sebagai ruang perjumpaan. Peserta tidak hanya datang sebagai individu dari negara yang berbeda, tetapi perlahan membangun komunitas melalui pengalaman yang mereka jalani bersama.
Kunjungan ke Jatim Park 2 pada akhirnya bukan sekadar agenda rekreasi. Ia menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran lintas budaya yang menghubungkan mahasiswa internasional dengan lingkungan Kota Batu, mempertemukan kampus dengan mitra daerah, serta membuka ruang bagi pengenalan Indonesia melalui pengalaman langsung. Bagi Fakultas Humaniora, pengalaman tersebut menjadi salah satu cara menghadirkan internasionalisasi yang hidup: belajar melalui perjumpaan, memahami keberagaman melalui pengalaman, dan membangun jejaring melalui kolaborasi. Ketika peserta I-YES 2026 meninggalkan Kota Batu, yang dibawa pulang bukan hanya foto dan kenangan perjalanan, tetapi juga pengalaman tentang Indonesia, persahabatan lintas budaya, serta cerita yang dapat mereka bagikan kembali di negara masing-masing. [alv-al/Infopub]





