HUMANIORA – (1/9/2026) Manuskrip pesantren tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, tetapi merupakan rekaman kehidupan intelektual, tradisi keilmuan, dan proses pembentukan jati diri Islam Nusantara. Perspektif tersebut disampaikan Prof. Dr. M. Faisol Fatawi, M. Ag. dalam Seminar Turots Internasional bertajuk “Khidmah Turots & Keberlangsungan Estafet Keilmuan Ulama Nusantara” yang berlangsung pada Ahad, 30 Agustus 2026 di Aula MAN 3 Jombang, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Baca juga:
Dalam forum yang menjadi bagian dari rangkaian Turots di Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama tersebut, Prof. Faisol mengangkat tema “Manuskrip Pesantren dan Jati Diri Islam Nusantara”. Ia menempatkan manuskrip pesantren sebagai salah satu pintu penting untuk memahami bagaimana Islam berkembang, berinteraksi dengan kebudayaan lokal, serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, manuskrip tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah sosial dan intelektual masyarakat pesantren.

Salah satu gagasan utama yang disampaikan adalah bahwa manuskrip merupakan rekaman kehidupan intelektual. Di dalamnya tersimpan teks, memori, dan konteks yang dapat memperlihatkan cara ulama dan masyarakat pada masa lalu memahami agama serta merespons lingkungan sosialnya. Karena itu, manuskrip pesantren memiliki nilai yang melampaui aspek kebendaan. Ia menjadi sumber untuk menelusuri gagasan, praktik keagamaan, tradisi intelektual, hingga hubungan antara ulama, santri, pesantren, dan masyarakat.
Prof. Faisol juga mengajak peserta melihat pesantren sebagai ekosistem pengetahuan. Dalam ekosistem tersebut berlangsung proses transmisi pengetahuan yang melibatkan ulama, kitab, santri, pesantren, dan masyarakat. Manuskrip menjadi salah satu medium penting dalam proses tersebut. Pengetahuan tidak berhenti pada teks, melainkan mengalami pembacaan, pengajaran, penafsiran, dan transformasi sehingga dapat terus hidup dalam konteks masyarakat yang berubah.

Lebih jauh, ia menunjukkan bahwa manuskrip pesantren memiliki sejumlah lapisan yang dapat dibaca untuk memahami karakter Islam Nusantara. Aksara Pegon dan strategi penerimaan Islam, misalnya, memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan Islam berinteraksi dengan bahasa dan budaya lokal. Demikian pula iluminasi, ilustrasi, dan berbagai unsur artistik dalam manuskrip menunjukkan adanya kreativitas lokal yang mempertemukan estetika dengan spiritualitas. Manuskrip dengan demikian menjadi ruang perjumpaan antara teks keagamaan, bahasa, budaya, seni, dan pengalaman masyarakat Nusantara.
Menurut Prof. Faisol, upaya menjaga manuskrip tidak boleh berhenti pada penyelamatan fisik atau digitalisasi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana manuskrip tersebut dibaca kembali dan dihidupkan maknanya. Ia menawarkan agenda “Preserve → Interpret → Activate”: manuskrip perlu diselamatkan dan didigitalisasi, kemudian diinterpretasikan secara kontekstual, sebelum akhirnya diaktifkan kembali sebagai sumber pengetahuan bagi kehidupan masa kini. Dengan pendekatan ini, manuskrip tidak menjadi benda kuno yang hanya disimpan, tetapi dapat kembali berkontribusi dalam membangun pengetahuan dan identitas masyarakat.
Gagasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa memahami masa lalu merupakan bagian penting dari mempersiapkan masa depan. “Memahami masa lalu adalah perisai masa depan” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam presentasi Prof. Faisol. Melalui manuskrip pesantren, generasi masa kini dapat mengenali jejak kreativitas, adaptasi, dan tradisi keilmuan ulama Nusantara sekaligus menemukan kembali sumber-sumber pengetahuan yang dapat memperkuat jati diri Islam Nusantara di tengah perubahan zaman. [sof/Infopub]





